POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Bingung

Don ZakiyamaniOleh Don Zakiyamani
July 31, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Belakangan ini semakin banyak manusia menulis menggunakan AI. Tulisannya rapi dan eksotik, kesan intelektualnya sangat tampak. Gaya penulisan dan narasi yang disampaikan runut. Serba sempurna.

Namun bagi kita yang biasa membaca dengan proses memahami, tulisan-tulisan itu tidak bernyawa. Bisa kita tebak, tulisan itu tidak melalui proses debat dalam diri penulis. Kalaupun ada debat, itu hanya soal penempatan ide yang mana yang harus diekstrak AI menjadi karya.

Tentu saja tidak ada larangan menulis dengan bantuan AI. 90 persen bahkan 100 karya AI sekalipun tidak masalah. Belum ada regulasi yang melarang. Ini mirip kasus belum haramnya tuak sebelum ada larangan jelas dan tegas.

Bagi penulis tradisional yang hanya mengandalkan bacaan terbatas, amatan wajar, rasa seadanya, munculnya karya AI yang tampak sempurna itu bisa jadi masalah baru. Bagi mereka, sulit mengimbangi kesempurnaan karya AI tersebut. Maklum saja, AI ketika menguraikan ide usernya tidak merasakan lapar, haus, marah, sedih, atau rasa yang dirasakan manusia. AI fokus menuliskan berdasarkan data kemudian menguraikannya.

Secara personal saya sering debat dengan AI. Saya sering mempersoalkan respon AI. Bila jeli, kita akan dapati pola respon yang berulang meski sistematis. Pola yang paling sering dilakukan AI misalnya di akhir responnya akan bertanya tindak lanjut. Ketika saya berikan kritik sesuatu, AI menawarkan “mau dijadikan esai, artikel dan sejenisnya”.

Respon itu saya kritik, karena dia tidak bisa marah maka AI hanya katakan “maaf, selanjutnya saya tidak akan tawarkan hal demikian lagi”, respon AI.

Menganalisis kinerja AI saya menjadi tahu mengapa banyak penulis “menetek” pada AI. Dan karena sering menganalisis AI, saya jadi tahu karya AI pakai nama manusia. Mudah sekali mengenali karya AI bila kita sering berinteraksi dan diskusi dengan AI. We don’t need another machine to identify it.

Namun saya punya saran kepada kita semua, terutama penulis, gunakan AI sebagai alat jangan malah diperalat AI. Meski AI bagi sebahagian kita sudah mirip berhala di masa lalu. Bertanya segala hal, sampai lupa bahwa jawaban AI adalah empiris di masa lalu. Dilalui dan dijalani orang terdahulu. Kebenaran korespondensi dijadikan koheren karena manusia pasif merespon jawaban AI.

📚 Artikel Terkait

Sang Penerang Hati

Seni, Kerukunan, dan Tanggung Jawab Pekerja Kreatif

Ngopi: Membumikan Interaksi yang Mengudara

Sepeda

Ini tidak sehat secara intelektual.Tanpa kreasi dan inovasi manusia, AI akan berhenti. Sesuatu yang harusnya dialektika, berakhir pada satu jalan. Anda tidak akan benar-benar belajar menyusun pikiran Anda sendiri dalam bentuk lisan maupun tulisan. AI itu ibarat kita membaca banyak sumber bacaan dan data kemudian mengembangkan kemungkinan jawaban ketika diajukan pertanyaan.

Karenanya, Anda akan kehilangan otentisitas diri. Meski ribuan tulisan Anda hasilkan, tetap saja Anda tidak mendapatkan makna tulisan itu. AI ketika ditanya kapan Indonesia merdeka, akan menjawab tanggal dan bulan serta tahun.

Kita seharusnya tidak demikian ketika ditanya kapan Indonesia merdeka. Kita dapat menggunakan hasil tadarus pemikiran diri dan tokoh pemikir. Kita boleh menjawab, Indonesia merdeka ketika keadilan dan kesejahteraan rakyat terjadi atas kontribusi pemerintah.

Kolonialisme itu bukan soal negara A menguasai negara B. Lebih dalam dari itu, ketika sekelompok kecil menguasai sumber-sumber daya bagi orang banyak, itu pun dapat dimaknai sebagai kolonialisme. Apalagi jika mesin (AI) menguasai diri kita, itu juga kolonialisme secara subtansi.

Ketika media sosial, gadget, dan karya kapitalisme beredar di pasar, kita terpaksa menuruti keinginan mereka. Ini juga penjajahan yang diizinkan oleh yang terjajah. Semakin banyak user karya mereka, semakin bertambah pundi-pundi mereka.

User yang bias kognitif membantah, tidak! Saya hanya gunakan medsos untuk hal berguna. Pertanyaan kedua hadir, manfaat bagi siapa? Bolehlah bila itu untuk jualan, alias iklan. Entah itu iklan barang dan jasa, maupun iklan ide dan gagasan. Namun seberapa sering itu kita lakukan dibandingkan hal lain yang hanya memperkaya para pemilik media sosial.

Seberapa sering kita memberi pencerahan melalui produk-poduk kapitalisme?Tulisan ini merupakan produk kebingungan saya atas bias kognitif dan budaya kita. Saat hakim memvonis Tom dengan dalih pro-kapitalisme, kita wajib bertanya, apakah hari ini tidak ada yang terpapar dengan kapitalisme.

Seberapa sering para penentang kapitalisme malah ikut memperkaya mereka dengan membeli data internet demi nonton video atau bahkan live di media sosial kapitalis? bahkan negara memberi karpet merah kepada kapitalisme.

Ini adalah contoh tulisan ketika bingung ingin menulis apa. Para pembaca jangan marah apabila judul tidak sesuai isi. Pesan yang ingin saya sampaikan, keluar dari idols of mind, dekonstruksi setiap makna, temukan tesis dan anti tesis pikiran kita serta sintesisnya. Tetaplah menjadi manusia.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Don Zakiyamani

Don Zakiyamani

Penikmat kopi tanpa gula

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah

Mengharmonikan Rasionalitas dan Agama: Tuntunan Hidup Bermakna di Era Modern

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00