• Latest

Belajar Hidup dari Harimau

Juli 27, 2025
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Belajar Hidup dari Harimau

Rosadi Jamaniby Rosadi Jamani
Juli 27, 2025
Reading Time: 3 mins read
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Ini bukan tentang Harimau Malaya. Ini tentang harimau benaran. Hewan yang hampir punah. Kali ini saya mau ngulik si loreng. Bahas tentang manusia, biasa! Sekali-kali tentang binatang berkaki empat, bukan kaki dua. Siapkan kopi tanpa gulanya, wak!

Setiap 29 Juli, manusia sedunia mendadak cinta harimau. Mereka berswafoto di depan poster loreng, mengunggah kalimat manis seperti, “Selamat Hari Harimau Sedunia,” lalu… lanjut membuka lahan. Tahun ini temanya begitu adiluhung: “Hidup Berdampingan Secara Harmonis antara Manusia dan Harimau.” Ah, harmoni. Seperti kodok dan blender. Sungguh menyentuh hati. Harimau pasti terharu, lalu terkapar di pinggir hutan.

Mari kita bicara data. Di Indonesia, sang harimau sumatra, satu-satunya subspesies harimau yang tersisa, tinggal sekitar 603 ekor. Angka ini lebih sedikit dari jumlah reseller skincare per kelurahan. Mereka tersebar di 23 kantong habitat di Sumatra. Statusnya? Critically Endangered, alias tinggal satu tarikan napas dari status “selamat tinggal.”

Baca Juga

db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026

Dua saudara kandungnya, harimau jawa dan harimau bali, telah kita antar ke liang sejarah. Tanpa upacara. Tanpa spanduk. Cukup dengan perambahan hutan dan peluru murah. Kita manusia memang mahir mencintai sesuatu setelah mereka tiada.

Sekarang, mari kita tengok negara-negara lain. India, sang mega-bintang konservasi, saat ini memelihara ±3.682 harimau di alam liar, sekitar 75% populasi dunia. Mereka tidak hanya membuat suaka margasatwa, tapi juga mempersenjatai polisi hutannya. Bahkan harimau di sana bisa punya nama panggilan dan penggemar. India tidak menyelamatkan harimau dengan kata-kata, tapi dengan kebijakan nyata.

Lalu ada Rusia, tempat ±750 harimau Siberia mengarungi salju dengan gagah. Sementara Nepal punya ±355 ekor harimau Bengal yang hidup berdampingan dengan penduduk desa yang justru melindunginya. Bhutan? Negara mungil ini menjaga ±131 ekor harimau, karena di sana harimau dianggap jelmaan dewa, bukan calon sepatu kulit.

Bangladesh masih punya 89–146 ekor harimau Bengal yang tersisa di delta Sundarbans. Malaysia, ya, tetangga sebelah, memelihara harimau Malaya, walau angkanya terus menurun seperti grafik saham habis kena rumor. Bahkan China punya ±60 ekor harimau Cina Selatan, saking langkanya, lebih susah ditemukan dari sinyal 5G di desa. Myanmar? Masih ada ±22 harimau Indocina yang selamat dari kudeta dan kerusakan habitat.

Kita? Ya, masih bangga menyebut harimau sumatra sebagai “warisan budaya,” tapi membiarkan habitatnya diserahkan ke pabrik sawit dan tambang nikel.

Kalimantan? Ah, tanah Borneo, surga tropis yang tanpa harimau. Secara ekologis, tak cocok katanya. Terlalu lembap, terlalu basah, terlalu penuh macan dahan. Bahkan di zaman Pleistosen, harimau sempat coba-coba masuk Kalimantan, tapi tampaknya mereka menyerah sebelum manusia sempat mengusir.

Beberapa suku Dayak masih menyimpan taring harimau sebagai pusaka. Namun ada kemungkinan besar, itu taring macan dahan. Atau taring kesedihan kolektif karena harimau hanya tinggal dalam legenda.

Tapi tenang. Kita masih bisa menyelamatkan gambar harimau. Kita jago bikin mural, patung, kaos, bahkan stiker WhatsApp. Kalau pun harimaunya punah, kita masih punya kenangan digital. Bukankah itu yang penting di zaman ini?

Selamat Hari Harimau Sedunia. Semoga tahun depan kita masih merayakan bersama loreng yang hidup, bukan hanya siluetnya di logo LSM.

Harimau tak pernah teriak di hutan lebat,
Langkahnya sunyi, tapi dunia tunduk hebat.
Tak butuh panggung, tak haus tepuk tangan,
Cukup cakar dan kehormatan yang dijaga tanpa beban.
Ia hidup bukan untuk menguasai tanah,
Tapi menjaga batas, tahu kapan diam dan marah.
Belajarlah, wahai manusia pencinta pangkat,
Bahwa kekuasaan sejati adalah tenang saat kuat.

Harimau tak pernah menebar janji di udara,
Ia menepati hidupnya tanpa drama dan kata-kata.
Tak menyalahkan ranting, tak menyumpahi badai,
Ia berjalan meski hutan makin tergerai.
Dari lorengnya kita belajar harmoni,
Antara kekuatan dan sunyi, antara marah dan kendali.
Kalau manusia mau sebijak si loreng itu,
Mungkin bumi tak sesesak, dan hutan tak semenderu.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 347x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 309x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 261x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 252x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah

Kejar Gelar Luar Negeri: Jalan Menuju Masa Depan atau Sekadar Prestise?

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com