POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Tuanku Abdul Hamid: Utusan Aceh yang Terlupakan

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.SiOleh Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si
July 23, 2025
Tuanku Abdul Hamid: Utusan Aceh yang Terlupakan
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh

Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh

Tuanku Abdul Hamid adalah figur sejarah yang memiliki peran penting dalam salah satu babak awal diplomasi antara Nusantara dan Eropa. Meskipun detail pribadinya tidak banyak tercatat dalam sejarah Eropa, ia dikenal sebagai utusan (duta besar) pertama Kesultanan Aceh Darussalam ke Belanda. Misinya bukan sekadar kunjungan kehormatan, melainkan upaya strategis untuk mengubah peta kekuatan di Asia Tenggara pada awal abad ke-17.

Pada awal abad ke-17, Kesultanan Aceh Darussalam di bawah kepemimpinan Sultan Alauddin Riayat Syah Sayyid al-Mukammal (berkuasa 1589-1604) adalah salah satu kekuatan maritim dan perdagangan terbesar di Asia Tenggara. Aceh, yang merupakan pusat rempah-rempah yang kaya, menghadapi ancaman dominasi dari Portugis, yang telah mendirikan benteng di Malaka dan berusaha mengontrol jalur perdagangan vital.

Sultan Alauddin Riayat Syah sangat menyadari perlunya aliansi untuk menyeimbangkan kekuatan Portugis. Ketika kapal-kapal dagang Belanda mulai muncul di perairan Nusantara, Sultan melihat peluang strategis. Belanda, yang juga tengah berperang melawan Spanyol dan Portugal di Eropa (Perang Delapan Puluh Tahun), memiliki kepentingan yang sama untuk melemahkan pengaruh Portugis di Asia.

Pada tahun 1602, Sultan Alauddin Riayat Syah memutuskan untuk mengirim misi diplomatik penting ke Belanda. Pilihan jatuh kepada Tuanku Abdul Hamid, seorang figur yang pastinya memiliki kepercayaan penuh dari Sultan dan dianggap mumpuni untuk mengemban tugas diplomatik yang krusial ini. Misi utamanya adalah untuk menjajaki kemungkinan aliansi politik dan perdagangan dengan Belanda, dengan tujuan bersama untuk mengusir Portugis dari wilayah tersebut.

Perjalanan ke Negeri Kincir Angin

Tuanku Abdul Hamid dan rombongannya memulai perjalanan panjang melintasi samudra yang penuh risiko. Mereka berlayar dengan dua kapal milik Belanda dari Zeeland, yang sebelumnya telah berhasil merebut kapal perang Portugis—sebuah simbol awal keberhasilan kerja sama maritim.

Pada Agustus 1602, setelah berbulan-bulan di laut, rombongan tersebut akhirnya tiba di Middelburg, ibu kota provinsi Zeeland, Belanda. Kedatangan mereka adalah peristiwa penting yang menarik perhatian besar. Delegasi dari negeri jauh di timur ini pastinya menjadi tontonan yang menarik bagi masyarakat Belanda saat itu.

📚 Artikel Terkait

Sambut Idulfitri 1442 H, DLHK3 Banda Aceh Kerahkan 150 Petugas Bersihkan Kota

Wakili Aceh ke Nasional, Siswi SMKN 2 Meulaboh Sabet Medali Emas di FLS2N Tingkat Provinsi

ASKARA TERAGUNG

Kota Madiun Menyibak Tenunan Kata yang Dirindukan Jiwa

Meninggal dan Pemakaman Kenegaraan 

Sayangnya, takdir berkata lain. Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan dan penuh tantangan, Tuanku Abdul Hamid jatuh sakit tak lama setelah tiba di Middelburg. Kondisi kesehatannya memburuk dengan cepat, dan ia akhirnya meninggal dunia pada 10 Agustus 1602, di usia 71 tahun.

Meskipun misinya belum sepenuhnya terlaksana, statusnya sebagai utusan Sultan Aceh yang penting sangat dihargai oleh pihak Belanda. Sebagai bentuk penghormatan dan pengakuan atas pentingnya misi diplomatik ini, Tuanku Abdul Hamid diberikan pemakaman kenegaraan yang sangat besar. Pangeran Maurits dari Nassau, pemimpin militer dan politik Belanda saat itu, bahkan hadir dalam upacara pemakaman tersebut. Ini menunjukkan betapa seriusnya Belanda memandang hubungan dengan Kesultanan Aceh.

Tuanku Abdul Hamid dimakamkan di pekarangan gereja tua St. Pieters (Oude Kerk Middelburg), Middelburg, Zeeland. Di nisan makamnya, terukir tulisan dalam bahasa Latin yang mengabadikan kisahnya: “Disini dimakamkan Abdul Hamid, kepala delegasi dari Sultan Alauddin Riayat Syah, Lillah Fil Alam. Utusan yang menemui Yang Mulia Prints Maurits dengan dua kapal Zeeuw, yang telah merampas kapal perang Portugis.”

Warisan Sejarah

Meskipun Tuanku Abdul Hamid tidak sempat melihat hasil penuh dari misi diplomatiknya, kehadirannya di Belanda dan pemakamannya yang istimewa menjadi bukti konkret dari hubungan diplomatik yang berani dan visioner antara Kesultanan Aceh dan negara Eropa pada abad ke-17. Ia adalah simbol dari kekuatan maritim dan kedaulatan Aceh yang tidak takut untuk menjalin kontak dengan kekuatan global. Kisahnya menyoroti bahwa Nusantara bukanlah wilayah yang pasif dalam sejarah dunia, melainkan pemain aktif dalam kancah geopolitik dan perdagangan internasional jauh sebelum era kolonialisme mencapai puncaknya.

Lukisan karya Charles Rochussen tahun 1854 ini menggambarkan momen bersejarah: pertemuan delegasi Kesultanan Aceh dengan Pangeran Maurits van Nassau di Belanda pada awal abad ke-17. Karya ini disimpan di Tropenmuseum, Amsterdam, dan menjadi simbol penting hubungan diplomatik antara dunia Timur dan Barat pada masa itu.

(Sumber: https://indonesia-zaman-doeloe.blogspot.com/2020/06/lawatan-delegasi-aceh-ke-belanda-1602-2.html)

Dalam lukisan tersebut, delegasi Aceh digambarkan mengenakan pakaian tradisional yang mencolok, berdiri dengan anggun di hadapan Pangeran Maurits dan para pejabat Belanda. Komposisinya menekankan rasa hormat dan keagungan, memperlihatkan bagaimana Aceh dipandang sebagai kekuatan maritim dan politik yang disegani.

(sumber: https://indonesia-zaman-doeloe.blogspot.com/2020/06/lawatan-delegasi-aceh-ke-belanda-1602-2.html)

Lukisan yang menggambarkan pertemuan delegasi Aceh dengan Pangeran Maurits, karya Charles Rochussen (1854), yang disimpan di Tropenmuseum.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 51x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si., adalah seorang akademisi dan peneliti yang memiliki keahlian di bidang antropologi, dengan fokus utama pada antropologi politik dan agama. Beliau saat ini aktif sebagai dosen di Universitas Malikussaleh, yang berlokasi di Lhokseumawe, Aceh. Selain mengajar, Dr. Al Chaidar juga aktif melakukan penelitian dan seringkali diundang sebagai narasumber atau pengamat untuk berbagai isu sosial, politik, dan keagamaan, terutama yang berkaitan dengan konteks Aceh dan Indonesia secara luas. Kontribusinya dalam pengembangan ilmu antropologi dan pemahaman isu-isu kontemporer di Indonesia sangat signifikan melalui karya-karya ilmiah dan keterlibatannya dalam diskusi publik.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Mengajarkan Anak Menjadi Manusia Seutuhnya

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00