POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Pembagian Wilayah Kerajaan Aceh Darussalam: Tiga Sagi dan Ratusan Mukim

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.SiOleh Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si
July 23, 2025
What is Scholasticide?
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh
Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh.

Pada masa Kerajaan Aceh Darussalam, terutama di wilayah inti Aceh Besar (dikenal juga sebagai Aceh Rayeuk), sistem pembagian wilayah utama yang terkenal adalah tiga sagi (Lhee Sagoë). Setiap sagi ini terdiri dari sejumlah mukim. Berikut adalah tiga sagi utama tersebut dan perkiraan jumlah mukim di dalamnya.


Sistem pemerintahan Kerajaan Aceh Darussalam sangat terstruktur, dengan mukim sebagai unit dasar pemerintahan adat dan keagamaan, yang kemudian dikelompokkan ke dalam sagi yang lebih besar, terutama di wilayah Aceh Besar. Sistem ini memastikan adanya otonomi lokal yang kuat sambil tetap berada di bawah kekuasaan Sultan.


Penting untuk memahami bahwa “Aceh” pada masa Kerajaan Aceh Darussalam adalah entitas yang jauh lebih luas daripada provinsi Aceh modern. Wilayah kekuasaannya membentang dari sebagian besar Pulau Sumatra hingga Semenanjung Melayu.

Oleh karena itu, jumlah pasti dan daftar lengkap semua mukim di seluruh wilayah tersebut sangat kompleks dan mungkin tidak tercatat secara detail dalam satu sumber tunggal, apalagi sebelum dicaplok Belanda.


Namun, kita bisa fokus pada sistem Sagi dan Mukim yang paling dikenal dan terstruktur, yaitu yang berada di wilayah inti Kerajaan Aceh Darussalam, yakni Aceh Besar (dikenal sebagai Aceh Rayeuk atau Aceh Lhee Sagoe).

Tiga Sagi Utama di Aceh Besar (Lhee Sagoë)
Wilayah Aceh Besar dibagi menjadi tiga federasi mukim yang dikenal sebagai Lhee Sagoë (Tiga Sagi). Masing-masing sagi ini memiliki pemimpinnya sendiri yang bergelar Panglima Sagoe dan juga memiliki peran penting dalam struktur kenegaraan.

📚 Artikel Terkait

Gagal Ginjal Akut dan Industri Makanan Anak: Antara Kelalaian dan Kejahatan Sistemik

Puisi-Puisi Nyakman Lamjame

Kenapa Pejabat Publik Jatuhnya Karena Perempuan?

Ilusi “Ekonomi Hijau” pada Kelapa Sawit

  1. Sagi XXII Mukim:
    Terdiri dari 22 mukim pada awalnya.
    Kepala Sagi bergelar Sri Muda Perkasa Panglima Polem Wazirul Azmi, yang juga menjabat sebagai Wazirud Daulah (Menteri Negara).
    Wilayahnya meliputi bagian timur hingga selatan Aceh Besar, termasuk daerah sekitar Montasik, Indrapuri, Seulimuem, Lembah Seulawah, hingga Padang Tiji di Kabupaten Pidie.
    Pusatnya berada di sekitar Masjid Indrapuri.
  2. Sagi XXV Mukim:
    Terdiri dari 25 mukim.
    Kepala Sagi bergelar Sri Seutia Ulama Kadli Malikul ‘Alam, yang juga diangkat sebagai Ketua Majelis Ulama Kerajaan.
    Wilayahnya mencakup Peukan Bada, Meuraxa, Lhoknga, hingga Lhong.
    Pusatnya berada di sekitar Masjid Indrapurwa Pancu (kini sering disebut Pancu).
  3. Sagi XXVI Mukim:
    Terdiri dari 26 mukim.
    Kepala Sagi bergelar Sri Imueum Muda Panglima Wazirul Uzza, yang juga menjabat sebagai Wazirul Harb (Menteri Urusan Peperangan).
    Wilayahnya meliputi kawasan Ulee Kareng, Lam Ateuk, Darussalam, Tungkop, hingga Ladong.
    Pusatnya berada di sekitar Masjid Ladong.

Total, di Aceh Besar saja terdapat sekitar 73 mukim yang tergabung dalam tiga sagi utama ini (22 + 25 + 26 mukim).

Mukim di Luar Tiga Sagi
Penting untuk diingat bahwa sistem mukim tidak terbatas hanya pada tiga sagi di Aceh Besar. Di luar wilayah Aceh Besar, Kerajaan Aceh Darussalam memiliki banyak mukim lain yang tersebar di seluruh wilayah kekuasaannya, yang luasnya mencakup sebagian besar Sumatera dan Semenanjung Melayu. Jumlah pasti mukim di seluruh Kerajaan Aceh Darussalam sulit ditentukan secara akurat karena data sejarah yang mungkin tidak lengkap dan wilayah kekuasaan yang dinamis.


Namun, mukim adalah unit pemerintahan adat dan keagamaan yang fundamental di seluruh Aceh, dan keberadaannya jauh lebih banyak daripada hanya 73 mukim di Aceh Besar. Setelah masa kolonial dan perubahan administratif, jumlah mukim sempat bertambah signifikan di beberapa daerah di luar Aceh Besar dan Pidie.


Secara keseluruhan, Kerajaan Aceh Darussalam adalah sebuah entitas politik yang kompleks dengan sistem pembagian wilayah yang unik, mencerminkan perpaduan antara struktur adat, keagamaan, dan militer yang kuat.


Penting untuk memahami bahwa “Aceh” pada masa Kerajaan Aceh Darussalam adalah entitas yang jauh lebih luas daripada provinsi Aceh modern. Wilayah kekuasaannya membentang dari sebagian besar Pulau Sumatra hingga Semenanjung Melayu. Oleh karena itu, jumlah pasti dan daftar lengkap semua mukim di seluruh wilayah tersebut sangat kompleks dan mungkin tidak tercatat secara detail dalam satu sumber tunggal, apalagi sebelum dicaplok Belanda.


Di luar tiga sagi utama di Aceh Besar, wilayah Kerajaan Aceh Darussalam yang luas juga memiliki banyak mukim yang tersebar di berbagai daerah taklukkan atau wilayah pengaruhnya. Mukim-mukim ini mungkin tidak tergabung dalam sistem “sagi” yang terpusat seperti di Aceh Besar, tetapi mereka tetap merupakan unit administratif dan keagamaan dasar.

Pesisir Timur Sumatra: Mukim-mukim akan ada di sepanjang pesisir timur yang merupakan jalur perdagangan penting bagi Aceh (misalnya di Langkat, Deli, hingga ke Tamiang).
Pesisir Barat Sumatra: Mukim-mukim juga tersebar di sepanjang pesisir barat (misalnya di Meulaboh, Tapaktuan, hingga ke Barus atau Pariaman yang pernah berada di bawah pengaruh Aceh).


Semenanjung Malaya: Di wilayah-wilayah yang dikuasai atau berada di bawah pengaruh Aceh di Semenanjung Malaya (seperti Perak, Kedah, Johor), sistem mukim juga kemungkinan besar diterapkan atau setidaknya ada unit-unit serupa yang berfungsi sebagai pusat keagamaan dan pemerintahan lokal.

Daftar spesifik nama setiap mukim di seluruh Kerajaan Aceh Darussalam sangat sulit ditemukan karena Wilayah kekuasaan Aceh yang sangat luas dan dinamis, seringkali berfluktuasi. Mukim memiliki otonomi yang cukup besar, sehingga tidak semua mukim dicatat secara rinci dalam arsip pusat kerajaan. Banyak catatan sejarah yang mungkin hilang atau belum ditemukan, terutama yang merinci struktur pemerintahan lokal di seluruh wilayah kerajaan.
Namun, yang jelas adalah bahwa sistem mukim merupakan tulang punggung pemerintahan adat dan keagamaan di seluruh wilayah Aceh sebelum kedatangan Belanda, dan tiga sagi di Aceh Besar adalah representasi paling terorganisir dari sistem tersebut.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si., adalah seorang akademisi dan peneliti yang memiliki keahlian di bidang antropologi, dengan fokus utama pada antropologi politik dan agama. Beliau saat ini aktif sebagai dosen di Universitas Malikussaleh, yang berlokasi di Lhokseumawe, Aceh. Selain mengajar, Dr. Al Chaidar juga aktif melakukan penelitian dan seringkali diundang sebagai narasumber atau pengamat untuk berbagai isu sosial, politik, dan keagamaan, terutama yang berkaitan dengan konteks Aceh dan Indonesia secara luas. Kontribusinya dalam pengembangan ilmu antropologi dan pemahaman isu-isu kontemporer di Indonesia sangat signifikan melalui karya-karya ilmiah dan keterlibatannya dalam diskusi publik.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Teuku Markam Saudagar Aceh Penyumbang Emas di Puncak Monas

Teuku Markam Saudagar Aceh Penyumbang Emas di Puncak Monas

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00