• Latest
Kenapa Warga Ramai Menolak Program Transmigrasi?

Kenapa Warga Ramai Menolak Program Transmigrasi?

Juli 17, 2025
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Kenapa Warga Ramai Menolak Program Transmigrasi?

Redaksiby Redaksi
Juli 17, 2025
Reading Time: 3 mins read
Kenapa Warga Ramai Menolak Program Transmigrasi?
592
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Lagi ramai aksi penolakan transmigrasi. Alasan sederhananya, orang lokal “dibiarkan.” Sementara pendatang (pindahan dari Jawa) diberikan aneka fasilitas. Alasan lainnya, memindahkan orang miskin ke tempat miskin. Benarkah demikian? Mari kita ungkap sambil seruput kopi tanpa gula, wak!

Pernahkah nuan membayangkan hidup di kampung sendiri, lalu suatu hari datang serombongan orang asing, bukan dari luar negeri, tapi dari pulau seberang, dan mereka tiba-tiba diberi tanah, rumah, lahan garapan, bahkan pembangunan jalan, sekolah, dan puskesmas? Semua oleh negara. Sementara pian, yang sudah tinggal di sana puluhan tahun, bahkan tak punya sertifikat tanah, apalagi fasilitas.

Inilah logika gila transmigrasi yang diwariskan dari zaman ketika pemimpin kita berpikir, “Orang miskin itu sumber masalah di kota, maka pindahkan mereka ke tempat sunyi agar tidak bikin ramai.” Maka berangkatlah mereka, para pahlawan kemiskinan, dikemas dalam truk, dilepas dengan bendera, dan disambut dengan janji-janji.

Tapi janji kepada siapa?

Karena yang menyambut dengan heran adalah warga lokal. Mereka heran bukan karena kedatangan saudara sebangsa, tapi karena negara yang selama ini tuli terhadap keluhan mereka, kini tiba-tiba royal luar biasa kepada pendatang. Negara berubah jadi Sinterklas, rumah papan dibangunkan, lahan dibagikan, pupuk dibantu, jalan dibuka. Sementara anak-anak mereka masih menyeberangi sungai dengan ban dalam untuk sekolah, dan jalan desa tetap becek sejak zaman penjajahan.

Ini bukan soal iri. Ini soal logika ketimpangan yang terang-benderang. Kenapa negara justru lebih peduli pada orang luar dari warga asli? Kenapa petani lokal harus membeli tanah sendiri, tapi transmigran dari Jawa langsung dapat hak garap? Kenapa warga lokal butuh bertahun-tahun mengurus sertifikat, tapi pendatang langsung difasilitasi?

Transmigrasi jadi ladang ketegangan sosial. Bukan karena warganya jahat, tapi karena sistemnya memang sembrono. Pemerintah datang ke daerah yang sudah miskin, lalu mendatangkan kemiskinan baru, dan berharap semuanya akan makmur bersama. Padahal yang terjadi justru kompetisi dalam keterbatasan. Dua kelompok miskin disuruh berebut tanah, pupuk, dan akses air. Siapa yang menang? Tentu yang lebih disayang negara.

Lihat di Kalimantan. Banyak lokasi transmigrasi yang gagal bukan cuma karena tanahnya rawa atau bebatuan, tapi karena warga lokal merasa ditinggalkan dalam pembangunan. Di Rasau Jaya, konflik agraria masih menyala. Di Gorontalo, tanah diberikan tanpa kejelasan hukum. Di Donggala, warga lokal sendiri menolak lokasi transmigrasi karena berbahaya dan tak layak huni. Tapi pemerintah tetap bersikeras. Demi data, demi laporan, demi mimpi pemerataan yang ditulis rapi di dokumen negara.

Lucunya, yang dipindahkan pun sebenarnya adalah orang miskin juga. Jadi ini bukan solusi, tapi hanya relokasi masalah. Kemiskinan yang semula padat di kota, kini didispersikan ke hutan, ke rawa, ke lereng gunung. Ketika gagal, warga ditinggal. Rumah lapuk, jalan hilang, tanah kembali liar. Hanya papan nama lokasi yang masih tegak berdiri, jadi bukti bahwa pernah ada proyek ambisius yang tak pernah selesai.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Transmigrasi, pada akhirnya, bukan cerita tentang membangun kehidupan baru. Tapi tentang memindahkan luka lama ke tempat yang lebih sunyi, agar tak terdengar oleh media. Di balik semua itu, satu pertanyaan terus membekas di kepala warga lokal, “Kenapa kami yang tinggal di sini sejak dulu, tidak pernah dapat perlakuan sebaik itu?”

Transmigrasi hari ini bukan lagi soal pindah tempat, tapi soal pindah masalah. Seolah-olah, kalau orang miskin dipindah ke hutan, maka kemiskinannya ikut menguap. Padahal, kemiskinan bukan soal lokasi, tapi soal logika. Dan selama logika pembangunan masih sama, maka transmigrasi akan tetap menjadi sinetron panjang.

Satu pertanyaan terakhir yang masih menghantui warga, “Kalau tempatnya benar-benar menjanjikan, kenapa bukan pejabat duluan yang pindah?”

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 351x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 309x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 254x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Orang Tua, Guru, dan Anak di Era Kecerdasan Artifisial

Orang Tua, Guru, dan Anak di Era Kecerdasan Artifisial

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com