POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Kenapa Warga Ramai Menolak Program Transmigrasi?

RedaksiOleh Redaksi
July 17, 2025
Kenapa Warga Ramai Menolak Program Transmigrasi?
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Lagi ramai aksi penolakan transmigrasi. Alasan sederhananya, orang lokal “dibiarkan.” Sementara pendatang (pindahan dari Jawa) diberikan aneka fasilitas. Alasan lainnya, memindahkan orang miskin ke tempat miskin. Benarkah demikian? Mari kita ungkap sambil seruput kopi tanpa gula, wak!

Pernahkah nuan membayangkan hidup di kampung sendiri, lalu suatu hari datang serombongan orang asing, bukan dari luar negeri, tapi dari pulau seberang, dan mereka tiba-tiba diberi tanah, rumah, lahan garapan, bahkan pembangunan jalan, sekolah, dan puskesmas? Semua oleh negara. Sementara pian, yang sudah tinggal di sana puluhan tahun, bahkan tak punya sertifikat tanah, apalagi fasilitas.

Inilah logika gila transmigrasi yang diwariskan dari zaman ketika pemimpin kita berpikir, “Orang miskin itu sumber masalah di kota, maka pindahkan mereka ke tempat sunyi agar tidak bikin ramai.” Maka berangkatlah mereka, para pahlawan kemiskinan, dikemas dalam truk, dilepas dengan bendera, dan disambut dengan janji-janji.

Tapi janji kepada siapa?

Karena yang menyambut dengan heran adalah warga lokal. Mereka heran bukan karena kedatangan saudara sebangsa, tapi karena negara yang selama ini tuli terhadap keluhan mereka, kini tiba-tiba royal luar biasa kepada pendatang. Negara berubah jadi Sinterklas, rumah papan dibangunkan, lahan dibagikan, pupuk dibantu, jalan dibuka. Sementara anak-anak mereka masih menyeberangi sungai dengan ban dalam untuk sekolah, dan jalan desa tetap becek sejak zaman penjajahan.

Ini bukan soal iri. Ini soal logika ketimpangan yang terang-benderang. Kenapa negara justru lebih peduli pada orang luar dari warga asli? Kenapa petani lokal harus membeli tanah sendiri, tapi transmigran dari Jawa langsung dapat hak garap? Kenapa warga lokal butuh bertahun-tahun mengurus sertifikat, tapi pendatang langsung difasilitasi?

📚 Artikel Terkait

Kenakan Pakaian Adat Aceh, Warnai Peringatan Hardikda di Aceh Timur

Dermaga

Festival Sastra Jakarta Barat 2025 Ruang Pulang Bahasa, Ingatan, dan Masa Depan Kota

Suara Hati Jiwa Mati – Cerpen

Transmigrasi jadi ladang ketegangan sosial. Bukan karena warganya jahat, tapi karena sistemnya memang sembrono. Pemerintah datang ke daerah yang sudah miskin, lalu mendatangkan kemiskinan baru, dan berharap semuanya akan makmur bersama. Padahal yang terjadi justru kompetisi dalam keterbatasan. Dua kelompok miskin disuruh berebut tanah, pupuk, dan akses air. Siapa yang menang? Tentu yang lebih disayang negara.

Lihat di Kalimantan. Banyak lokasi transmigrasi yang gagal bukan cuma karena tanahnya rawa atau bebatuan, tapi karena warga lokal merasa ditinggalkan dalam pembangunan. Di Rasau Jaya, konflik agraria masih menyala. Di Gorontalo, tanah diberikan tanpa kejelasan hukum. Di Donggala, warga lokal sendiri menolak lokasi transmigrasi karena berbahaya dan tak layak huni. Tapi pemerintah tetap bersikeras. Demi data, demi laporan, demi mimpi pemerataan yang ditulis rapi di dokumen negara.

Lucunya, yang dipindahkan pun sebenarnya adalah orang miskin juga. Jadi ini bukan solusi, tapi hanya relokasi masalah. Kemiskinan yang semula padat di kota, kini didispersikan ke hutan, ke rawa, ke lereng gunung. Ketika gagal, warga ditinggal. Rumah lapuk, jalan hilang, tanah kembali liar. Hanya papan nama lokasi yang masih tegak berdiri, jadi bukti bahwa pernah ada proyek ambisius yang tak pernah selesai.

Transmigrasi, pada akhirnya, bukan cerita tentang membangun kehidupan baru. Tapi tentang memindahkan luka lama ke tempat yang lebih sunyi, agar tak terdengar oleh media. Di balik semua itu, satu pertanyaan terus membekas di kepala warga lokal, “Kenapa kami yang tinggal di sini sejak dulu, tidak pernah dapat perlakuan sebaik itu?”

Transmigrasi hari ini bukan lagi soal pindah tempat, tapi soal pindah masalah. Seolah-olah, kalau orang miskin dipindah ke hutan, maka kemiskinannya ikut menguap. Padahal, kemiskinan bukan soal lokasi, tapi soal logika. Dan selama logika pembangunan masih sama, maka transmigrasi akan tetap menjadi sinetron panjang.

Satu pertanyaan terakhir yang masih menghantui warga, “Kalau tempatnya benar-benar menjanjikan, kenapa bukan pejabat duluan yang pindah?”

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Orang Tua, Guru, dan Anak di Era Kecerdasan Artifisial

Orang Tua, Guru, dan Anak di Era Kecerdasan Artifisial

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00