POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

In Memorial Bapak Dr.Qismullah Yusuf, Sang Inspirator. 

Hanif ArsyadOleh Hanif Arsyad
July 11, 2025
In Memorial Bapak Dr.Qismullah Yusuf, Sang Inspirator. 
🔊

Dengarkan Artikel

Dari Dendam ke Adonan Mie Tepung yang Mengalahkan Peluru

Oleh: Hanif Arsyad
Dosen di Universitas Malikussaleh

Pidie, 1991. Seorang bocah lelaki berusia dua belas tahun turun dari bus Bireun Express (BE) yang bau solar dan keringat. Matanya tajam, tapi bukan karena semangat belajar. Ia baru saja kehilangan ayah—tewas dalam operasi militer yang membakar gampongnya di Pidie. Di dadanya, dendam tumbuh cepat, seperti ilalang yang tak pernah ditanam.

“Kalau sudah besar, saya mau beli senjata. AK-47. Biar saya cari orang-orang yang membunuh ayah saya,” katanya suatu kali kepada seorang guru tua yang menjemputnya di terminal Banda Aceh. Sang Guru itu hanya mengangguk, lalu tersenyum kecil. Namanya Dr. Qismullah Yusuf. Seorang pendidik sekaligus pengamat masyarakat. Ia tahu, marah tak bisa dilarang—tapi bisa diarahkan.

“Kalau begitu, mari kita kumpulkan uang untuk beli senjata,” katanya, pelan. Tak sinis, tak juga main-main.

Menakar Balas dengan Tepung

Bapak Qismullah tidak membawanya ke tempat pelatihan militer, bukan pula ke ruang konseling. Ia mengantar bocah itu ke sebuah warung kecil di Penayong. Di sana, tepung-tepung diaduk setiap pagi untuk membuat mie Aceh yang padat dan kenyal.dengan aroma kunyit dan kari menggantung di udara.

Tiga bulan kemudian, jari-jari bocah itu mulai terbiasa dengan tekstur adonan. Satu demi satu luka yang tak bisa diobati kata-kata, mulai dipulihkan oleh gerak tangan gesitnya. Marah yang semula membatu, berubah jadi ketekunan. Dendam beralih jadi disiplin. Dan semangat yang menggelegar.

Ketika hasil kerja mulai terkumpul dan tabungan tersedia dengan jumlah yang tidak begitu banyak, Bapak Qismullah bertanya, di suatu petang “Uangnya sudah cukup. Mau pesan AK-47?”

Bocah itu, yang kini beranjak menjadi remaja tangguh yang paham makna jerih payah, menatap warung mie kecilnya di emperan pasar Meulaboh  yang kini sudah memiliki lima orang teman yang semuanya adalah anak korban konflik juga yang bekerja bersamanya.

Ia menjawab, “Tidak, saya mau lanjutkan usaha ini. Karena ini lebih dari sekadar bisnis. Ini cara saya menyembuhkan dendam bukan menghancurkan.”

Ekonomi Sebagai Rekonsiliasi Sunyi

Kisah ini mungkin terdengar seperti dongeng yang nyaris mustahil. Tapi ia nyata, dan terjadi berulang di banyak sudut Aceh setelah tahun-tahun gelap itu.

📚 Artikel Terkait

Tim Penilai Adipura Lakukan Penyisiran ke Titik Pantau

Sejarah Kampung yang Keramat

Modus Operandi Penjajahan Baru

BERGABUNG DI KELAS INOVASI DAN KELAS MENULIS PGRI

Bapak Qismullah memahami satu hal yang sering luput dari rumus pemulihan pascakonflik: manusia lapar tak bisa diajak berdamai. Perut kosong sulit menerima wacana keadilan. Maka sebelum membangun narasi besar tentang hak asasi, ia memilih menyediakan tempat bekerja. Sebelum menyulut idealisme, ia menghidupkan dapur-dapur kecil.

Aceh, pada akhirnya, belajar dari dapur. Bukan dari meja perundingan semata. Dan model bapak Qismullah kemudian menginspirasi banyak gerakan akar rumput—yang tak mencari panggung, tapi bekerja di senyap: membuat adonan mie, membatik, memanen lele, menyulam dari serpih serpihan trauma konflik.

Dari Peluru ke Pameran

Kini, di Banda Aceh, warung-warung mie tak hanya menjual makanan. Mereka menyimpan sejarah. Di balik dinding bambu dan aroma bumbu, ada kisah perubahan—dari dendam menjadi keterampilan, dari trauma menjadi kemandirian.

Pemerintah kota pun mulai sadar. Dalam lima tahun terakhir, ekonomi kreatif menjadi agenda penting dalam pembangunan Aceh. Bukan hanya demi mendongkrak pertumbuhan, tetapi untuk menjaga perdamaian yang telah susah payah diraih.

Mantan wali Kota Banda Aceh , Bapak Aminullah Usman, menyebut bahwa menjadikan kota ini sebagai destinasi wisata budaya adalah strategi pemulihan identitas kolektif. Komite Ekraf dibentuk, 17 subsektor digerakkan—dari kuliner, fesyen, hingga kriya.

Bukan tanpa tantangan. Banyak pelaku usaha kecil yang buta teknologi, banyak pula yang terkendala permodalan. Tapi langkah terus berjalan. Pelatihan pemasaran digital menjangkau anak muda gampong. Koperasi simpan pinjam kembali hidup. Di lapak pasar dan galeri seni, produk-produk lokal kini tampil percaya diri.

Sekolah yang Tumbuh dari Kios Mie

Apa dampaknya? Tidak semua bisa dihitung dengan angka. Tapi ketika warung kecil mampu menyekolahkan anak, ketika dapur kembali berasap, ketika anak-anak yatim bisa belajar ecoprint atau sablon digital—itu sudah cukup jadi bukti.

Studi yang dilakukan GeRAK Aceh pada 2023 menyimpulkan bahwa penguatan ekonomi rumah tangga langsung berdampak pada partisipasi pendidikan dan penurunan angka putus sekolah. Anak-anak korban konflik kini punya pilihan selain jalanan: mereka punya meja belajar, punya lembar kerja. Upaya ini perlu diperhatikan dengan serius oleh pemerintah.

Rekonsiliasi Tanpa Pidato

Tidak ada pidato besar dalam kisah mie tepung itu. Tidak ada plakat, tidak ada kamera. Hanya adonan dan kerja yang terus mengalir. Tapi justru dari sanalah kita belajar, bahwa perdamaian paling kokoh dibangun dari bawah—dari pasar, dari warung, dari tangan-tangan yang sibuk bekerja.

Bapak Dr. Qismullah pernah berkata dalam satu pelatihan ecoprint,
“Perubahan mindset dimulai dari perut yang kenyang.”

Kini, anak lelaki yang dulu ingin membeli AK-47, telah menjadi pengusaha yang mempekerjakan puluhan orang. Ia tak hanya menyelamatkan dirinya dari dendam, tapi juga menyelamatkan yang lain dari nasib serupa.

Ia tak pernah membalas dengan peluru. Ia membalas dengan kemakmuran. Dan dalam kemakmuran itulah, ia menemukan damai yang tak bisa dibeli dengan senjata.

“Bek  preh kiamat, bek leupah that ateuh.”
(Jangan menunggu kiamat, jangan terlalu tinggi bercita-cita. Mulailah dari yang ada.)

Kalimat itu masih terukir di ingatan para pencari perubahan. Warisan bapak Qismullah, bukan hanya sebagai guru, tapi sebagai penjahit masa depan, yang menyusun kembali serpih-serpih Aceh melalui ide, bukan mimpi, tapi kerja nyata.

(Serpihan Cerita nyata ini diceritakan pada saat Mata kuliah CCU ( Cross Culture Understanding)diruang RKU pada tahun 2000).

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 58x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 53x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share8SendShareScanShare
Hanif Arsyad

Hanif Arsyad

Hanif Arsyad adalah lulusan Magister Pendidikan Bahasa Inggris USK, berpengalaman sebagai dosen, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya aktif menulis di bidang pendidikan karakter, pengembangan SDM, serta kajian kebahasaan dan sosial. Saat ini, saya mengajar di Universitas Malikussaleh dan Hanna English School sebagai owner yang berlokasi di Aceh Utara. Saya juga menjabat sebagai Koordinator Yayasan Askar Ramadhan di Aceh yang bergerak di bidang sosial, serta dipercaya sebagai Kepala Sekolah Akademi Berbagi untuk klaster Aceh Utara dan Lhokseumawe. Keahlian saya mencakup penulisan ilmiah, editing, dan pendampingan riset.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Ijazah,Kejujuran Publik dan Ujian Bagi Republik

Ijazah,Kejujuran Publik dan Ujian Bagi Republik

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00