POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Intelektual Semu

Don ZakiyamaniOleh Don Zakiyamani
July 9, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Lahir dari pemikiran manusia, AI malah membuat manusia malas berpikir. Hal itu terbukti ketika belakangan mengamati beberapa tulisan di beberapa media. Fenomena ini sedang dan akan terus terjadi. Membaca disertai analisis terhadap bacaan kian tergerus dengan kemudahan yang diberikan AI.

Apakah AI begitu hebat sehingga kita memasrahkan segala jawaban padanya. Jika kita mau berhenti sejenak, lalu berpikir beberapa detik, kita bakal mendapatkan jawaban. AI merupakan produk pikir manusia. Ia memiliki data berlimpah hasil dari kerja mekanis manusia.

Kepintarannya didapat karena ia tidak dibekali keinginan ngopi. Bila ia merasa lapar, haus, dan memiliki keinginan yang dimiliki manusia maka ia pun tak akan mampu menyimpan data. Ia akan mengalami eror, disrupsi data bahkan datanya invalid.

Kinerja AI mirip malaikat yang tidak dibekali nafsu. Lihatlah bagaimana malaikat menyampaikan wahyu tanpa menambah dan mengurangi redaksi wahyu. Jadi, AI ini bukan sesuatu yang baru dalam Islam. Jauh sebelum AI ada, Islam memiliki malaikat penyampai wahyu illahi.

Hal itu bermakna, bila AI hebat disebabkan ia tidak dibekali nafsu. Dengan demikian, benarlah bahwa manusia hebat ketika ia mampu mengendalikan hawa nafsunya. Para Nabi, filsuf, tokoh pemikir lainnya, mereka mengendalikan nafsu sehingga pemikiran dan ucapan mereka tetap relevan meski zaman berubah. Mereka intelektual sejati, berbeda dengan kebanyakan intelektual hari ini. Saya menyebutnya intelektual semu.

Barangkali saya termasuk di dalam kelompok intelektual semu. Sebabnya, belum ada satu pemikiran canggih yang lahir dari ‘perang’ di kepala dan realitas di sekitar. Barangkali kopi di masa Nietzsche, Plato, Socrates, Aristoteles,  Machiavelli, Emil Durkheim, Hegel, Adam Smith, Rene, Chomsky, tak senikmat kopi masa kini. Mereka dengan leluasa memaksimalkan pikiran tanpa terganggu ngopi di mana.

Mereka juga tidak terganggu dengan ghibah sosial, tidak pula memikirkan hal-hal yang tak berfaedah. Mereka fokus pada rahasia illahi yang belum diungkap, bila sudah terungkap namun belum memuaskan nalar dan logika, masih ada keganjilan. Mereka pasti tercengang ketika hasil pikiran mereka kini dikembangkan menjadi alat malas berpikir.

📚 Artikel Terkait

Titik Bermula Daripada Zab Bransah

Mengenal Dr Warsito, Ditolak Negeri Sendiri, Dihargai di Negeri Orang

Peringatan Hari Kemerdekan ke 76 RI di SDIT Muhammadiyah Manggeng Meriah

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Jauh sebelum AI lahir, Nietzsche sudah pernah memperingatkan hal itu. Jangan jadi pembaca malas. Dan sekarang lebih parah lagi, malas membaca. Jika membaca saja dianggap pembaca malas, konon lagi tidak membaca. Pembaca malas biasanya hanya menerima (input) tanpa menganalisa bacaan.  Lahirlah intelektual semu. Apalagi bila AI dijadikan rujukan utama, akan kelihatan semu di atas semu yang saya sebut dengan intelektual gaib.

Istilah itu, sungguh saya belum yakin apakah pas. Karena intelektual dimaknai beragam. Namun bila merujuk pada kelompok tertentu, sebut saja aktivis kampus, ketua lembaga, atau mereka yang sudah bergelar akademik sarjana dan setelahnya maka intelektual gaib akan saya gunakan bagi yang di atas semu.

Teman-teman sesekali boleh datang ke peristiwa demonstrasi mahasiswa. Tangkap kalimat-kalimat yang disampaikan. Agitasi tidak dilarang namun narasi yang disampaikan harusnya memiliki nilai. Orasi-orasi yang disampaikan sangat kering dan lebih banyak pendengar melihat gadget bahkan sibuk foto diri ketimbang mendengar orasi.

Gejala yang sama juga dapat kita temukan di dunia menulis. Beberapa waktu yang lalu sebuah media nasional malah melakukan blunder dengan mempublikasikan tulisan hasil pikiran orang lain bukan hasil pemikiran orang tersebut. Barangkali karena dia artis terkenal. Di kalangan umum kita dapati tulisan karya AI lalu diberi nama penulis. Barangkali Socrates akan bertanya, “mengapa menipu diri sendiri?”. Plato pasti marah besar dan Ali Shariati akan mengatakan itulah kemunafikan sosial.

Celakanya, karya-karya itu dilakukan oleh mereka yang dianggap intelektual. Sehingga dengan berat hati saya katakan bahwa mereka intelektual semu. Bukan dilarang apalagi haram menggunakan AI namun AI itu berfungsi sebagai pembantu tekhnis. Misalnya ada kata atau kalimat salah tulis atau kekurangan huruf, untuk memastikan tidak terjadi itu, kita dapat menggunakan AI demi efisiensi. Bukan menggunakan prompt untuk menghasilkan karya tulis.

Kelompok intelektual semu ini belakangan semakin ramai. Mayoritas yang kemudian membuat sebuah negara kehilangan arah. Cacat logika dianggap benar karena diucapkan manusia bergelar dan berpangkat. Bahkan di kalangan aktivis, cacat logika kian sering kita baca dan dengar.  Akibatnya muncul rasa sok tahu padahal boh labu, merasa pintar padahal otak kosong, merasa kritis padahal sentimen.  Kita wajib senyum menyaksikan fenomena intelektual semu itu.

Melalui tulisan singkat ini saya menghimbau, sudahi cara-cara plagiasi dari AI, dan hindari cacat logika. Jadilah intelektual sejati, jangan terus menerus mengejar validasi eksternal sebagai intelektual. Oh ya, teman-teman boleh memvalidasi tulisan saya ini, karya plagiat atau murni saya tulis dari gerobak arabica menuju masjid lamteh.  Apakah saya akan gunakan AI? ya saya akan gunakan untuk menghitung kata dan memastikan tidak ada kata yang tertinggal atau kelebihan huruf.

Bagi teman-teman yang suka menulis, silahkan kirim tulisan Anda ke potretonline.com, jangan kirim ke saya bila itu hasil karya AI, karena saya tidak mau menciptakan kebahagiaan semu. Kebahagian sejati penulis lahir bila tulisannya asli hasil dari pikiran dan hatinya sendiri.  Semoga tidak ada intelektual semu di sekitar kita. Anda siap menulis di POTRET?

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Don Zakiyamani

Don Zakiyamani

Penikmat kopi tanpa gula

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Perempuan Setara

Perempuan Setara

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00