POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Merawat Ruh Literasi Al- Qur’an di Gampong: Sinergi Keluarga, Sekolah, dan Tgk Gampong

Hanif ArsyadOleh Hanif Arsyad
July 5, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Hanif Arsyad

Ketika Suara Mengaji Redup, Siapa yang Harus Menyambungnya?

Senja di banyak kampung di Aceh tak lagi dihiasi suara anak-anak mengaji selepas Magrib. Surau menjadi sepi, rumah Tgk Gampong tak seramai dulu. Bukan karena masyarakat menjauh dari agama, tetapi karena pola pendidikan keagamaan kini lebih terpusat pada sekolah. 

Program Diniyah Formal (PDF) yang dirancang pemerintah menjadi pilar penting dalam memperkuat literasi agama. Namun, di balik capaian itu, kita perlu bertanya: bagaimana nasib tradisi lokal yang telah lama menjadi penopang ruh Islam di kampung-kampung?

Tulisan ini tidak hendak menyalahkan sistem, apalagi mengabaikan capaian kebijakan pendidikan Islam yang terstruktur. Justru sebaliknya—kita perlu membangun sinergi antara yang formal dan yang kultural, antara sekolah dan surau, antara kebijakan dan kearifan lokal. 

Terutama, kita perlu menempatkan keluarga sebagai pusat kesadaran kolektif dalam menanamkan kecintaan anak-anak terhadap Al-Quran sejak usia dini.

Fungsi Keluarga: Sekolah Pertama, Pemersatu Ruh Agama dan Budaya

Keluarga bukan hanya unit sosial, tapi juga madrasah pertama yang membentuk karakter dan keimanan anak. Masa golden age (0–7 tahun) adalah saat terbaik untuk mengenalkan huruf hijaiyah, suara ayat, dan nilai-nilai spiritual. Namun, dalam banyak kasus, keluarga kini menyerahkan semua proses itu kepada sekolah.

Maka diperlukan pendekatan baru: menumbuhkan kembali budaya “mengaji di rumah” selepas Magrib. Gerakan ini sederhana, namun berdampak besar—orang tua mendampingi anak membaca Al-Quran di ruang tamu, menjadikannya rutinitas harian yang mengikat batin dan spiritualitas keluarga. Tgk Gampong dan Tgk Inong, dalam hal ini, bukan digantikan, tetapi menjadi pelanjut pembelajaran Quran di tingkat komunitassetelah pondasi kuat diletakkan di rumah.

PDF dan Tradisi Gampong: Bukan Dua Ranah yang Bertentangan

Pemerintah melalui Kementerian Agama telah menghadirkan Program Diniyah Formal (PDF) sebagai upaya standarisasi pendidikan agama, lengkap dengan kurikulum dan evaluasi. Ini adalah langkah maju dalam menghadirkan pendidikan Islam yang sistematis. Namun, seperti diungkap dalam sejumlah laporan lapangan, keberadaan PDF belum sepenuhnya menjangkau komunitas marjinal dan desa-desa terpencil.

📚 Artikel Terkait

Keberanian KDM Menutup 26 Tambang Ilegal Patut Diacungi Jempol

Banjir Bandang Itu adalah Derita Panjang Kami

Gema Pantun di Milad ke 22 POTRET

Merindukanmu

Di sisi lain, TPQ dan pengajian tradisional berbasis surau dan rumah Tgk Gampong telah lama terbukti efektif—walau tanpa sertifikat dan fasilitas lengkap, mereka telah menanamkan ruh keislaman yang kuat. 

Maka, alih-alih digantikan, pendidikan tradisional ini perlu diakui, dikuatkan, dan disinergikan.

Beberapa desa di Aceh Utara, Bener Meriah, dan Pidie mulai mempraktikkan model integratif: ● PDF di sekolah pada pagi atau siang hari, ● Mengaji di rumah bersama orang tua selepas Magrib, ● Penguatan hafalan dan pemahaman bersama Tgk Gampong di malam hari.

Model ini disebut sebagai pendekatan triadik: rumah–sekolah–komunitas. Inilah ekosistem pendidikan Quran yang tidak hanya mencerdaskan, tapi juga membudayakan.

Tgk Gampong dan Tgk Inong: Pilar Yang Tak Tergantikan

Selama puluhan tahun, Tgk Gampong dan Tgk Inong telah menjadi penopang literasi Al-Quran di kampung. Mereka adalah guru yang mengajar dengan cinta, bukan angka. Mereka tidak sekadar mengevaluasi hafalan, tapi juga menanamkan makna dan akhlak.

Karena itu, kebijakan pendidikan Islam masa kini perlu:

● Memberikan ruang formal bagi Tgk Gampong sebagai guru tamu di sekolah,

● Memberi pelatihan berbasis kearifan lokal, bukan mengganti dengan sertifikasi nasional semata,

● Mengalokasikan dana desa atau BOS untuk mendukung operasional TPQ yang berbasis komunitas.

Mengaji di Rumah, Melanjutkan di Surau, Dikuatkan di Sekolah, sebagai penutup tulisan ini semoga menjadi slogan bagi kita semua karena masa depan literasi Al-Qur’an tidak bisa hanya diserahkan kepada sekolah, apalagi dijadikan proyek administratif. Ia tumbuh dalam cinta orang tua, teladan guru lokal, dan dukungan komunitas. Menghidupkan kembali tradisi mengaji selepas Magrib, melibatkan Tgk Gampong dalam sistem pendidikan, dan menjadikan keluarga sebagai motor penggerak adalah fondasi utama.

Jika pendidikan agama hanya menjadi angka di rapor, maka kita kehilangan ruhnya. Tapi jika ia tumbuh di rumah, dirawat di surau, dan dikuatkan di sekolah—maka kita tak sekadar membentuk santri, tapi membangun peradaban.

Catatan Penulis: Tulisan ini bagian dari serial opini “Pendidikan Islam Masa Kini: Jalan Tengah antara Sistem dan Tradisi” yang mengajak masyarakat, pendidik, dan pengambil kebijakan untuk membangun jembatan antara kebijakan formal dan praktik lokal yang telah mengakar.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Hanif Arsyad

Hanif Arsyad

Hanif Arsyad adalah lulusan Magister Pendidikan Bahasa Inggris USK, berpengalaman sebagai dosen, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya aktif menulis di bidang pendidikan karakter, pengembangan SDM, serta kajian kebahasaan dan sosial. Saat ini, saya mengajar di Universitas Malikussaleh dan Hanna English School sebagai owner yang berlokasi di Aceh Utara. Saya juga menjabat sebagai Koordinator Yayasan Askar Ramadhan di Aceh yang bergerak di bidang sosial, serta dipercaya sebagai Kepala Sekolah Akademi Berbagi untuk klaster Aceh Utara dan Lhokseumawe. Keahlian saya mencakup penulisan ilmiah, editing, dan pendampingan riset.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Menembus Sunyi, Menyalakan Cita

Dari Rasa Penasaran ke Percikan Semangat: Cerita dari Ruang Bedah Buku

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00