POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Puisi Yang Tidak Berjudul Di antara Cahaya Rembulan dan Matahari

RedaksiOleh Redaksi
June 29, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Jacob Ereste 

Keengganannya untuk berbagi keluh kesah terhadap orang lain ,-tidak kecuali pada sosok yang paling dekat dengan dirinya sekalipun.Seperti telah menjadi watak bawaannya sejak lahir, Ia selalu tak ingin kesusahan yang tengah mendera dirinya untuk ikut diketahui dan menjadi beban orang lain. 

Karena itu dalam berbagai kesempatan, orang yang paling dekat dengan dirinya pun tak pernah tahu bahwa dirinya tengah menghadapi masalah besar yang serius. Sehingga pada suatu ketika meledak dan meletus, tidak sedikit orang yang kaget, termasuk kekagetan orang lain itu terhadap dirinya yang terbilang paling dekat dengan dirinya. Sehingga kekagetan dirinya menimbulkan kekagetan bagi orang lain.

Apalagi hanya sekadar untuk tidak mengatakan bahwa di rumahnya sedang tidak ada beras yang bisa dimasak untuk makan siang hari ini. Walaupun untuk sekedar lauk pauknya  pun, tidak pernah terbayangkan untuk dapat diperoleh. Sebab untuk berutang di Warung Tegal langganannya pun dia merasa sungkan dan tak hendak seorang pun tahu bahwa pada hari ini dia sungguh tak punya duit.

Suatu ketika dia sendiri pernah berpikir bila kehidupan dari dirinya sendiri semacam cerita pendek yang tidak berarti. Sebab terlalu banyak kisah duka yang tersimpan di dalam hidup dan kehidupannya sehari-hari, kendati tak pernah diketahui, apalagi hendak mendapat perhatian dan empati dari orang lain. Bahkan pernah pada suatu kesempatan, dia merumuskan tentang sosok dirinya sendiri sebagai manusia yang absurd seperti cerita dalam novel yang pernah ngetrend pada tahun 1970-an di negeri ini.

📚 Artikel Terkait

Perjuangan Masyarakat Aceh Memperkenalkan Budaya Aceh Di Denmark

Ujian Ketahanan Hidup di Era Modern

Gelar Meninggi, Moral Menyusut: Apa kabar Pendidikan Kita?

Reformasi: Mimpi yang Kandas di Tengah Harga Beras

Tapi kesimpulan sementara baginya itu tak pernah dianggap menjadi persoalan yang serius. Toh, semua lika-liku kehidupan sebagaimana kayaknya manusia yang normal dapat dia lakoni, kendati acap dikatain sejumlah sahabatnya penuh misteri. Dan sikapnya sendiri dalam menanggapi pernyataan yang serius ini, toh dia apresiasi dengan sikap yang dingin dan teduh, bahkan selalu diiringi dengan senyuman yang sulit ditafsirkan makna yang tersirat di dalam senyumannya yang khas itu.

Air mukanya pun dingin dan jernih, sehingga tidak mungkin disebut kusam atau buruk seperti langit yang sedang digelayuti mendung yang tengah mengancam hendak menurunkan bencana.

Apalagi sekadar untuk menjelaskan mengapa kontak telepon lewat pesan singkat yang dikirim seorang kawan dekatnya itu tidak dijawab,hanya karena pulsa di hp-nya yang selalu cekak, tidak pernah bisa diisi sebelum kandas dan habis. Atas dasar itulah dia selalu mengelak setiap kali rekan dan sejawatnya  hendak sanjau ke rumah kontrakannya yang sederhana itu, lantaran tak ingin terlihat sangat menderita hingga bisa menambah beban hidup bagi orang lain.

Baginya jelas bukan karena gengsi, tetapi sungguh tidak ingin berbagi derita akibat menyaksikan hidup dan kehidupannya yang sungguh sangat minimal untuk ukuran masyarakat umum. Sebagian besar kawan dan relasinya dari berbagai bidang dan profesi sudah banyak yang mahfum,meski ada saja di antaranya yang sulit  memahami, bagaimana mungkin potensi dari dirinya yang dimiliki bisa begitu terkesan  tragis dan ironis.

Padahal, dia sendiri pun tidak pernah memposisikan dirinya semacam komik yang  berkisah secara visual,maupun dalam bentuk narasi sependek apapun. Tapi, toh seorang sohibnya jebolan dari  fakultas filsafat pernah berujar bahwa hidupnya seperti sebuah puisi yang tidak berjudul. Dan dia sendiri pun menanggapi kelakar sang sohibnya itu dengan tawa yang berderai-derai, seakan   menemukan sesuatu yang belum pernah dia saksikan sepanjang usia hidupnya sekarang yang tengah mendaki diatas angka tujuh puluh.

Ia sendiri pun kagum dan takjub, melihat bayangan dirinya sendiri yang tetap terang diantara cahaya bulan dan matahari yang tak pernah berkata letih. Maka itu dia terus tampak bergairah untuk terus menulis, entah sampai kapan kalimat terakhir yang mungkin tak lagi bisa terukir di batu nisan miliknya sendiri. 

Pantai Dadap, 28 Juni 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

BENGKEL OPINI RAKyat

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00