POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Jilbab Putih: Menyulam Cermin Diri dalam Benang Cahaya

Luhur SusiloOleh Luhur Susilo
June 16, 2025

Hasil karya AI

🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Luhur Susilo
Guru SMPN 1 Sambong dan Pengurus Satupena Blora

“Jilbab putih penutup auratmu, tanda taatmu kepada Tuhanmu…”
Begitu lembut lirik Nasyida Ria menyapa, namun dalam suaranya tersimpan pesan keras: bahwa sehelai kain bisa menjadi seruan sunyi untuk mendidik diri (Nasyida Ria, 1985).

Jilbab putih, bagi sebagian orang, hanyalah bagian dari pakaian. Tapi bagi jiwa yang ingin terus tumbuh, ia adalah pernyataan. Pernyataan bahwa hidup tak sekadar tampak, tetapi juga niat yang menyala dalam diam.

Memilih memakai jilbab putih bukan hanya soal tampilan luar. Ia adalah keputusan yang melibatkan batin, kesadaran, dan perenungan. Ia mengajak siapa pun yang mengenakannya untuk bertanya: apakah aku sudah seputih itu?

Dalam dunia yang bising oleh pencitraan, jilbab putih hadir seperti sunyi yang menyejukkan. Ia tak mengajak untuk menghakimi, tapi untuk kembali melihat ke dalam. Sudahkah kita menjadi pribadi yang lembut, sabar, dan jujur?

“Tanda taatmu kepada Tuhanmu…”
Kalimat itu bukan sekadar pujian. Ia adalah pengingat. Bahwa setiap helai kain yang kita kenakan bisa menjadi saksi: sejauh mana kita setia pada jalan kebaikan.

Sosiolog ternama Erving Goffman menyebut bahwa pakaian adalah bagian dari “presentasi diri” dalam interaksi sosial. Dalam jilbab putih, kita sedang membentuk identitas moral yang terlihat dan terasa (Goffman, 1959).

Di tengah tantangan zaman, di mana nilai kadang dikaburkan oleh tren, jilbab putih bisa menjadi media pendidikan diri. Ia mengajarkan konsistensi, kedisiplinan, dan keberanian. Bukan hanya keberanian tampil beda, tapi juga keberanian melawan hawa nafsu dan opini liar.

Bagi para pelajar, mahasiswa, atau siapa pun yang sedang mendewasa, jilbab putih seperti guru yang tak bersuara. Ia tak bicara, tapi kehadirannya mendorong untuk belajar lebih banyak, bertindak lebih hati-hati, dan berpikir lebih jernih.

📚 Artikel Terkait

Sajak-Sajak Puti Asharaina K

Membongkar Lapisan Identitas: Interseksionalitas Gender, Kelas, dan Ras di Indonesia

Menyoal Joget Velocity di Kalangan ASN

Ulama, Keadilan, dan Jalan Dewasa Aceh di Abad ke-21

Psikolog Albert Bandura menjelaskan bahwa perilaku manusia dibentuk melalui “pembelajaran sosial”—kita belajar melalui pengamatan dan peniruan (Bandura, 1977). Maka ketika seorang anak perempuan memakai jilbab putih, ia sedang belajar dari lingkungannya dan sekaligus mendidik dirinya.
“Jilbab putih… tanda kesucian hati…”
Lagu itu mengalir seperti doa. Seperti harapan yang lembut untuk siapa pun yang mencoba menjadi lebih baik, dengan cara yang sederhana: menutup diri demi menjaga diri (Nasyida Ria, 1985).

Dalam konteks ilmiah populer, ini bukan hanya urusan agama, tapi juga psikologi, budaya, dan pendidikan karakter. Pakaian membentuk perilaku. Busana memengaruhi cara kita memandang diri dan dipandang orang lain (Rohmah, 2016; Zakiah, 2014).

Seorang gadis kecil yang pertama kali mengenakan jilbab putih ke sekolah sedang belajar menjadi bertanggung jawab. Ia belum tentu paham sepenuhnya, tapi ia sedang dilatih oleh kebiasaan.

Dan dari kebiasaan itulah, perlahan nilai tumbuh. Dari nilai, terbentuk sikap. Dari sikap, lahirlah pribadi.

Akhirnya, jilbab putih bukan hanya pakaian. Ia adalah proses. Ia adalah perjalanan. Ia adalah pengingat bahwa mendidik diri tak selalu harus dengan kata-kata. Kadang, cukup dengan niat yang ditenun dalam benang cahaya.

“Jilbab putih penutup auratmu, tanda taatmu kepada Tuhanmu…”
Bukan klaim suci. Hanya undangan untuk terus belajar. Terus menjadi. Terus putih, dalam arti yang sejati.

Rumah Tua, 14 Juni 2025


Daftar Pustaka:

Bandura, A. (1977). Social Learning Theory. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall.
Goffman, E. (1959). The Presentation of Self in Everyday Life. New York: Anchor Books.
Nasyida Ria. (1985). Jilbab Putih. Album: Jilbab Putih. Semarang: Ira Puspita Record.
Rohmah, L. (2016). Jilbab dalam Perspektif Psikologi Sosial. Jurnal Psikologi Islam dan Budaya, 14(1), 45–54.
Zakiah, D. (2014). Busana Muslimah dan Peranannya dalam Pembentukan Karakter. Jurnal Ilmu Pendidikan Islam, 2(2), 135–142.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Luhur Susilo

Luhur Susilo

Luhur Susilo Luhur Susilo adalah seorang penulis kelahiran Blora tahun 1970. Ia merupakan alumnus IKIP N Yogyakarta dan Universitas Negeri Yogyakarta yang mulai menulis sejak kuliah profesi. Antologi puisi Sajak dari Belantara (2020), Blandhong (2021), dan beberapa karya mulai terbit di media online. Luhur mulai aktif di komunitas penulisan, termasuk Satupena. Ia juga menulis di bidang sastra, sosiohistoris, dan humaniora.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Menulis dengan AI

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00