• Latest
Menulis Kreatif: Merangkai Kata, Menyulut Makna

Menghukum atau Mendidik? Menimbang Ulang Relevansi Hukuman Menulis Ratusan Kali di Era AI

Mei 21, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Menghukum atau Mendidik? Menimbang Ulang Relevansi Hukuman Menulis Ratusan Kali di Era AI

Gunawan Trihantoroby Gunawan Trihantoro
Mei 21, 2025
Reading Time: 3 mins read
Menulis Kreatif: Merangkai Kata, Menyulut Makna
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Gunawan Trihantoro
Ketua Satupena Kabupaten Blora dan Sekretaris Kreator Era AI Jawa Tengah

Di tengah derasnya arus kemajuan teknologi, dunia pendidikan dihadapkan pada tantangan besar: bagaimana tetap mendidik dengan pendekatan yang manusiawi, relevan, dan bermakna. Salah satu praktik yang masih bertahan di sejumlah sekolah adalah hukuman menulis kalimat secara berulang hingga ratusan kali.

Misalnya, seorang siswa yang lalai menjalankan tugas sebagai petugas upacara dihukum menulis kalimat pengingat sebanyak ratusan kali.

Namun ternyata, tugas sebagai petugas upacara itu diberikan secara mendadak. Tanpa persiapan yang cukup, wajar bila mereka merasa tidak siap atau tidak mampu menjalankan peran tersebut.

Pertanyaannya, apakah hukuman seperti ini masih relevan di era kecerdasan buatan?

Menulis satu kalimat hingga ratusan kali bukan hanya melelahkan, tetapi juga membuang potensi pembelajaran yang seharusnya lebih bernilai. Di balik alasan kedisiplinan, tersembunyi persoalan efektivitas dan dampak psikologis pada siswa.

Hukuman ini pada dasarnya lebih bersifat represif ketimbang edukatif. Anak tidak dilatih untuk memahami tanggung jawabnya sebagai petugas upacara, melainkan hanya menjalani beban administratif yang melelahkan dan berulang.

Padahal, jika tujuan hukuman adalah untuk menyadarkan siswa atas kelalaiannya, maka bentuk hukuman haruslah mengarah pada penguatan karakter dan tanggung jawab. Salah satu bentuk terbaik adalah melibatkan siswa langsung dalam pelatihan menjadi petugas upacara yang baik.

Dengan demikian, siswa tidak hanya menyadari kesalahannya, tetapi juga mendapatkan bekal keterampilan, kepercayaan diri, dan pengalaman langsung yang konstruktif. Hukuman pun berubah menjadi wahana pembelajaran.

Di era Artificial Intelligence, anak-anak kita sudah akrab dengan teknologi yang dapat menyalin tulisan hanya dengan satu klik. Maka, meminta mereka menulis ratusan kalimat berulang terasa tidak hanya usang, tapi juga tidak lagi mendidik secara esensial.

Jika anak hanya dituntut untuk mengulang tanpa makna, bagaimana mereka akan tumbuh menjadi generasi pembelajar kritis dan kreatif? Pendidikan harus adaptif dengan perkembangan zaman dan kebutuhan karakter anak bangsa.

Kementerian Pendidikan, melalui program “Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”, mendorong tumbuhnya karakter positif, seperti jujur, bertanggung jawab, peduli, santun, dan mandiri. Hukuman menulis berulang tampaknya tidak berkontribusi signifikan terhadap pembentukan karakter-karakter tersebut.

Sebaliknya, pendekatan edukatif yang melibatkan anak dalam refleksi, dialog, dan pelatihan peran justru lebih selaras dengan semangat tersebut. Anak tidak hanya dihukum, tapi sekaligus ditumbuhkan.

Sudah saatnya dunia pendidikan berpindah dari pola pikir menghukum ke pola pikir menumbuhkan. Bukan dengan keras, tapi dengan cerdas. Bukan dengan sanksi, tapi dengan stimulasi pembelajaran.

Alih-alih menulis ratusan kali, mengapa tidak memberikan proyek mini seperti membuat catatan refleksi, membuat vlog tentang pentingnya disiplin, atau membimbing adik kelas menjadi petugas upacara? Semua itu bisa menjadi hukuman yang lebih positif dan mendidik.

Pendidikan yang bermakna tidak akan lahir dari ketakutan, melainkan dari pengalaman belajar yang menyentuh hati. Hukuman pun harus menjadi bagian dari proses belajar, bukan sekadar bentuk pelampiasan atas kesalahan.

Jika kita ingin membentuk anak Indonesia hebat, maka setiap langkah dalam proses pendidikan harus diarahkan pada pembentukan karakter dan kompetensi yang sejati. Termasuk cara kita memberikan hukuman.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
ADVERTISEMENT

Mari kita koreksi cara-cara lama yang tak lagi relevan. Di era AI ini, saat teknologi berkembang pesat, pendidikan pun harus ikut berkembang -lebih kreatif, reflektif, dan transformatif.

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan soal menghukum, tapi soal menumbuhkan. (*)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah

Pendidikan untuk Semua: Menyatukan Visi Akademik, Spiritualitas, dan Kearifan Lokal untuk Masa Depan Indonesia Emas 2045

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com