POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

AI di Ranah Akademik: Antara Inovasi dan Tanggung Jawab Ilmiah

RedaksiOleh Redaksi
May 19, 2025
AI di Ranah Akademik: Antara Inovasi dan Tanggung Jawab Ilmiah
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Asrianda

Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia akademik bukan lagi sekadar tren, melainkan bagian integral dari proses penyusunan karya ilmiah seperti artikel jurnal, skripsi, tesis, hingga disertasi. Mahasiswa dan dosen mulai mengandalkan AI sebagai alat bantu dalam mengolah informasi, merumuskan ide, dan menyusun kerangka tulisan. Fenomena ini mencerminkan bahwa pemanfaatan AI tidak lagi menjadi pilihan, tetapi telah menjadi tuntutan zaman yang serba cepat dan digital.

Namun, di balik laju perkembangan ini, muncul kekhawatiran yang patut disoroti. Sebagian kalangan akademisi masih memandang AI sebatas mesin penulis otomatis yang menghasilkan teks tanpa dasar ilmiah kuat. Tulisan dihasilkan AI kerap dianggap tidak memiliki sitasi sahih, tidak bernuansa akademik, dan sulit untuk dipertanggungjawabkan validitasnya.

Pandangan tersebut tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak bisa dijadikan alasan menolak kehadiran AI dalam ruang akademik. Perlu digarisbawahi adalah penggunaan AI dalam menyusun karya ilmiah harus tetap berpijak pada prinsip-prinsip ilmiah yang berlaku: berbasis data, menggunakan sumber dapat diverifikasi, dan menjunjung tinggi integritas akademik. AI seharusnya bukan pengganti nalar kritis, melainkan pendamping memperkuat analisis melalui efisiensi pencarian data, penyusunan kerangka logis, dan penulisan awal yang dapat dikembangkan lebih lanjut oleh penulis.

Artinya, tanggung jawab akhir tetap berada di tangan pengguna. AI harus digunakan sebagai alat bantu mempercepat proses dan memperluas wawasan, bukan sebagai mesin pengarang cerita tanpa dasar. Setiap argumen ditulis, setiap data yang dikutip, harus melalui proses validasi ketat sesuai dengan kaidah ilmiah.

Jika digunakan dengan bijak, AI dapat menjadi katalisator kemajuan intelektual. Tetapi jika disalahgunakan, ia justru dapat merusak esensi pendidikan tinggi yang menjunjung tinggi kebenaran, objektivitas, dan kejujuran ilmiah.

📚 Artikel Terkait

“Ie Pet”

Jadilah Legenda

Mendidik Anak di Tengah Rusaknya Sistem

🚩🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Lebih jauh, institusi pendidikan perlu merespons fenomena ini dengan langkah strategis. Bukan dengan melarang penggunaan AI secara membabi buta, melainkan dengan merumuskan panduan etis dan metodologis yang jelas. Panduan ini membantu mahasiswa dan peneliti memahami batasan serta peluang dalam memanfaatkan AI tanpa mengabaikan kaidah akademik.

Dosen dan pembimbing pun perlu mengedukasi mahasiswa tentang bagaimana memverifikasi informasi dihasilkan AI. Edukasi ini mencakup keterampilan kritis dalam mengecek referensi, membandingkan informasi antar sumber, dan melakukan penelusuran literatur secara independen. Dalam hal ini, AI menjadi alat bantu, bukan pengganti proses berpikir ilmiah.

Sebaliknya, mengabaikan kehadiran AI justru akan meninggalkan celah ketertinggalan dalam transformasi digital di bidang pendidikan. Akademisi yang mampu mengintegrasikan AI secara etis dan efektif akan lebih siap menghadapi tantangan global yang menuntut literasi digital tinggi, produktivitas, dan kecepatan dalam publikasi ilmiah.

Perlu pula ditekankan bahwa AI tidak akan pernah mampu menggantikan kreativitas, intuisi, dan pemahaman kontekstual yang dimiliki oleh manusia. Algoritma secanggih apa pun tetap memerlukan arahan, pemahaman substansi, dan penilaian etis dari penggunanya. Dalam konteks akademik, hal ini berarti AI hanya bernilai ketika digunakan untuk memperkuat isi dan kualitas, bukan sekadar mempercepat proses.

Dengan demikian, masa depan akademik bukan tentang memilih antara AI atau tidak, melainkan tentang bagaimana menjadikan AI sebagai bagian dari proses ilmiah yang etis, kritis, dan bertanggung jawab. AI hanyalah alat—dan seperti semua alat dalam sejarah peradaban, ia akan menjadi bermanfaat atau merusak tergantung pada cara kita menggunakannya.


Asrianda adalah Dosen pada Program Studi Informatika, Universitas Malikussaleh. Saat ini, ia sedang menunggu pelaksanaan Sidang Terbuka sebagai tahap akhir dalam menyelesaikan studi doktoralnya (S3) di bidang Ilmu Komputer di Universitas Sumatera Utara. Ketertarikannya mencakup bidang kecerdasan buatan, pembelajaran mesin, dan pengembangan sistem berbasis data.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 51x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Air Wudhu Sang Ibu

Air Wudhu Sang Ibu

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00