POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Kualat Pada Leluhur

RedaksiOleh Redaksi
May 17, 2025
Kualat Pada Leluhur
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Profesor Dr. Djuli Djatiprambudi. M.Sn

Siapa pun yang memiliki gen-budaya Jawa, maka manusia tersebut akan mendapat sebutan kultural sebagai ‘Wong Jawa’ (WJ). Menyandang sebutan ‘Wong Jawa’ (W besar dan J besar) memang terasa wingit, beraura atau bermaqom adhiluhung.

Meskipun, manusia modern atau sok-sokan modern, ada kecenderungan menanggalkan nilai-nilai kultural Jawa yang wingit – seolah-olah berbau asap kemenyan dan semerbak kembang kenanga. Manusia modern terlalu percaya pada mitos kemodernan yang berporos pada rasionalitas dan sains modern.

Maka, bagi manusia modern, sekali lagi, sangat percaya bahwa sains modern adalah satu-satunya worldview yang berisi metode dan paradigma untuk memahami realitas.

Sebutan ‘Jawa’ hakekatnya bukan semata-mata menunjuk kepada suku Jawa. Akan tetapi, di balik makna ‘Jawa’ adalah paradigma atau worldview yang didasarkan pada trivium dasar, yaitu theosentris (berporos pada rasa dan laku ruhaniah), antroposentris (berporos pada rasa dan laku humanitas-theologis) dan kosmosentris (berporos pada rasa dan laku yang menyatu dalam siklus alam semesta dan hukum kausalitasnya). Trivium dasar ini bukan terpisah satu dengan lainnya, tetapi menyatu secara holistik (total-metafisik).

Maka, ketika menyebutkan kata ‘Jawa’ sesungguhnya ia adalah konsep, metode, dan nilai-nilai yang menjadi arah dalam memaknai ‘urip’. ‘urip sejati’, dan ‘sejatine urip’.

Konsep ‘urip’ menunjuk pada aktivitas organik-biologis (berorientasi pada kebutuhan fisik). Konsep ‘urip sejati’ bermakna nglokoni
urip dengan rasa dan laku luhur (berorientasi pada laku batin).

Dan konsep ‘sejatine urip’ adalah menyatunya rasa dan laku dengan semesta nilai dalam trivium tersebut. Dalam tahapan ini muncul kesadaran batin yang ‘nyawiji’ dengan ‘Gusti Allah ingkang murbeng dumadi.’ Ada sikap batin yang secara total pasrah kepada kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa (urip mung saderma nglakoni).

Dengan demikian, kata ‘Jawa’ bukan sembarang kata yang sekadar menunjuk sebuah entitas suku (suku Jawa), tetapi jauh
dari itu ia berelasi dengan kualitas par excellence suatu peradaban tertentu. Inilah yang menjadi kekuatan sejati (ruhani dan
jasmani) yang tertanam jauh di bumi (gebyare urip) di alam fisik dan ‘kaendahane urip’ di alam kelanggengan. Konsep ‘kaendahan’ ini menunjuk pada konsep ‘sejatine rasa’ (kemenyatuan rasa-batin dalam mikro dan makrokosmos). Mikrokosmos
adalah ‘jagat alit’ yang terbatas, terukur, dan indrawi. Sedangkan makrokosmos adalah ‘jagat ageng’ yang tak terbatas, tak terukur, dan metafisik.

Karena itu, manusia dan kebudayaan Jawa adalah konfigurasi holistik kualitas peradaban adhiluhung yang lintas ruang dan waktu. Menggambarkan kualitas rasa dan laku yang selalu menyatu dengan trivium di atas. Maka jangan heran, jika ‘Jawa’ menjadi tempat persilangan peradaban dan penyatuan
secara harmoni berbagai nilai/ajaran yang berinduk dari Hindu, Budha, Islam, Kristiani, Konghucu, dan kepercayaan politiesme yang hidup di berbagai suku dengan sikap dasar trivium tersebut

Di atas. Fakta ini menegaskan bahwa manusia dan kebudayaan Jawa adalah suatu unikum dan sekaligus universum peradaban. Unikum menunjukkan kekhasan dan kualitas yang
membedakan dengan unikum lainnya.

Sementara universum menunjukkan keluasan horizon jangkauan maknanya dalam
ruang dan waktu.

📚 Artikel Terkait

Blang Padang: Milik TNI atau Milik Mesjid Raya Baiturrahman?

BELAJAR BAHASA INGGRIS GRATIS BAGI ANAK MISKIN

Dwifungsi Dan Moonlighting

Relawan Lain

Terkait dengan itu, buku yang sedang kita baca ini membahas tentang konsep ‘mulat sarira’ yang dijadikan semacam paradigma dalam memahami tingkah-polah manusia hari ini,
yang mungkin diasumsikan ‘wis ilang Jawane’ – manusia yang rasa dan lakunya sudah masuk stadium ‘ora Jawa’. Ini menggelisahkan memang!

‘Mulat sarira’ sesungguhnya menggambarkan capaian tertinggi kualitas rasa dan laku manusia. Sebelum memasuki stadium paripurna tersebut, manusia secara acak dan kondisional sering menampilkan kualitas rasa dan laku terendah, yaitu ‘nanding sarira’. Stadium ini manusia masih mengumbar hawa
nafsunya dengan cara membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Dengan cara ini pada akhirnya menganggap dirinya yang terbaik. Manusia semacam ini dalam kehidupan
di sekitar kita terlalu banyak untuk disebutkan.

Stadium berikutnya adalah ‘ngukur sarira’. Hal ini menggambarkan kualitas rasa dan laku yang menempatkan dirinya sebagai tolok ukur bagi orang lain. Artinya, manusia dipahami hanya berdasarkan tolok ukur atau kriteria yang dianggap benar menurut dirinya. Ada yang diposisikan sebagai subjek yang menghegemoni kebenaran, sementara lainnya sekadar objek kebenaran. Manusia jenis ini juga banyak bersliweran di sekitar kehidupan kita.

‘Tepa sarira’ adalah rasa dan laku yang kualitasnya semakin tinggi. Pada stadium ini manusia mampu berbagai rasa dan laku dengan manusia lain dalam kehidupan bersama.

Dalamkonteks ini, manusia dituntut merasakan apa yang dirasakan orang lain, sehingga muncul rasa empati dan simpati pada
sesama ‘jalma limprah’ (manusia biasa). Tahap ini selanjutnya mengantarkan kualitas rasa dan laku ‘mawas diri’ yang ditandai sikap mau melihat ke dalam dirinya sendiri secara jujur.
Kualitas diri ini akan menjadi ‘rem’ agar tidak mudah menilai manusia lain, sebelum berkaca pada diri sendiri. Ingat, ada ungkapan ‘ngiloa githokmu’ – bercerminlah dirimu! Manusia
semacam ini untungnya masih ada, meskipun mulai semakin langka keberadaannya.

Nah, kualitas diri yang berderajat tertinggi adalah ‘mulat sarira’. Konsep ini menggambarkan rasa dan laku yang didasarkan pada ‘mawas diri’, tetapi dalam tahapan ini manusia sudah mampu menemukan dirinya sebagai debu (entitas ‘jalma limprah’) di ‘jagat ageng’ dan ‘jagat alit’. Di dalam proses penghayatan kemenyatuan dua jagat ini, manusia memasuki suatu
pengamalaman batin yang tak tergambarkan.

Momentum ini merupakan puncak rasa dan laku yang terbimbing dan yang tercerahkan oleh cahaya kebenaran dari Gusti Allah Sang Maha Surya. Di sinilah manusia yang memasuki tahap ‘mulat sarira’ menemukan kualitas rasa dan laku dalam titik persilangan
‘yang horizontal’ dan ‘yang vertikal’. Di titik inilah ‘suwung’ dapat dirasakan hakekatnya di dalam ruang batin terdalam.

Tentu, manusia yang mampu mencapai pada skala tertinggi dalam kualitas rasa dan laku ini, sungguh semakin langka, jika tidak bisa disebut sudah tiada.

‘Mulat sarira’ pada akhirnya semacam utopia bagi manusia modern yang rasa dan lakunya semakin menjauh dari trivium
(theosentris-antroposentris-kosmosentris) yang telah menyejarah dalam rasa dan laku manusia Jawa dalam dimensi ruang
dan waktu serta makna yang luas. ‘Mulat sarira’ sesungguhnya sebentuk ajaran moral dan spiritualitas Jawa yang sang dalam. ‘Mulat sarira’ adalah ‘warisan ajaran spiritualitas Jawa’ untuk manusia secara luas, yang masih merasa sebagai manusia (‘jalma limprah’) yang bertransformasi menjadi ‘jalma lumrah’
– manusia yang hadir sebagai manusia seutuhnya, jiwa dan raganya sebagai ‘Wong Jawa’. Bila ‘kawruh luhur’ ini dinegasikan
sedemikian rupa hanya dengan mengatasnamakan kemodernan, ingatlah; kita akan ‘kualat pada leluhur’ yang nilai-nilainya berpancar kuat dari trivium tersebut.

  • Profesor Dr. Djuli Djatiprambudi, M.Sn. dosen pascasarjana Unesa, narasumber berbagai seminar nasional, peneliti pendidkan, penulis sejumlah buku tentang sosiologi seni rupa,
    direktur pemilik Omah Mikir Prambudi. Buku Karya Tunggal sudah mencapai 100 Judul. Kontributor BUKU MULAT SARRO OTO KRITIK MANUSIA.

MULAT SARIRA OTOKRITIK MANUSIA Penulis : Dr. Slamet Hendro Kusumo SH., MM.

xl+510 halaman; 15,5 x 23 cm

ISBN : 978-623-0891-40-9

Cetakan Pertama: Mei 2023

Penerbit : BILDUNG Yogyakarta Anggota IKAPI Bekerja sama dengan Omah Budaya Slamet -OBS-, Omah Mikir.ID, Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA JAWA TIMUR dan Perkumpulan Keluarga Besar Taman Siswa PKBTS Cabang Kota Batu

PITUTUR LUHUR LEGENDA SASTRA VISUAL’ SATUPENA JAWA TIMUR 24 Mei sampai 6 Juni 2025 di Galeri Raos Kota Batu Wisata Sastra Budaya SATUPENA JAWA TIMUR Gerakan Kembali Ke Buku GKKB BUKUKITA SATUPENA JAWA TIMUR BERGERAK PESAT Melejit ✒️

Kota Batu 17 Mei 2025
Akaha Taufan Aminudin
SATUPENA JAWA TIMUR

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Hari Buku di Era Artificial Intelligence

Hari Buku di Era Artificial Intelligence

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00