POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Jangan Bertanya Tentang Wilayah Tuhan!

Muhammad KharaziOleh Muhammad Kharazi
May 9, 2025
Jangan Bertanya Tentang Wilayah Tuhan!
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Tgk. Muhammad Kharazi, M. Ag

Dalam dunia yang serba rasional ini, kita begitu mudah tergoda untuk menakar segala hal dengan ukuran logika. Apa pun yang tak bisa dijelaskan secara akal, akan digugat, dicurigai, bahkan ditolak. Termasuk urusan yang mestinya kita letakkan dalam ruang keimanan: wilayah Tuhan.

Sering kita mendengar pertanyaan yang melampaui batas nalar yang patut. Mengapa Tuhan menciptakan orang-orang yang tidak beriman? Mengapa ada penderitaan di dunia, jika Tuhan Maha Pengasih? Mengapa Dia menghendaki sesuatu yang pada akhirnya dilarang-Nya? 

Pertanyaan-pertanyaan ini kerap diajukan bukan untuk mencari pemahaman, melainkan untuk merobohkan keyakinan.

Padahal, dalam tradisi keislaman—yang juga diakui oleh agama-agama samawi lainnya—ada garis batas yang tak boleh dilintasi: wilayah Tuhan adalah sesuatu yang suci dan tak tersentuh oleh akal manusia yang terbatas. Di situlah letak perbedaan mendasar antara manusia sebagai makhluk dan Tuhan sebagai Sang Khalik. 

Kita, dengan segala daya pikir yang membanggakan, tetaplah ciptaan yang tidak akan mampu menjangkau keseluruhan hikmah di balik ketetapan Ilahi.

Di dalam Al-Qur’an, Tuhan menegaskan, “لَا يُسْـَٔلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْـَٔلُوْنَ” – Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah (manusia) yang akan dimintai pertanggungjawaban. 

Ayat ini bukan sekadar kalimat teologis, tapi juga peringatan epistemologis: tidak semua hal bisa dan harus dipahami. Ada hal-hal yang cukup untuk diimani dan disikapi dengan takzim, bukan ditantang atau diuji dengan nalar yang dangkal.

📚 Artikel Terkait

Masa Depan Indonesia: Optimisme di Tengah Guncangan Global

114 Tahun Sawit Aceh Ramah Anak

Hikmah Tahun Baru Islam 1443 H

URGENSI SEPEDA DIERA DIGITALISASI

Kehendak Tuhan itu luas, mencakup segala yang tampak dan tersembunyi. Dia menghendaki iman dan kufur, kebaikan dan keburukan, namun Dia hanya memerintahkan pada kebaikan dan melarang keburukan. Di sinilah muncul paradoks yang membuat Mu’tazilah—mazhab rasionalis Islam klasik—gelisah, lalu menyimpulkan bahwa Tuhan pasti menghendaki sesuatu sesuai dengan perintah-Nya. 

Namun para ulama Ahlus Sunnah menegaskan: kehendak Tuhan tidak selalu identik dengan perintah-Nya, karena kehendak-Nya mencakup realitas, bukan sekadar norma.

Penjelasan indah dan mendalam tentang hal ini dapat ditemukan dalam karya besar Fathul Majid syarh atas Durrul Farid fi ‘Aqidah Ahl al-Tauhid oleh Syaikh Nawawi al-Bantani. Dalam kitab itu, diceritakan dialog yang mengungkap kerapuhan logika Mu’tazilah saat berhadapan dengan hujjah para ulama Ahlus Sunnah.

Dikisahkan bahwa Qadhi ‘Abd al-Jabbar al-Mu’tazili masuk ke majelis menteri Shâhib bin ‘Abbâd, di mana saat itu hadir pula Imam Ahlus Sunnah, Abu Ishaq al-Isfara’ini. Qadhi berkata, “Subhân man tanazzaha ‘an al-fahsyâ” (Maha Suci Allah yang bersih dari keburukan). Abu Ishaq langsung menangkap maksud tersembunyi di balik pernyataan itu lalu menjawab, “Subhân man lâ yajri fî mulkihi illâ mâ yashâ’” (Maha Suci Allah yang tidak terjadi apa pun dalam kerajaan-Nya kecuali sesuai kehendak-Nya).

Qadhi pun melanjutkan: “Apakah Tuhan kita menghendaki kemaksiatan?” Abu Ishaq menjawab: “Apakah Tuhan kita didurhakai dalam keadaan dipaksa?”

Qadhi kemudian mencoba menyudutkan: “Bagaimana jika Dia mencegahku dari petunjuk dan menetapkan kebinasaan bagiku, apakah itu termasuk kebaikan atau keburukan?” Maka dijawab dengan tegas: “Jika Dia mencegahmu dari sesuatu yang bukan milikmu, maka itu bukan keburukan. Namun jika Dia mencegahmu dari milik-Nya, maka Dia adalah Pemilik, dan Pemilik berhak bertindak atas miliknya sesuka hati. 

Dia memberi rahmat kepada siapa yang Dia kehendaki.”

Mendengar jawaban itu, Qadhi pun bungkam. Para hadirin berkata, “Tak ada lagi jawaban setelah ini—demi Allah, seolah-olah ia telah dibungkam dengan batu.” Inilah yang oleh para ‘arifin disebut sebagai wahdat al-af‘âl — keesaan dalam perbuatan, bahwa segala yang terjadi adalah dalam genggaman dan kehendak-Nya semata.

Kisah ini menegaskan satu hal: mempertanyakan keputusan Tuhan dengan kerangka logika manusia semata adalah kekeliruan epistemologis dan ketidakadaban spiritual. Tuhan tidak ditanya tentang apa yang Dia lakukan, bukan karena kita dilarang berpikir, tetapi karena kita bukan siapa-siapa di hadapan-Nya.

Maka, jangan bertanya tentang wilayah Tuhan dengan nada menggugat. Bertanyalah untuk menjadi hamba yang lebih tunduk, bukan menjadi hakim yang ingin menilai Sang Pencipta. Sebab sejauh apa pun akal berjalan, akan ada batas di mana ia mesti  berlutut.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 58x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 53x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Muhammad Kharazi

Muhammad Kharazi

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Puisi-Puisi Hari Tua, Gimien Artekjursi

Puisi-Puisi Hari Tua, Gimien Artekjursi

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00