• Latest
Riverwalk (Tepi Kali) Penayong

Riverwalk (Tepi Kali) Penayong

Mei 8, 2025
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Riverwalk (Tepi Kali) Penayong

Redaksiby Redaksi
Mei 9, 2025
Reading Time: 6 mins read
Riverwalk (Tepi Kali) Penayong
606
SHARES
3.4k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Ira Susanti

Aku membawa perasaan tidak enak di bahu kiri sejak bangun tidur pagi. Upaya meringankan dengan mencari tempat bersantai yang enak dan membahagiakan mata. Pilihan yang sesuai dengan seleraku yang suka alam dan kesenyapan.  

Beberapa pilihan ditawarkan oleh pendampingku.  Akhirnya pilihan adalah sebuah kafe di dekat Jembatan Peunayong. Jembatan kenangan dengan bau amis ikan yang menyengat atau sekarang bau itu sudah hilang?

Baru kali ini aku bisa memandang langsung ke bawah jembatan dari tempat dudukku di sebelah selatan sungai. Kami memilih tempat duduk yang menjorok ke sungai. Ternyata para nelayan memanfaatkan bawah jembatan sebagai tempat menyimpan perahu setelah dibawa berlayar semalam. Pemandangan perahu yang beraneka warna juga menimbulkan daya pandang yang indah. 

Gradasi warna perahu memanjakan mata walau sedikit terganggu dengan kekusaman warna air sungai, kemungkinan dipengaruhi oleh lumpur yang dibawa oleh air dari hulu, berhubung ini musim hujan.

Tampak pemandangan nelayan sedang merawat perahu. Ada yang sedang membersihkan, atau sekadar beristirahat menunggu jam keberangkatan kembali nanti sore. Sebahagian mereka duduk di bawah jembatan di bantaran sungai. Seperti tempat peristirahatan darurat seadanya, di peruntukkan begitu saja. 

Sekilas tampak seperti bermalas-malas dan menghabiskan waktu percuma, tapi sebenarnya tidak sama sekali. Mereka beristirahat menunggu jam bekerja keras nanti malam dalam memperdaya ikan masuk ke jaring atau joran pancing mereka.

Kafe tempat kami menikmati teh susu terletak berseberangan dengan tanah kosong bekas penjara kota. Penjara itu sendiri hancur ketika tsunami mengguncang kota, 17 tahun lalu. berdekatan dengan pemberhentian bus Trans Kutaraja, tepatnya satu komplek dengan taman pinggir kali. Terletak di Jalan Cut Meutia, yang merupakan salah satu jalan tertua di Kota Banda Aceh. 

Banyak bangunan peninggalan Belanda masih tersisa sampai saat ini, semisal gedung Bank Indonesia. Di sana sebelum tsunami, merupakan wilayah pemukiman padat penduduk. Bahkan menurut cerita saudara kami, mereka disebut warga Merduati. Tsunami telah memporak-porandakan wilayah dan tatanan masyarakat di sana. Terkesan sekarang di sana hanya tersisa bagunan-bangunan baru pasca tsunami. Bahkan lebih banyak toko tempat usaha. Kemungkinan penduduk yang tersisapun sudah banyak yang tidak membangun rumah lagi. Sekarang di sana sudah menjadi wilayah tengah kota yang lebih diperuntukkan sebagai tempat usaha.

Di belakang kafe ada jalan setapak untuk warga kota berjalan kaki atau berolah raga. Taman sebelah bisa digunakan untuk bersantai. Ada bangku-bangku ukir dari besi yang diletakkan sepanjang jalan setapak. Dalam taman sendiri juga disediakan meja dan kursi untuk duduk santai. Cuma apakah warga kota memanfaatkan taman ini dengan sebaiknya? 

Secara kota Banda Aceh sangat dekat dengan pantai-pantai yang masih cukup asri semisal Pantai Ulee Lhe dan Pantai Alue Naga. Bahkan Kueng Aceh sendiri bermuara ke Pantai Alue Naga yang terletak di kecamatan Syiah Kuala.

Tahun 1992, aku masih kelas 2 sekolah menengah. SMP 1 Banda Aceh yang terletak di dekat Blang Padang, lapangan terbuka terluas di Kota Banda Aceh. Aku yang tinggal di luar kota, harus berangkat pagi-pagi menuju kota. Kebetulan tahun tersebut, aku tinggal dengan Tanteku di daerah Kecamatan Masjid Raya. Jalan lintas menuju Pelabuhan kapal laut, Krueng Raya. Berjarak lebih kurang sepuluh kilo meter dari kota. 

Baca Juga

Konsistensi POTRET Dalam Merawat Literasi Anak Bangsa

Konsistensi POTRET Dalam Merawat Literasi Anak Bangsa

Januari 18, 2026
Mengintip Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi

Mengintip Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi

Januari 2, 2026
Tahun Baru yang Sunyi di Kampung

Tahun Baru yang Sunyi di Kampung

Januari 2, 2026

Dari komplek guru Desa Lam Nga Pasi, berangkat pukul 07:00 WIB dengan menggunakan labi-labi. Uniknya, dalam labi-labi kami biasa bersamaan dengan bapak nelayan yang membawa ikan dalam keranjang rotan ke Pasar Peunayong. 

Bapak berperawakan tinggi besar dengan tangan besar dan telapak tangan penuh kapalan. Telapak tangannya tersayat-sayat benang pancing, terkesan seperti gabus yang diletakkan di atas telapak tangan beliau lalu disayat-sayat melintang antara jempol dan telunjuk sampai bawah telapak tangan, lima sayatan atau lebih.

Bapak-bapak ini sering naik dari pusat pemberhentian boat, Desa Lambada Cut. Mereka membawa beraneka ragam ikan yang menurutku unik. Aku yang berasal dari daerah hulu Aceh Besar, tidak banyak mengenal jenis ikan. Yang paling popular ikan tuna, tongkol, teri, dencis dan beberapa ikan kecil lain yang diperdagangkan di pasar kecil dekat kampungku. Tapi dalam keranjang para bapak ini beraneka ragam warna dan bentuk. 

Ukurannya kadang juga bisa menandingi ukuran badanku. Warna jingga dengan sisik yang lebar, warna abu dengan ukuran besar, sampai setengah badannya menjuntai keluar keranjang. Tapi uniknya aku senang bersamaan dengan mereka walau ditambah keranjang-keranjang ikan itu. Menambah pengetahuan dan pengalamanku. Itu hal yang sangat baru bagiku. Sambil menempuh perjalanan, kupingku juga menangkap cerita melaut mereka. Suka duka dan cerita tentang hasil tangkapan, diserang angin dan sebagainya. 

Mereka bersahaja dan tampak bahagia dengan pekerjaan mereka. Pengalaman menarik karena dalam keluargaku yang tinggal di hulu, tidak ada yang berprofesi sebagai nelayan.

Labi-labi akan masuk ke kawasan pusat Pasar Peunayong jika ada ikan yang harus diturunkan. Kadang kalau nelayan lebih banyak dari kami pelajar di dalam labi-labi, kenek labi-labi akan meminta kami untuk turun disana, padahal tujuan kami ke Pasar Aceh. 

Suatu hari akupun harus turun di sana karena labi-labi tidak lagi menempuh perjalanan ke Pasar Aceh. Terpaksa aku harus menempuh jalan kaki sejauh 2 km menuju sekolahku di dekat Blang Padang. Aku melewati Jembatan Peunayong, Jalan Cut Meutia, menyeberang Jalan Diponegoro, masuk halaman Mesjid Raya Baiturrahman, menuju Jalan Muhammad Jam, melewati depan Bioskop Garuda, menuju jalan K.H.A Dahlan, lalu kejalan Prof. A. Majid Ibrahim I dimana sekolahku berada. Cukup jauh tapi tidak melelahkan bagiku karena kakiku sudah sangat terlatih berjalan kaki sejak aku sekolah dasar. 

Jembatan Peunayong yang melegenda bagiku, memberi kesan yang sangat mendalam. Jembatan ini masih kokoh walau pernah melewati gempa besar dan di hantam gelombang tsunami yang setelah itu, memberi jarak pandang lapang sampai ke laut akibat semua bangunan, pohon telah disapu bersih oleh tsunami. 

Aku menginjakkan kaki melewati untuk pertama pada tahun 1992, pagi hari karena labi-labi menurunkan ikan di pasar di samping sebelah utara jembatan. Bau amis yang menyengat menyeruak masuk ke hidungku ketika kakiku mulai menapaki ujung jembatan sebelah timur, makin ketengah makin kentara tercium bau itu. 

Di belakang pasar berjejeran perahu tertambat. Air buangan pasar ikan , langsung dibuang ke sungai. Aku memperkirakan akibat inilah jika kita melewati jembatan, maka tercium bau amis yang sangat menyengat. Hari-hari berikutnya jika aku lewat dengan labi-labi maka bau khas itupun tak bisa di hindari.

Sekarang pasar ikan peunayong tidak ada lagi. Pemerintah kota Banda Aceh telah memindahkan pasar ikan ke pusat pasar kota di Lamdingin. Kemarin ketika aku lewat di atas jembatan itu terasa ada yang hilang. Sengaja aku menjulurkan kepala dan menarik nafas dalam-dalam. Iya.. bau amis itu tidak ada lagi. Menurutku ciri khas jembatan peunayong telah pergi. Suasana di dekat pasarpun mulai lenggang, tidak ada lagi hiruk pikuk pedagang ikan, pedagang ayam yang berceloteh menawarkan dagangannya. 

Bunyi toa masjid sudah mulai menyiarkan suara mengaji. Kami bersiap-siap keluar dari kafe menuju masjid untuk menunaikan Salat Zuhur berjamaah. Ada dua pilihan masjid dari arah kafe tempat kami mangkal tadi. Masjid Teungku Di Anjong yang berada di jalan menuju Kampung Jawa, sebelah barat sungai atau Masjid Muttaqin yang terletak di Pasar Peunayong, sebelah timur sungai. 

Pilihan kami jatuh kepada Masjid Muttaqin, untuk membuktikan apakah masih ada bau amis di dekat masjid seperti pernah kami cium dulu ketika kami pernah ke sana. 

Ternyata ketika kakiku melangkah menuju tempat wudhu wanita yang terletak di belakang masjid, aku menarik sudut bibirku, ternyata bau itu masih ada. Inilah ciri khas pasar Peunayong, bau ikan yang melegenda. Terang saja bau itu masih ada. Toilet dan tempat wudhu terletak paling belakang masjid yang berarti berada di atas bantaran sungai, yang setelahnya di atas sungai tertambat perahu nelayan yang berjumlah sampai ratusan. Pastilah bau ikan tidak bisa pergi dari kenyataan itu. 

ADVERTISEMENT

Sedikit masih yang menggugah ingatanku. Mudah-mudahan tulisan ini ada manfaat bagi yang membaca dan menambah kecintaan kepada daerah kita. Bisa melakukan hal-hal positif dan niat perubahan kearah yang lebih baik. Banyak hal positif dan tindakan sederhana bisa dilakukan, semisal membuang sampah pada tempatnya. Terima kasih.

Bionarasi

Ira Susanti, lahir di Aceh Besar. Ibu dari 2 putri dan 1 putra. Berprofesi sebagai guru. Menggemari membaca dan menulis sejak sekolah dasar. Menulis adalah gairah hidupnya. Berharap selalu diberikan kemudahan dan keberkahan oleh Allah dalam menyelesaikan tulisan-tulisannya. Harapan besar, bahwa tulisannya bisa bermanfaat dan memberikan semangat bagi yang membaca.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 256x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Serangkai Puisi Ai Lundeng

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com