POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Kerusakan Negeri dan Azab yang Menanti

Azharsyah IbrahimOleh Azharsyah Ibrahim
May 5, 2025
Kerusakan Negeri dan Azab yang Menanti
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Azharsyah Ibrahim

Sebagaimana tulisan saya sebelumnya di potretonline.com “Korupsi sebagai jalur karier di Konoha”, di negeri yang kaya raya dan subur makmur ini, korupsi tak lagi sekadar kejahatan individu—ia telah berubah menjadi “karier”tersendiri. Seakan-akan memegang jabatan publik adalah tiket masuk ke sebuah klub elit, kita sebut saja “SGMUaK” atau “suka-suka gue merampas uang rakyat”, di mana anggota-anggota “VIP” itu berhak menikmati fasilitas mewah dari hasil suap, gratifikasi, dan penyalahgunaan wewenang.

Semakin tinggi posisi, semakin besar “upah kotor”-nya. Akibatnya, sistem hukum dan tata negara di Indonesia nyaris lumpuh: undang-undang dipelintir, penegak hukum diintervensi, hingga pelemahan lembaga pengawas seperti KPK dengan berbagai revisi undang-undangnya. 

Fakta Kerusakan Negeri Modern

Dalam beberapa dekade terakhir, kita terus dipertontonkan berbagai skandal korupsi yang seolah saling berlomba untuk memecah rekor, baik dari sisi keragaman maupun nominal rupiahnya. Contohnya, skandal “pengoplosan” BBM di subholding Pertamina Patra Niaga, yang merugikan negara hingga Rp 193,7 triliun hanya dalam satu tahun. Sebelumnya, kerugian lewat skandal eKTP pernah menembus Rp 2,3 triliun, meruntuhkan kepercayaan publik pada anggota DPR dan pemerintah. Belum lagi kasus BLBI pada akhir 1990-an, yang menimbulkan utang negara hingga Rp 138 triliun, atau skandal Asabri dan Jiwasraya yang masing- masing merugikan puluhan triliun rupiah. Rangkaian kejadian ini menunjukkan pola serupa: setiap kali satu kasus dicanangkan, muncul lagi yang lebih besar. Sistem hukum?.… “Tumpul ke atas, tajam ke bawah”—itulah ungkapan yang kerap terngiang di benak rakyat.

Sementara itu, pemilihan pejabat publik—dari kepala desa hingga presiden—kian sarat dengan intrik politik dan uang. Institusi-institusi pengawasan publik yang seharusnya mengawasi malah direbut kekuasaannya, sedangkan masyarakat awam tak punya lagi saluran efektif untuk menuntut pertanggungjawaban. Ketika sebuah negara memelihara akar korupsi hingga begitu dalam, bukan hanya uang yang hilang: kepercayaan, harapan, dan akhirnya moralitas kolektif ikut terkikis.

Pelajaran dari Umat yang Dihancurkan

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menurunkan azab kepada bangsa-bangsa yang telah mencapai titik nadir kerusakan, sehingga tak ada lagi harapan untuk diperbaiki. Contohnya adalah umat Nabi Nuh yang dakwahnya berlangsung ratusan tahun, namun hanya sedikit yang beriman. Ketika kezaliman dan penindasan menjadi budaya, Allah menurunkan banjir bandang yang memusnahkan mereka semua, kecuali Nuh dan pengikutnya. Kaum Nabi Luth (Sodom dan Gomora) menjadikan hawa nafsu sebagai hukum dan menolak ajakan Nabi Luth untuk kembali ke jalan lurus, sehingga Allah menimpakan gempa dahsyat dan hujan belerang sebagai azab. Kaum ‘Ad dan Tsamud juga mengalami nasib serupa; kaum ‘Ad enggan tunduk kepada perintah Nabi Hud, sedangkan Tsamud mengolok-ngolok perintah Allah dan Rasul-Nya agar tidak membunuh unta betina mukjizat dari Nabi Shalih, sehingga keduanya musnah oleh angin topan dan gempa bumi akibat keangkuhan dan kebiadaban mereka. Fir’aun dan kaumnya yang mengaku dewa, menganiaya Bani Israil, dan menolak panggilan Nabi Musa, akhirnya tenggelam di Laut Merah ketika Allah membelah laut untuk menyelamatkan Musa dan pengikutnya. Kaum Nabi Syuaib yang menghalalkan penipuan dalam perdagangan dan menolak keadilan juga dihancurkan oleh azab gempa dan kehancuran total. Intinya, azab Allah selalu turun ketika rakyat sudah sulit lagi diingatkan oleh para rasul—ketika ada “titik kritik” di mana tak ada lagi kaum yang berusaha bertaubat.

Korelasi dengan Indonesia Masa Kini

📚 Artikel Terkait

Perjalanan

Jangkar SMKN 1 Jeunieb Hadirkan Pojok Baca di Kantin Sekolah

Jangan Jadikan Otak Sebagai Tong Sampah

In Memoriam Sejarawan Anthony Reid

Fenomena korupsi dan kerusakan moral di Indonesia menimbulkan kerusakan yang serupa dengan bangsa-bangsa yang dihancurkan azab. Ketika modal besar menuntut imbal jasa, kita melihat proyek-proyek strategis dipantomimi untuk menjustifikasi pembengkakan anggaran, dan hukum digunakan untuk membela kedudukan, bukan menegakkan keadilan.

Para pemimpin sering kali gagal memperbaiki sistem; setiap kali ada kasus besar, kita berharap “reformasi birokrasi”, namun biasanya hanya bersifat superficial, menggantikan wajah tanpa mengubah budaya. Ruang publik juga dikekang, dengan lembaga yang mengawasi korupsi dilemahkan dengan legislasi: kelembagaan dikurangi kewenangannya, anggaran dipangkas, hingga pemimpinnya digoyang.

Seiring dengan ritme itu, masyarakat kehilangan harapan. Alhasil, ujian hidup menumpuk, seperti pandemi COVID-19, inflasi harga kebutuhan pokok, kemiskinan ekstrem, dan bencana alam yang membuat setiap kegagalan tata kelola semakin terasa pahit.

Tidak Ada Perubahan, Azab Menanti

Mengaca dari umat-umat terdahulu, azab diturunkan Allah SWT jika kerusakan sudah berada pada titik yang tidak lagi bisa diperbaiki. Jika kita terus membiarkan kerusakan itu berjalan, tidak ada upaya memperbaiki diri hingga tak ada lagi penegak hukum yang berintegritas, maka azab sosial, ekonomi, bahkan alam—berskala dahsyat, seperti banjir, gempa, atau krisis berkepanjangan yang sulit tertahankan.

Dalam Al-Quran Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. ArRa’d: 11)

Serta:

“Dan apabila Kami hendak membinasakan suatu negeri, Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (untuk bertakwa), tetapi mereka melakukan kefasikan. Lalu keluarlah keputusan Kami, dan Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”
(QS. AlIsra’: 16)

Untuk menuju ke solusi yang efektif, diperlukan reformasi total dan kesadaran bersama. Reformasi hukum yang tegas harus diterapkan, dengan penegakan hukum tanpa pandang bulu dan penjatahan sanksi berat bagi koruptor kelas kakap. Pendidikan anti-korupsi juga penting, dengan menanamkan nilai kejujuran dan keadilan sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Kemajuan teknologi dapat dimanfaatkan untuk transparansi dan open data pemerintah untuk memantau anggaran publik. Partisipasi aktif masyarakat sangat diperlukan, di mana setiap warga negara menjadi pengawas yang melaporkan praktik tak wajar dan mendukung whistleblower. Selain itu, spirit tauhid dan hari pembalasan harus diingat, bahwa semua kekuasaan di dunia bersifat fana dan kehidupan hakiki adalah setelah mati. Kesadaran ini akan menumbuhkan integritas yang kokoh.

Opini ini mengajak kita untuk menengok kembali pelajaran sejarah umat terdahulu yang telah ditimpakan azab Allah saat “harapan itu sirna”. Indonesia hari ini sedang berada di persimpangan: apakah kita terus menapak jalur karier korupsi dan menanti kehancuran, atau kita bangkit, bertaubat, dan merintis reformasi total? Sebab, ketika sebuah kaum sudah sulit lagi diingatkan, azab menunggu dengan kekuatan yang luar biasa dahsyat. Semoga kita termasuk ke dalam golongan yang menyadari, bertaubat, dan memperbaiki negeri tercinta.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 84x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share6SendShareScanShare
Azharsyah Ibrahim

Azharsyah Ibrahim

Short Biography Prof. Dr. Azharsyah Ibrahim, SE., Ak., M.S.O.M. adalah Guru Besar Manajemen Syariah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Meraih S-1 di Ekonomi/Akuntansi dari Universitas Syiah Kuala (2001), S-2 Operations Management dengan beasiswa Fulbright di Amerika Serikat (2008), dan menyelesaikan program doktoral Manajemen Syariah di University of Malaya pada 2015. Memiliki sejumlah publikasi akademik yang dapat diakses online. Di kampus, menjabat sebagai Kepala Satuan Pengawasan Internal (SPI) dan Editor in Chief dua jurnal ilmiah terakreditasi. Selain itu, aktif sebagai editor dan reviewer di jurnal nasional dan internasional bereputasi, termasuk yang terindeks Scopus dan Web of Science, serta menjadi narasumber di berbagai pertemuan ilmiah. Prof. Azharsyah berdomisili di Limpok, Aceh Besar, dan dapat dihubungi melalui email: azharsyah@gmail.com.  

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Menumbuhkan Minat Baca Anak Lewat E-Book Digital Berbasis AI

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00