POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Sebuah Refleksi Sosial; Berpendidikan Tinggi, Tapi Tak Bisa Mengantre: Di Mana Budaya Etika Kita?

Hanif ArsyadOleh Hanif Arsyad
May 2, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Hanif Arsyad

Seringkali kita merasa gerah atau jengkel ketika berhadapan dengan orang-orang yang suka menerabas, seperti yang melakukan aksi menerobos lampu merah, atau ketika kita sedang dalam antrean melihat ada orang-orang tanpa malu-malu menerabas,tidak mau antre. Padahal lokasi itu di tempat orang-orang yang berlatar belakang pendidikan tinggi dan berasal dari kalangan orang yang kelas menengah ke atas.

Melihat fenomena atau realitas semacam ini, muncul beberapa pertanyaan yang mengelitik hati, kenapa orang yang sudah menyandang gelar pendidikan bahkan dipertuan agung, tapi masih buang sampah sembarangan, masih tidak tahu ekita mengantri, bahkan ada sebagian orang melakukan kewajiban shalat dan kewajiban kewajiban agama yang lain dilaksanakan, tetapi kenapa masih menipu dan korupsi?

Pemandangan ini mungkin sudah menjadi bagian dari keseharian kita. Seseorang dengan gelar akademik tinggi menyela antrean di bandara. Seorang tokoh yang dikenal religius, ternyata terlibat dalam praktik penipuan. Banyak yang rajin salat, tetapi curang dalam berdagang. Pertanyaannya, mengapa pendidikan tinggi dan religiositas belum selalu sejalan dengan perilaku etis?

Inilah salah satu paradoks sosial di negeri kita. Budaya beretika belum sungguh-sungguh tertanam dalam kehidupan masyarakat, meski indikator kemajuan seperti akses pendidikan dan kesalehan ritual tampaknya sudah meningkat.

Pendidikan Tak Menjamin Etika

Dalam banyak kasus, pendidikan formal lebih fokus pada aspek kognitif: nilai ujian, gelar, dan kemampuan teknis. Sayangnya, pendidikan karakter sering kali hanya jadi pelengkap kurikulum, bukan prioritas utama. Padahal, kecerdasan tanpa etika bisa menjadi bumerang—menjadikan ilmu sebagai alat untuk menipu atau menyiasati hukum.

Agama Tak Cukup Jika Hanya Ritual

📚 Artikel Terkait

Melihat di Balik Layar: Perang Komentar yang Mengungkap Krisis HIV/AIDS di Indonesia dan Filipina

PELAJARAN MEMBACA BAGI KAUM JELATA

1000 Sepeda untuk Masyarakat Aceh : Pentingkah?

Pentingnya Menghadirkan Pendidikan Pengambilan Keputusan Finansial dalam Kurikulum

Begitu pula dengan agama. Ibadah memang penting, tetapi inti dari keberagamaan adalah akhlak. Nabi Muhammad SAW sendiri menegaskan bahwa misi kenabiannya adalah menyempurnakan akhlak mulia. Jika seseorang salat lima waktu, namun tetap tidak jujur atau gemar mengambil hak orang lain, maka ada yang keliru dalam cara ia menjalankan agamanya.

Budaya Sosial Kita: Antara Simbol dan Substansi

Masyarakat kita kerap lebih menghargai status dan simbol: gelar, jabatan, popularitas. Integritas dan keteladanan kadang dinomorduakan. Figur publik yang tampil sederhana dan jujur tidak selalu jadi panutan, tergeser oleh mereka yang pandai membangun citra. Tak heran jika praktik tak etis seperti menyerobot antrean atau menyuap dianggap hal lumrah.

Butuh Kesadaran Kolektif

Perubahan harus dimulai dari kesadaran bersama: bahwa kemajuan sejati tidak hanya soal pembangunan fisik atau prestasi akademik, tetapi juga tentang kualitas moral masyarakat. Pendidikan perlu kembali ke tujuan awalnya: membentuk manusia seutuhnya—cerdas secara intelektual, matang secara emosional, dan kokoh secara moral.

Kita butuh teladan. Dari orang tua di rumah, guru di sekolah, tokoh agama di mimbar, hingga pejabat publik di ruang kekuasaan. Budaya etika dibangun dari hal kecil: membuang sampah pada tempatnya, mengantre dengan tertib, jujur dalam transaksi, tepat waktu dalam janji. Itulah tanda peradaban.

Penutup

Sudah waktunya kita bertanya, bukan hanya apa gelarmu? atau bagaimana salatmu? Tapi juga: bagaimana perilakumu? Adab di atas ilmu yang sering sekali kita dengar, tetapi adab ini sering kita abaikan dalam aplikasi keseharian kita, kualitas sebuah bangsa tidak hanya diukur dari indeks ekonomi atau jumlah lulusan, tetapi dari seberapa etis warganya dalam hidup bermasyarakat.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Hanif Arsyad

Hanif Arsyad

Hanif Arsyad adalah lulusan Magister Pendidikan Bahasa Inggris USK, berpengalaman sebagai dosen, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya aktif menulis di bidang pendidikan karakter, pengembangan SDM, serta kajian kebahasaan dan sosial. Saat ini, saya mengajar di Universitas Malikussaleh dan Hanna English School sebagai owner yang berlokasi di Aceh Utara. Saya juga menjabat sebagai Koordinator Yayasan Askar Ramadhan di Aceh yang bergerak di bidang sosial, serta dipercaya sebagai Kepala Sekolah Akademi Berbagi untuk klaster Aceh Utara dan Lhokseumawe. Keahlian saya mencakup penulisan ilmiah, editing, dan pendampingan riset.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Mewujudkan Pendidikan Bermutu lewat Literasi Sosial dan Ekologis

Ketika Sastra Alpa dari Bangku Sekolah

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00