• Latest

Sebuah Refleksi Sosial; Berpendidikan Tinggi, Tapi Tak Bisa Mengantre: Di Mana Budaya Etika Kita?

Mei 2, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Sebuah Refleksi Sosial; Berpendidikan Tinggi, Tapi Tak Bisa Mengantre: Di Mana Budaya Etika Kita?

Hanif Arsyadby Hanif Arsyad
Mei 2, 2025
Reading Time: 3 mins read
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Hanif Arsyad

Seringkali kita merasa gerah atau jengkel ketika berhadapan dengan orang-orang yang suka menerabas, seperti yang melakukan aksi menerobos lampu merah, atau ketika kita sedang dalam antrean melihat ada orang-orang tanpa malu-malu menerabas,tidak mau antre. Padahal lokasi itu di tempat orang-orang yang berlatar belakang pendidikan tinggi dan berasal dari kalangan orang yang kelas menengah ke atas.

Melihat fenomena atau realitas semacam ini, muncul beberapa pertanyaan yang mengelitik hati, kenapa orang yang sudah menyandang gelar pendidikan bahkan dipertuan agung, tapi masih buang sampah sembarangan, masih tidak tahu ekita mengantri, bahkan ada sebagian orang melakukan kewajiban shalat dan kewajiban kewajiban agama yang lain dilaksanakan, tetapi kenapa masih menipu dan korupsi?

Pemandangan ini mungkin sudah menjadi bagian dari keseharian kita. Seseorang dengan gelar akademik tinggi menyela antrean di bandara. Seorang tokoh yang dikenal religius, ternyata terlibat dalam praktik penipuan. Banyak yang rajin salat, tetapi curang dalam berdagang. Pertanyaannya, mengapa pendidikan tinggi dan religiositas belum selalu sejalan dengan perilaku etis?

Inilah salah satu paradoks sosial di negeri kita. Budaya beretika belum sungguh-sungguh tertanam dalam kehidupan masyarakat, meski indikator kemajuan seperti akses pendidikan dan kesalehan ritual tampaknya sudah meningkat.

Pendidikan Tak Menjamin Etika

Dalam banyak kasus, pendidikan formal lebih fokus pada aspek kognitif: nilai ujian, gelar, dan kemampuan teknis. Sayangnya, pendidikan karakter sering kali hanya jadi pelengkap kurikulum, bukan prioritas utama. Padahal, kecerdasan tanpa etika bisa menjadi bumerang—menjadikan ilmu sebagai alat untuk menipu atau menyiasati hukum.

Agama Tak Cukup Jika Hanya Ritual

Begitu pula dengan agama. Ibadah memang penting, tetapi inti dari keberagamaan adalah akhlak. Nabi Muhammad SAW sendiri menegaskan bahwa misi kenabiannya adalah menyempurnakan akhlak mulia. Jika seseorang salat lima waktu, namun tetap tidak jujur atau gemar mengambil hak orang lain, maka ada yang keliru dalam cara ia menjalankan agamanya.

Budaya Sosial Kita: Antara Simbol dan Substansi

Masyarakat kita kerap lebih menghargai status dan simbol: gelar, jabatan, popularitas. Integritas dan keteladanan kadang dinomorduakan. Figur publik yang tampil sederhana dan jujur tidak selalu jadi panutan, tergeser oleh mereka yang pandai membangun citra. Tak heran jika praktik tak etis seperti menyerobot antrean atau menyuap dianggap hal lumrah.

Butuh Kesadaran Kolektif

Perubahan harus dimulai dari kesadaran bersama: bahwa kemajuan sejati tidak hanya soal pembangunan fisik atau prestasi akademik, tetapi juga tentang kualitas moral masyarakat. Pendidikan perlu kembali ke tujuan awalnya: membentuk manusia seutuhnya—cerdas secara intelektual, matang secara emosional, dan kokoh secara moral.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 30, 2026

Kita butuh teladan. Dari orang tua di rumah, guru di sekolah, tokoh agama di mimbar, hingga pejabat publik di ruang kekuasaan. Budaya etika dibangun dari hal kecil: membuang sampah pada tempatnya, mengantre dengan tertib, jujur dalam transaksi, tepat waktu dalam janji. Itulah tanda peradaban.

Penutup

Sudah waktunya kita bertanya, bukan hanya apa gelarmu? atau bagaimana salatmu? Tapi juga: bagaimana perilakumu? Adab di atas ilmu yang sering sekali kita dengar, tetapi adab ini sering kita abaikan dalam aplikasi keseharian kita, kualitas sebuah bangsa tidak hanya diukur dari indeks ekonomi atau jumlah lulusan, tetapi dari seberapa etis warganya dalam hidup bermasyarakat.

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Mewujudkan Pendidikan Bermutu lewat Literasi Sosial dan Ekologis

Ketika Sastra Alpa dari Bangku Sekolah

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com