POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Pendidikan yang Memerdekakan: Refleksi Filosofis Hardiknas 2025

RedaksiOleh Redaksi
May 2, 2025
Pendidikan yang Memerdekakan: Refleksi Filosofis Hardiknas 2025
🔊

Dengarkan Artikel

  • Oleh: Remigius Ua

Setiap 2 Mei, bangsa ini memperingati Hari Pendidikan Nasional. Sebuah tanggal yang bukan sekadar ritus seremonial, tetapi peringatan akan lahirnya seorang pemikir besar: Ki Hajar Dewantara. Gagasan pendidikannya melampaui zamannya. Ia tidak hanya berbicara tentang bagaimana mengajar, tetapi mengapa kita harus mendidik. Ia mengimpikan pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia, yang memerdekakan pikiran dan perasaan, bukan sekadar mendisiplinkan tubuh.

Namun, pada Hardiknas 2025 ini, kita justru dihadapkan pada ironi yang menggigit. Di saat negara mewacanakan program gizi gratis di sekolah dengan gegap gempita, masih banyak anak-anak yang bersekolah di ruang darurat beratapkan daun gewang, berlantaikan tanah, dan tanpa penerangan. Jalan menuju sekolah masih berlumpur, akses informasi terbatas, dan tenaga pengajar di banyak tempat belum sejahtera, bahkan masih berstatus honorer tanpa kejelasan masa depan.

Visi yang Terlupakan

Ki Hajar menegaskan bahwa “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri.” Maka tugas pendidikan adalah menuntun, bukan menekan. Ia adalah seni memerdekakan. Tapi, dalam praktik hari ini, pendidikan sering kali berubah menjadi proyek, bukan proses. Pemerintah cenderung mengukur kemajuan pendidikan dari statistik, bukan dari wajah-wajah anak yang bersinar ketika mengerti satu konsep kecil dari kehidupan.

Para pemikir besar pendidikan modern seperti Paulo Freire juga bersuara senada. Dalam Pedagogy of the Oppressed, Freire menolak pendidikan gaya “banking”, di mana anak didik dianggap celengan kosong yang harus diisi. Pendidikan sejati, katanya, adalah dialog, relasi, dan pembebasan. Ketika pendidikan hanya menjadi alat kekuasaan dan politik, maka anak-anak kehilangan hakikatnya sebagai manusia yang bebas.

Martin Heidegger, seorang filsuf eksistensialis, mengatakan bahwa manusia bukan sekadar makhluk rasional, tetapi makhluk yang mengada secara otentik. Maka, mendidik anak berarti menuntunnya untuk menjadi dirinya sendiri dalam dunia yang kompleks. Jika sistem pendidikan hanya mengejar output, tanpa peduli pada subjektivitas anak, maka pendidikan gagal memahami hakikat manusia.

Antara Program dan Realitas

📚 Artikel Terkait

Surat Terpendam

Mengendarai sepeda berarti kamu kuat secara fisik!

Narkoba di Negeri Bersyariah

Pemuda. Sejarah dan Buku

Program makan bergizi gratis untuk siswa adalah contoh terbaru dari jurang antara wacana dan kenyataan. Ide ini lahir dengan itikad baik: meningkatkan kualitas belajar melalui pemenuhan gizi. Tapi pelaksanaannya tergesa-gesa, tanpa kesiapan teknis dan infrastruktur. Dapur di sekolah-sekolah tidak siap, tenaga kerja terbatas, dan sekolah justru kerepotan mengurus logistik daripada fokus pada pembelajaran. Program yang seharusnya memerdekakan, malah membebani.

Nietzsche pernah berkata, “ He who has a why to live can bear almost any how.” Pertanyaannya: apakah program-program pendidikan kita memiliki why yang jelas dan reflektif, atau hanya how yang terburu-buru?

Mencari Jalan Baru

Di tengah kompleksitas ini, kita harus mencari jalan lain yang lebih filosofis dan manusiawi. Beberapa di antaranya:

  1. Reformasi Pendidikan yang Berakar pada Kenyataan. Tidak ada perubahan sejati jika pemerintah pusat tidak serius mendengar suara guru dan kepala sekolah di pedalaman. Pembangunan pendidikan harus dimulai dari penguatan infrastruktur dasar, bukan dari kosmetika kebijakan.
  2. Humanisasi Guru. Guru bukan mesin kurikulum, melainkan pembimbing eksistensial. Kita perlu revolusi penghargaan, bukan sekadar pelatihan dan beban administrasi. Berikan kejelasan status, hak hidup layak, dan ruang dialog untuk mereka.
  3. Ekosistem Belajar yang Memerdekakan. Pendidikan bukan hanya urusan kelas, tetapi seluruh ekosistem: rumah, masyarakat, alam sekitar. Kita perlu menciptakan ruang belajar yang holistik, di mana anak-anak bisa tumbuh utuh, bukan hanya menjadi mesin ujian.
  4. Kebijakan yang Berdialog dengan Filsafat. Kebijakan publik pendidikan harus melibatkan perspektif etik dan filosofis, bukan hanya ekonomis dan birokratis. Pemerintah perlu belajar dari sejarah dan refleksi, tidak sekadar mengejar angka pencapaian.

Penutup

Ki Hajar Dewantara telah memberikan kompas moral yang jelas: pendidikan adalah jalan menuju kemerdekaan sejati manusia. Maka pada Hardiknas 2025 ini, mari kita berhenti sejenak, bertanya: ke mana arah pendidikan kita sebenarnya? Apakah kita sedang mendidik manusia merdeka, atau hanya mencetak angka-angka?

Di tengah sekolah yang masih berdaun gewang dan guru yang belum digaji layak, tugas kita bukan hanya menyediakan program, tetapi menghidupkan harapan. Harapan bahwa suatu saat, anak-anak Indonesia akan belajar bukan karena dipaksa, tetapi karena mereka merasa dihargai sebagai manusia.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 57x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Dokter Spesialis Selangkangan

HABA Si PATok

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00