• Latest
Belajar Bertetangga dari India vs Pakistan

Belajar Bertetangga dari India vs Pakistan

Mei 2, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Belajar Bertetangga dari India vs Pakistan

Rosadi Jamaniby Rosadi Jamani
Mei 2, 2025
Reading Time: 3 mins read
Belajar Bertetangga dari India vs Pakistan
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Rosadi Jamani

Bagi saya, tetangga itu orang terbaik. Jangan diajak ribut. Dalam bernegara juga begitu semestinya. Alhamdulillah, negara kita bertetangga baik dengan Malaysia. Beda dengan India dan Pakistan, macam Tom and Jerry. “Malar nak bekincah,” kata budak Pontianak. Yok kita bahas sambil ngopi, konflik yang bisa berujung perang nuklir ini.

Tanggal 22 April 2025, saat sebagian warga di sini sibuk bicara Lisa Mariana, ijazah Jokowi itu asli atau dari Indoprint, 103 jenderal vs 1 Gibran, korupsi receh, India dan Pakistan diam-diam hampir mengubah Kashmir jadi zona latihan perang dunia ketiga. Sebuah serangan teroris mengguncang Pahalgam, wilayah cantik yang mestinya jadi tempat honeymoon, bukan Hunger Games. Dua puluh enam wisatawan tewas. India langsung menuduh Pakistan, kayak tetangga yang baru kehilangan sendal lalu langsung menuding rumah sebelah.

Pakistan, tentu saja, menyangkal. Mereka bilang, “Kami pun sedih, kami pun korban, kami juga pengin damai, kami bahkan belum selesai nonton drama Korea semalam.” Tapi India, yang sudah terlalu sering mendengar kalimat semacam itu, langsung mencabut Perjanjian Air Indus, perjanjian yang sudah seperti kontrak tidak tertulis antara dua tetangga tentang siapa yang boleh pakai keran air lebih dulu. Ini bukan main-main. Ini setara dengan mencabut stop kontak kulkas tetangga yang isinya cuma air dan harapan.

Lalu, karena dunia ini belum cukup gila, masing-masing negara mulai menggerakkan pasukan. Garis Kontrol, alias Line of Control, yang dulunya cuma garis tipis di peta, kini jadi runway buat peluru dan mortir. Menteri Pertahanan Pakistan, sambil menahan emosi dan mungkin juga maag, mengumumkan bahwa perang total bisa meletus kapan saja. India pun balas ancaman dengan gaya khas Bollywood: penuh semangat, penuh dendam, dan penuh latar musik megah di belakangnya.

Tapi tunggu dulu. Ini bukan kisah cinta-benci yang baru muncul kemarin. Konflik India-Pakistan ini sudah dimulai sejak tahun 1947, ketika Inggris memutuskan untuk pulang dan meninggalkan dua negara yang belum siap pisah ranjang. Hasilnya? Migrasi massal, pertumpahan darah, dan rebutan warisan berupa Kashmir. Lebih dari 15 juta orang harus mengungsi, dan dua juta jiwa melayang. Semua gara-gara peta dibagi pakai penggaris tapi nggak pakai hati.

Kashmir sendiri kini seperti anak yatim piatu yang diperebutkan dua keluarga besar. India bilang, “Dia ikut aku!” Pakistan teriak, “Enggak, dia anak kandungku!” Sementara Kashmir, kalau bisa ngomong, mungkin cuma mau bilang, “Tolong, saya cuma mau hidup tenang dan panen apel.”

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Dari perang pertama di tahun 1947 sampai konflik demi konflik setelahnya, hubungan kedua negara ini nggak pernah benar-benar sembuh. Setiap kali terlihat tenang, selalu ada sesuatu yang bikin mereka ribut lagi. Kadang cuma saling tuduh di PBB, kadang sampai siap nuklir-nukliran. Persis kayak tetangga yang tiap minggu ribut soal pagar, tapi tetap nggak pernah beli cat baru bareng.

Di sinilah kita bisa ambil pelajaran. Bukan soal geopolitik, bukan soal sejarah, tapi soal hidup bertetangga. Kalau India dan Pakistan saja bisa bertengkar selama hampir 80 tahun dan belum selesai juga, kita sebagai warga biasa bisa mulai dengan satu hal kecil, jangan siram tanaman tetangga pakai air sabun.

Hidup ini terlalu singkat untuk perang dingin dan ribut tak berkesudahan. Daripada sibuk ngintip CCTV tetangga, mendingan kamu ngintip harga cabe di pasar. Dari pada mikirin siapa yang duluan nyolong jemuran, mendingan kamu jemur bareng sambil ngopi.

Karena kalau dua negara bersenjata nuklir bisa ribut soal air dan sejarah, kamu yang ribut soal suara ayam tetangga jam 4 pagi mungkin sebenarnya masih punya harapan jadi duta perdamaian.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Guratan Pena, Harapan Bangsa

Guratan Pena, Harapan Bangsa

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com