POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Belajar Bertetangga dari India vs Pakistan

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
May 2, 2025
Belajar Bertetangga dari India vs Pakistan
🔊

Dengarkan Artikel

Rosadi Jamani

Bagi saya, tetangga itu orang terbaik. Jangan diajak ribut. Dalam bernegara juga begitu semestinya. Alhamdulillah, negara kita bertetangga baik dengan Malaysia. Beda dengan India dan Pakistan, macam Tom and Jerry. “Malar nak bekincah,” kata budak Pontianak. Yok kita bahas sambil ngopi, konflik yang bisa berujung perang nuklir ini.

Tanggal 22 April 2025, saat sebagian warga di sini sibuk bicara Lisa Mariana, ijazah Jokowi itu asli atau dari Indoprint, 103 jenderal vs 1 Gibran, korupsi receh, India dan Pakistan diam-diam hampir mengubah Kashmir jadi zona latihan perang dunia ketiga. Sebuah serangan teroris mengguncang Pahalgam, wilayah cantik yang mestinya jadi tempat honeymoon, bukan Hunger Games. Dua puluh enam wisatawan tewas. India langsung menuduh Pakistan, kayak tetangga yang baru kehilangan sendal lalu langsung menuding rumah sebelah.

Pakistan, tentu saja, menyangkal. Mereka bilang, “Kami pun sedih, kami pun korban, kami juga pengin damai, kami bahkan belum selesai nonton drama Korea semalam.” Tapi India, yang sudah terlalu sering mendengar kalimat semacam itu, langsung mencabut Perjanjian Air Indus, perjanjian yang sudah seperti kontrak tidak tertulis antara dua tetangga tentang siapa yang boleh pakai keran air lebih dulu. Ini bukan main-main. Ini setara dengan mencabut stop kontak kulkas tetangga yang isinya cuma air dan harapan.

Lalu, karena dunia ini belum cukup gila, masing-masing negara mulai menggerakkan pasukan. Garis Kontrol, alias Line of Control, yang dulunya cuma garis tipis di peta, kini jadi runway buat peluru dan mortir. Menteri Pertahanan Pakistan, sambil menahan emosi dan mungkin juga maag, mengumumkan bahwa perang total bisa meletus kapan saja. India pun balas ancaman dengan gaya khas Bollywood: penuh semangat, penuh dendam, dan penuh latar musik megah di belakangnya.

Tapi tunggu dulu. Ini bukan kisah cinta-benci yang baru muncul kemarin. Konflik India-Pakistan ini sudah dimulai sejak tahun 1947, ketika Inggris memutuskan untuk pulang dan meninggalkan dua negara yang belum siap pisah ranjang. Hasilnya? Migrasi massal, pertumpahan darah, dan rebutan warisan berupa Kashmir. Lebih dari 15 juta orang harus mengungsi, dan dua juta jiwa melayang. Semua gara-gara peta dibagi pakai penggaris tapi nggak pakai hati.

📚 Artikel Terkait

Pemko Banda Aceh Imbau Masyarakat untuk Jaga Keindahan Kota

Indonesia Siap Menantang Takdir

Hari Merdeka

Pelatihan Guru Jalan Menuju Pendidikan Bermutu

Kashmir sendiri kini seperti anak yatim piatu yang diperebutkan dua keluarga besar. India bilang, “Dia ikut aku!” Pakistan teriak, “Enggak, dia anak kandungku!” Sementara Kashmir, kalau bisa ngomong, mungkin cuma mau bilang, “Tolong, saya cuma mau hidup tenang dan panen apel.”

Dari perang pertama di tahun 1947 sampai konflik demi konflik setelahnya, hubungan kedua negara ini nggak pernah benar-benar sembuh. Setiap kali terlihat tenang, selalu ada sesuatu yang bikin mereka ribut lagi. Kadang cuma saling tuduh di PBB, kadang sampai siap nuklir-nukliran. Persis kayak tetangga yang tiap minggu ribut soal pagar, tapi tetap nggak pernah beli cat baru bareng.

Di sinilah kita bisa ambil pelajaran. Bukan soal geopolitik, bukan soal sejarah, tapi soal hidup bertetangga. Kalau India dan Pakistan saja bisa bertengkar selama hampir 80 tahun dan belum selesai juga, kita sebagai warga biasa bisa mulai dengan satu hal kecil, jangan siram tanaman tetangga pakai air sabun.

Hidup ini terlalu singkat untuk perang dingin dan ribut tak berkesudahan. Daripada sibuk ngintip CCTV tetangga, mendingan kamu ngintip harga cabe di pasar. Dari pada mikirin siapa yang duluan nyolong jemuran, mendingan kamu jemur bareng sambil ngopi.

Karena kalau dua negara bersenjata nuklir bisa ribut soal air dan sejarah, kamu yang ribut soal suara ayam tetangga jam 4 pagi mungkin sebenarnya masih punya harapan jadi duta perdamaian.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 51x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Guratan Pena, Harapan Bangsa

Guratan Pena, Harapan Bangsa

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00