POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Seni, Kerukunan, dan Tanggung Jawab Pekerja Kreatif

RedaksiOleh Redaksi
April 27, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Gunawan Trihantoro
(Sekretaris Kreator Era AI Jawa Tengah)

“Kalau dunia tidak ada seninya, dunia akan kaku banget, membosankan. Tapi kalau pekerja seni berkelahi, jadi repot juga kita,” ucap Saldi Isra, Hakim Mahkamah Konstitusi. Sebuah kalimat sederhana, tetapi sarat makna reflektif tentang pentingnya seni dan harmoninya dalam kehidupan sosial.

Seni merupakan anugerah besar yang menyiramkan keindahan pada arus keras kehidupan manusia. Melalui musik, lukisan, sastra, dan film, dunia menjadi lebih lembut, lebih bersahabat untuk dihuni.

Bayangkan dunia tanpa lukisan, tanpa nada, tanpa tari, ia akan terasa seperti gurun yang tak bertepi, kehilangan warna dan makna. Keberadaan seni menjadi semacam napas panjang yang memperpanjang denyut kejiwaan manusia.

Dalam sidang pembahasan UU Hak Cipta, Saldi Isra menyoroti bahwa pekerja seni tidak hanya bertugas mencipta karya, tetapi juga memelihara harmoni di antara mereka. Perselisihan internal justru berpotensi menciptakan luka sosial yang lebih luas.

Pekerja seni memiliki peran ganda, membahagiakan publik dengan karya-karyanya dan menjaga keteladanan sebagai komunitas kreatif yang saling menghargai. Konflik di antara mereka bukan hanya urusan pribadi, melainkan urusan publik.

Era modern memperlihatkan bahwa industri kreatif menjadi salah satu pilar ekonomi nasional. Data menunjukkan bahwa subsektor musik, film, dan seni pertunjukan mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap PDB.

Namun, pertumbuhan ini bisa menjadi rapuh apabila konflik internal terus mencuat. Sengketa hak cipta, pertentangan visi kreatif, atau perebutan keuntungan dapat menjadi batu sandungan besar.

Dalam konteks inilah, Saldi Isra mengingatkan bahwa persatuan di antara para pekerja seni adalah kebutuhan mendasar. Bukan semata demi kepentingan personal, melainkan demi kelangsungan industri kreatif itu sendiri.

Hak cipta, sebagai salah satu perlindungan hukum bagi pekerja seni, memang penting untuk dijaga. Ia melindungi karya sebagai ekspresi intelektual yang bernilai ekonomi maupun budaya.

Namun demikian, penguatan hak cipta tidak boleh mengaburkan pentingnya etika kolektif di antara para seniman. Hak atas karya harus berjalan beriringan dengan kewajiban menjaga solidaritas profesi.

Seringkali, persoalan di dunia seni bukan sekadar masalah hukum, melainkan juga ego, ambisi, dan ketidakmampuan membangun dialog kreatif. Di sinilah pentingnya kedewasaan sosial para pelaku industri kreatif.

Mereka perlu melihat diri mereka bukan sebagai pesaing semata, melainkan sebagai rekan seperjalanan dalam merayakan keindahan kehidupan. Dunia kreatif harus ditumbuhkan sebagai ekosistem, bukan arena perang.

📚 Artikel Terkait

BASA GEUTANYOE KARAP ABÉH MEUGINTÖN, MEUSUPÉT, MEUPIRÉT NGÖN BASA KOMPUTER

Industri Perkebunan Sawit tidak Peduli dengan Kemiskinan Rakyat Nagan Raya

Hari Ampunan

Siapa yang Paling Bertanggung Jawab atas Keterpurukan Ekonomi Indonesia?

Dalam ekosistem kreatif, saling menghormati menjadi fondasi utama. Hak dan karya masing-masing dihargai, tetapi semangat kolaborasi dan apresiasi tetap dijunjung tinggi.

Apabila pekerja seni saling berkelahi, bukan hanya mereka yang rugi, melainkan masyarakat luas kehilangan sumber inspirasi. Kekacauan di dapur seni akan berdampak pada keringnya menu budaya bagi publik.

Kita telah menyaksikan betapa pertikaian di antara musisi, aktor, atau pelukis kerap menciptakan polarisasi penggemar, perpecahan komunitas, bahkan penurunan kepercayaan terhadap dunia seni itu sendiri.

Sebaliknya, ketika para pekerja seni bersatu, dunia menjadi lebih kaya, kolaborasi lintas genre, proyek bersama, dan solidaritas dalam menghadapi tantangan bersama membuat industri seni menjadi lebih tangguh.

Seni pada akhirnya bukan sekadar soal ekspresi individual, melainkan juga upaya kolektif untuk membangun peradaban. Dari dinding gua purba hingga konser megah modern, seni selalu mengandalkan jaringan solidaritas manusia.

Oleh karena itu, pernyataan Saldi Isra dapat dibaca sebagai peringatan dan ajakan untuk kembali ke ruh sejati seni, memperkaya hidup manusia, bukan memperumitnya lewat konflik internal yang berkepanjangan.

Dalam dunia yang penuh tantangan seperti sekarang, justru seni menjadi benteng pertahanan terakhir manusia terhadap kelelahan mental, stres sosial, dan polarisasi politik.

Seni yang dijaga kerukunan penciptanya akan memancarkan energi positif ke seluruh penjuru masyarakat. Sebaliknya, seni yang dicemari pertikaian akan kehilangan daya magisnya.

Tugas pekerja seni hari ini tidak sekadar membuat karya yang bagus, melainkan juga menampilkan kehidupan komunitas yang harmonis. Sebab, teladan dalam kerjasama sama pentingnya dengan karya itu sendiri.

Melalui karya dan perilaku sosialnya, pekerja seni membentuk narasi tentang siapa kita sebagai manusia. Mereka adalah cermin harapan, jembatan perasaan, dan pemersatu ruang-ruang batin yang tercecer.

Refleksi ini membawa kita pada kesadaran bahwa membangun dunia seni berarti juga membangun dunia yang lebih damai. Keindahan lahir dari harmoni, bukan dari pertikaian.

Pesan Saldi Isra mengingatkan kita semua bahwa seni bukan sekadar untuk dinikmati, tetapi juga untuk dijaga. Bukan hanya soal hak cipta, tetapi soal tanggung jawab sosial sebagai manusia kreatif.

Dalam dunia yang begitu haus akan keindahan dan kedamaian, pekerja seni harus memilih, menjadi pemadam kegelapan atau justru menjadi api yang membakar jembatan kemanusiaan.

Pilihan itu ada di tangan mereka, dan dampaknya akan kita rasakan bersama.


Rumah Kayu Cepu, 27 April 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 140x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 128x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 92x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
165
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Tong Sampah, Lampu Tenaga Surya dan Literasi

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00