POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Hijaukan Desa, Sehatkan Bangsa

Gunawan TrihantoroOleh Gunawan Trihantoro
April 27, 2025
Hijaukan Desa, Sehatkan Bangsa
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Gunawan Trihantoro

(Sekretaris Kreator Era AI Provinsi Jawa Tengah)

Langkah Blora mengukuhkan sepuluh desa organik bukan sekadar seremoni.
Ini adalah pernyataan sikap terhadap masa depan pertanian yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Krisis ekologi akibat pertanian kimiawi sudah terlalu lama kita rasakan.
Tanah kehilangan kesuburan, air terkontaminasi, dan petani kian tergantung pada produk pabrik.

Kini, dengan pendekatan organik, harapan itu tumbuh kembali dari desa-desa kecil.
Dari Jepon, Kedungtuban, hingga Bogorejo, Blora memulai gerakan akar rumput yang penuh makna.

Belum lama ini, sepuluh desa organik telah resmi dikukuhkan oleh Pemkab Blora.
Ini bukanlah akhir, melainkan awal dari transformasi hijau yang lebih luas.

Gerakan Sejuta Kotak Umat menjadi mesin utama penggerak inisiatif ini.
Mengolah limbah kotoran sapi menjadi pupuk organik, program ini mempertemukan ekologi dan ekonomi.

Dampaknya terasa nyata di lahan pertanian.
Tanah yang semula keras dan rusak kini mulai pulih dan kembali bernapas.

Kemandirian pupuk pun dicapai, mengurangi ketergantungan pada distribusi pupuk bersubsidi.
Ini menjadikan petani lebih tangguh dalam menghadapi dinamika harga dan pasokan.

Dua kelompok tani bahkan telah bersertifikasi organik dari Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman.
Kualitas beras mereka tidak hanya sehat, tetapi juga bernilai jual tinggi.

Langkah Blora ini pun tak sendirian.
Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo turut menggandeng petani dalam pendampingan berkelanjutan.

📚 Artikel Terkait

Listrik: Nyala Harapan bagi Jutaan UMKM

EAA dan Prodi Bahasa Inggris Gelar Coaching Clinic Menulis Essay Beasiswa AAS

Kau Tawarkan Sepi

Kumpulan Sajak AlkhairAljohore@

Dari sini kita belajar, pertanian organik bukanlah utopia.
Ia butuh dukungan ilmiah, pendampingan teknologi, dan kolaborasi lintas sektor.

Desa Tempellemahbang jadi studi kasus yang menarik.
Jeruk organik yang ditanam warga tak hanya menjadi komoditas, tapi juga daya tarik wisata.

Pertanian dan pariwisata bertemu dalam harmoni keberlanjutan.
Warga tak hanya jadi petani, tapi juga pelaku ekonomi kreatif desa.

Apa yang dilakukan Blora sangat strategis di tengah meningkatnya permintaan pasar akan produk organik.
Diaspora dari kota-kota besar bahkan mulai melirik beras Blora untuk konsumsi sehat keluarga mereka.

Hal ini menandakan peluang besar: organik bukan hanya gaya hidup, tapi tren pasar masa depan.
Petani Blora yang bertani secara organik kini bukan lagi tertinggal, tapi justru terdepan.

Pemerintah daerah pun cermat dengan mendorong Dana Desa dialokasikan untuk demplot organik.
Dengan pendekatan ini, desa tidak hanya menjadi objek pembangunan, tapi subjek perubahan.

Yang menarik, kebijakan ini tidak memaksa.
Ia berbasis kesadaran dan keinginan warga untuk hidup lebih sehat dan produktif.

Kesehatan lingkungan pun menjadi efek ikutan yang sangat positif.
Tanah terhindar dari logam berat, dan air tidak lagi tercemar limbah pestisida.

Langkah Blora patut menjadi percontohan nasional.
Kita butuh lebih banyak desa yang memilih jalan hijau, bukan jalan instan.

Pemerintah pusat pun sebaiknya melihat ini sebagai peluang nasional.
Revitalisasi pertanian Indonesia bisa dimulai dari desa-desa kecil seperti di Blora.

Bayangkan jika setiap kabupaten memiliki sepuluh desa organik.
Maka dalam waktu singkat, Indonesia akan memiliki ribuan desa sehat dan mandiri.

Ini bukan sekadar mimpi, tapi peta jalan yang sudah mulai disusun dan dibuktikan Blora.
Peta yang menunjukkan bahwa keberlanjutan dimulai dari kebijakan yang berpihak dan berpijak pada rakyat.

Tulisan ini bukan sekadar pujian kosong.
Melainkan ajakan agar desa-desa lain ikut menanamkan nilai hijau di ladangnya sendiri.

Karena dari tanah yang sehat, lahirlah generasi yang kuat.
Dari desa yang mandiri, tumbuhlah bangsa yang berdaulat.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 57x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00