• Latest

Ketika Saya Merasa Berdosa kepada Netizen

April 26, 2025
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Ketika Saya Merasa Berdosa kepada Netizen

Redaksiby Redaksi
April 26, 2025
Reading Time: 3 mins read
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Saya ingin minta maaf. Sungguh. Dari lubuk hati paling dalam yang penuh luka dan notifikasi. Saya merasa bersalah, bahkan berdosa. Bukan karena saya membunuh karakter, bukan karena saya menyebarkan hoaks, tapi karena… saya menulis. Iya, cuma menulis. Tapi ternyata, di era netizen dengan jempol secepat kilat dan hati selembut batu, menulis bisa dianggap tindakan kriminal level internasional. Bahkan kayaknya Interpol sebentar lagi akan cari saya karena “mengganggu stabilitas emosional publik”.

Baca Juga

Di Jalan Pulang

Oktober 15, 2025
Sarjana Dalam Gendongan

Sabang: Daerah Wisata, Jalur Free Port dan Harapan Baru

Agustus 21, 2025

HABA Si PATok

Mei 13, 2025

Semua bermula dari satu hal sederhana, saya nulis tentang konsekuensi hukum kalau ijazah Jokowi palsu. Ini murni hipotesis hukum, niatnya edukatif. Tapi ternyata saya lupa satu hal penting, logika tak berlaku kalau sudah menyentuh nama mantan presiden. Yang saya harapkan jadi diskusi intelektual, malah jadi gladiator show. Para netizen langsung bangkit dari kubur opini masing-masing, menyerang seperti zombie kelaparan yang baru bangun tidur. Sumpah, kolom komentar saya saat itu kayak kuali besar yang sedang direbus di neraka Tiktok.

Lalu, ada yang komentar, “Bang, fair dong. Bikin juga artikel kalau ijazahnya asli.” Saya pun, dengan niat netral se-netral air galon, menulis artikel kebalikannya, konsekuensi hukum kalau ijazahnya asli. Hasilnya? Lebih parah. Yang awalnya ngamuk karena saya seolah nuduh palsu, sekarang ngamuk karena saya seolah bela mati-matian. Lah, ini maunya gimana?

Netizen itu ternyata bukan butuh klarifikasi. Mereka cuma pengin balas dendam pakai emoji. Saya kira dengan kasih dua sisi, damai bisa terjadi. Saya salah besar. Harapan damai di kolom komentar itu kayak harapan nemu charger pas baterai tinggal 1% dan hujan turun deras. Mustahil, wak.

Tapi saya nggak menyerah. Saya bilang ke diri sendiri, “Tenang, ini ujian.” Maka saya angkat lagi satu nama, dr. Tifa, lengkapnya dr Tifauzia Tyassuma. Saya pikir, siapa tahu bisa jadi pintu dialog. Tapi ternyata, bukan pintu dialog yang kebuka, melainkan gerbang neraka kedua. Komentarnya bukan cuma nyerang tulisan saya, tapi udah personal, “Lu dibayar berapa sama dia, bangsat?” Astaga. Demi Tuhan, saya bahkan masih utang sama warkop reot deket rumah. Bayaran dari siapa?

Tapi saya keras kepala. Demi keadilan konten, saya tulis juga soal Gibran Rakabuming. Saya angkat datanya, analisis, saya kasih perspektif. Harusnya objektif. Tapi kenyataan berbicara lain. Kolom komentar saya langsung jadi tempat tawuran online. Antara fans Gibran, pembenci Gibran, fans dr. Tifa, pembenci dr. Tifa, pendukung Jokowi, pembenci Jokowi, orang yang cuma pengin ngetik “Pertamax!”, dan satu orang random yang cuma komen “makan tuh demokrasi”. Saya bingung, ini diskusi apa uji nyali?

Saya pun duduk diam jelang malam minggu, memandangi notifikasi Tiktok yang berkedip seperti sinyal harapan palsu. Saya merenung, apakah saya ini penulis… atau provokator digital tak disengaja? Apakah saya sedang mencerdaskan bangsa… atau malah membuka galian C untuk memecah belah umat dunia maya?

Saya sadar satu hal. Netizen bukan butuh pencerahan. Mereka butuh pelampiasan. Tulisan saya bukan dibaca, tapi dijadikan alat lempar. Saya berharap jadi jembatan. Ternyata saya jadi papan panah. Saya pikir saya sedang berkontribusi pada demokrasi. Tapi ternyata saya sedang membuka konser Slipknot di kolom komentar.

Di titik ini, saya pasrah. Saya hanya bisa berdoa agar satu hari nanti, entah kapan, kubu-kubu yang bertikai ini bisa duduk bareng, ngopi, dan tertawa bersama. Tapi kayaknya itu cuma bisa terjadi kalau ada alien turun dan bilang, “Bumi akan dihancurkan karena kalian terlalu sering debat di kolom komentar.”

Sampai hari itu tiba, saya hanya bisa menulis lagi. Dengan risiko dibenci lagi. Diserang lagi. Dituduh lagi. Tapi ya sudahlah. Menulis itu ibadah. Komentar netizen adalah nerakanya.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 355x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 314x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 265x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 259x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Indonesia Perlukan Kedaulatan Pikiran di Tengah Gempuran Algoritma Global

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com