POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Ketika Saya Merasa Berdosa kepada Netizen

RedaksiOleh Redaksi
April 26, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Saya ingin minta maaf. Sungguh. Dari lubuk hati paling dalam yang penuh luka dan notifikasi. Saya merasa bersalah, bahkan berdosa. Bukan karena saya membunuh karakter, bukan karena saya menyebarkan hoaks, tapi karena… saya menulis. Iya, cuma menulis. Tapi ternyata, di era netizen dengan jempol secepat kilat dan hati selembut batu, menulis bisa dianggap tindakan kriminal level internasional. Bahkan kayaknya Interpol sebentar lagi akan cari saya karena “mengganggu stabilitas emosional publik”.

Semua bermula dari satu hal sederhana, saya nulis tentang konsekuensi hukum kalau ijazah Jokowi palsu. Ini murni hipotesis hukum, niatnya edukatif. Tapi ternyata saya lupa satu hal penting, logika tak berlaku kalau sudah menyentuh nama mantan presiden. Yang saya harapkan jadi diskusi intelektual, malah jadi gladiator show. Para netizen langsung bangkit dari kubur opini masing-masing, menyerang seperti zombie kelaparan yang baru bangun tidur. Sumpah, kolom komentar saya saat itu kayak kuali besar yang sedang direbus di neraka Tiktok.

Lalu, ada yang komentar, “Bang, fair dong. Bikin juga artikel kalau ijazahnya asli.” Saya pun, dengan niat netral se-netral air galon, menulis artikel kebalikannya, konsekuensi hukum kalau ijazahnya asli. Hasilnya? Lebih parah. Yang awalnya ngamuk karena saya seolah nuduh palsu, sekarang ngamuk karena saya seolah bela mati-matian. Lah, ini maunya gimana?

Netizen itu ternyata bukan butuh klarifikasi. Mereka cuma pengin balas dendam pakai emoji. Saya kira dengan kasih dua sisi, damai bisa terjadi. Saya salah besar. Harapan damai di kolom komentar itu kayak harapan nemu charger pas baterai tinggal 1% dan hujan turun deras. Mustahil, wak.

Tapi saya nggak menyerah. Saya bilang ke diri sendiri, “Tenang, ini ujian.” Maka saya angkat lagi satu nama, dr. Tifa, lengkapnya dr Tifauzia Tyassuma. Saya pikir, siapa tahu bisa jadi pintu dialog. Tapi ternyata, bukan pintu dialog yang kebuka, melainkan gerbang neraka kedua. Komentarnya bukan cuma nyerang tulisan saya, tapi udah personal, “Lu dibayar berapa sama dia, bangsat?” Astaga. Demi Tuhan, saya bahkan masih utang sama warkop reot deket rumah. Bayaran dari siapa?

📚 Artikel Terkait

BERSEPEDA UNTUK MENJAGA MENTAL HEALTH

Memasukan Buku Bahasa dan Sastra Aceh sebagai Materi Pembelajaran Kurikulum Merdeka

SDIT Muhammadiyah Manggeng Mempelajari Proses Pembuatan Ikan Asin

SPPI Tandatangani Perjanjian Kerja Bersama (PKB) Perlindungan Awak Kapal Perikanan di Taiwan

Tapi saya keras kepala. Demi keadilan konten, saya tulis juga soal Gibran Rakabuming. Saya angkat datanya, analisis, saya kasih perspektif. Harusnya objektif. Tapi kenyataan berbicara lain. Kolom komentar saya langsung jadi tempat tawuran online. Antara fans Gibran, pembenci Gibran, fans dr. Tifa, pembenci dr. Tifa, pendukung Jokowi, pembenci Jokowi, orang yang cuma pengin ngetik “Pertamax!”, dan satu orang random yang cuma komen “makan tuh demokrasi”. Saya bingung, ini diskusi apa uji nyali?

Saya pun duduk diam jelang malam minggu, memandangi notifikasi Tiktok yang berkedip seperti sinyal harapan palsu. Saya merenung, apakah saya ini penulis… atau provokator digital tak disengaja? Apakah saya sedang mencerdaskan bangsa… atau malah membuka galian C untuk memecah belah umat dunia maya?

Saya sadar satu hal. Netizen bukan butuh pencerahan. Mereka butuh pelampiasan. Tulisan saya bukan dibaca, tapi dijadikan alat lempar. Saya berharap jadi jembatan. Ternyata saya jadi papan panah. Saya pikir saya sedang berkontribusi pada demokrasi. Tapi ternyata saya sedang membuka konser Slipknot di kolom komentar.

Di titik ini, saya pasrah. Saya hanya bisa berdoa agar satu hari nanti, entah kapan, kubu-kubu yang bertikai ini bisa duduk bareng, ngopi, dan tertawa bersama. Tapi kayaknya itu cuma bisa terjadi kalau ada alien turun dan bilang, “Bumi akan dihancurkan karena kalian terlalu sering debat di kolom komentar.”

Sampai hari itu tiba, saya hanya bisa menulis lagi. Dengan risiko dibenci lagi. Diserang lagi. Dituduh lagi. Tapi ya sudahlah. Menulis itu ibadah. Komentar netizen adalah nerakanya.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 69x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Indonesia Perlukan Kedaulatan Pikiran di Tengah Gempuran Algoritma Global

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00