POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Agama di Tengah Arus Disrupsi: Menimbang Peran Spiritualitas dalam Menjawab Krisis Moral dan Ekonomi

RedaksiOleh Redaksi
April 26, 2025
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Dayan Abdurrahman

Dalam beberapa dekade terakhir, dunia mengalami perubahan yang sangat cepat. Revolusi digital, globalisasi, dan perkembangan teknologi informasi telah mengubah hampir semua aspek kehidupan manusia. Disrupsi ini membawa berbagai kemajuan, namun juga menimbulkan tantangan baru: krisis identitas, kegamangan moral, kesenjangan ekonomi, hingga meningkatnya individualisme yang mereduksi makna hidup dan relasi sosial.

Di tengah arus deras perubahan ini, banyak pihak bertanya: masih adakah ruang bagi agama? Bukankah agama dianggap usang dalam menghadapi kompleksitas zaman modern? Namun, justru dalam kondisi inilah, peran agama dan spiritualitas menjadi semakin penting. Agama tidak semata-mata persoalan ritual atau keyakinan individual, melainkan fondasi nilai yang bisa memperkuat karakter, menuntun tindakan kolektif, dan membangun solidaritas sosial yang inklusif.

Krisis Moral dan Ekonomi: Sebuah Kenyataan yang Harus Diakui

Indonesia sebagai negara berkembang tidak luput dari krisis ini. Ketimpangan sosial dan ekonomi masih tinggi, korupsi merajalela, degradasi lingkungan makin memburuk, dan dalam beberapa kasus, masyarakat terjebak pada konflik identitas berbasis agama atau etnis. Data dari berbagai lembaga menunjukkan bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi terjaga, distribusi kekayaan masih timpang. Di sisi lain, budaya konsumtif dan gaya hidup instan melahirkan generasi yang cenderung kehilangan arah spiritual.

Krisis ini bukan sekadar persoalan kebijakan atau ekonomi semata. Di akar terdalamnya, terdapat krisis nilai dan krisis makna hidup. Banyak orang merasa kosong, cemas, dan terasing di tengah keberlimpahan materi. Di sinilah agama, dengan kekuatan spiritualitasnya, memiliki peran strategis.

Spiritualitas sebagai Sumber Etika Publik

Agama sejatinya mengajarkan nilai-nilai luhur yang bersifat universal: kejujuran, keadilan, kasih sayang, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap sesama. Nilai-nilai inilah yang dibutuhkan untuk menjawab krisis multidimensi hari ini. Spiritualitas, dalam pengertian yang lebih luas, bukan hanya praktik ibadah, melainkan kesadaran untuk hidup selaras dengan nilai-nilai kebaikan yang melampaui kepentingan pribadi.

Dalam konteks ini, agama harus dihadirkan secara mencerahkan dan membebaskan, bukan menakutkan atau memecah-belah. Agama perlu diartikulasikan secara inklusif, moderat, dan relevan dengan tantangan zaman. Pendekatan seperti ini tidak hanya memperkuat keimanan individu, tetapi juga mendorong etika publik yang menjadi dasar kebijakan dan perilaku sosial.

📚 Artikel Terkait

Harga Naik, Jumlah Perokok Berkurang?

Puisi-puisi Agus Yulianto

Untukmu, Para Bunda…

Apa Kabar? November!

Bayangkan jika para pemimpin politik, pelaku usaha, pendidik, dan tokoh masyarakat menjadikan nilai-nilai agama sebagai pedoman etis dalam bertindak. Korupsi bisa dikurangi, keadilan bisa ditegakkan, dan masyarakat bisa hidup dengan saling menghormati.

Pendidikan Agama yang Membumi dan Mencerahkan

Salah satu kunci penting agar agama bisa menjalankan fungsinya dengan baik adalah melalui pendidikan. Namun, pendidikan agama yang dibutuhkan saat ini bukan sekadar hafalan doktrin atau hukum-hukum formalistik, melainkan pendidikan yang menumbuhkan kesadaran kritis, rasa empati, dan sikap terbuka. Pendidikan agama yang membumi adalah pendidikan yang menjawab persoalan hidup sehari-hari—tentang bagaimana bersikap jujur, menghormati perbedaan, menjaga lingkungan, dan berkontribusi untuk kebaikan bersama.

Para guru, dosen, dan pendidik agama memiliki tanggung jawab moral untuk membimbing generasi muda agar tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial. Mereka harus menjadi teladan dalam keberagamaan yang ramah, berkeadaban, dan mampu membangun jembatan, bukan tembok, dalam masyarakat yang plural.

Peran Intelektual dan Tokoh Agama

Perubahan besar tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Dibutuhkan kerja sama antara berbagai elemen bangsa. Di sinilah peran para intelektual, tokoh agama, dan pembuat kebijakan menjadi sangat vital. Mereka perlu bersama-sama merumuskan narasi baru tentang agama yang progresif, terbuka, dan solutif. Narasi ini bukan berarti menghilangkan prinsip-prinsip dasar agama, tetapi menafsirkan ulang ajaran agama secara kontekstual dan humanistik.

Indonesia memiliki tradisi keagamaan yang kaya dan beragam, mulai dari pesantren, dayah, hingga universitas keagamaan yang menjadi pusat kajian dan praksis keislaman yang moderat. Potensi ini harus terus diperkuat dan dikembangkan agar Indonesia bisa menjadi contoh bagaimana agama dan demokrasi bisa berjalan seiring dalam membangun masyarakat yang adil dan beradab.

Menuju Agama yang Lebih Relevan dan Membumi

Akhirnya, kita semua—baik sebagai warga negara, pemeluk agama, pendidik, maupun pemimpin—perlu merenungkan ulang peran agama dalam kehidupan kita. Sudahkah kita menjadikan agama sebagai sumber inspirasi dan solusi? Atau justru menjadikannya alat pembenaran untuk kepentingan sempit dan kekuasaan?

Dunia saat ini sedang mencari arah baru. Kecanggihan teknologi tidak otomatis menghadirkan kebahagiaan. Kemajuan ekonomi tidak selalu berbanding lurus dengan keadilan. Di tengah situasi seperti ini, spiritualitas dan agama yang inklusif bisa menjadi jembatan untuk menyatukan kembali masyarakat yang tercerai-berai oleh perbedaan dan kepentingan.

Mari kita rawat agama bukan hanya sebagai simbol, tapi sebagai jalan hidup yang menghadirkan kedamaian, keadilan, dan kemanusiaan. Bukan hanya untuk kita sendiri, tapi untuk bangsa ini, dan untuk dunia yang lebih bermartabat.

Penulis adalah peminat isu-isu sosial budaya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 84x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Membangun Bangsa Melalui Kearifan Lokal dan Nasional

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00