• Latest

Tebe, Gerakan dan Nyinyir?

April 10, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Tebe, Gerakan dan Nyinyir?

Redaksiby Redaksi
April 10, 2025
Reading Time: 2 mins read
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook


Catatan Paradoks; Wayan Suyadnya

Di tanah yang katanya dihuni oleh orang baik hati dan jujur, di pulau yang dipuja dunia karena arif menjaga alam, ada surat edaran yang mengajak: mari bersih, mari peduli, mari kita urus sampah kita sendiri, justru menjadi paradoks yang menggelitik: ajakan bersih kok malah dicibir?

Gubernur Bali, Wayan Koster, mungkin tak sedang menulis puisi saat menandatangani surat edaran itu, tapi isinya sejatinya adalah puisi untuk bumi: ajakan sederhana yang menyimpan visi besar.

Namun dunia hari ini tampaknya sudah terlalu bising oleh suara sinis. Media sosial langsung riuh—“tak mungkin” “memberatkan”, “proyek yang mematikan usaha kecil.” Kita memang cepat lelah dengan kebaikan, apalagi bila datang dari yang berkuasa.

Padahal, mari lihat baik-baik: apa salahnya diajak bersih?

Apakah terlalu suci hingga terasa asing? Atau barangkali kita memang lebih akrab dengan sampah plastik, bau got daripada aroma tanah basah dari tebe yang subur?

Tapi gerakan itu tak patah. Sekda Bali, Dewa Made Indra, tak membiarkan surat itu jadi angin lalu. Ia mengubah huruf-huruf dalam edaran itu menjadi wujud nyata: setiap kantor, setiap instansi, diperintahkan harus punya tebe modern. Lubang kecil yang bukan hanya menelan sampah, tapi memberi napas bagi tanah.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Dan bayangkan, jika tiap kantor ada dua tebe, lalu setiap SMA/SMK ikut menanamkannya, dan Sekda kabupaten/kota turut menindaklanjuti, maka Bali akan dipenuhi oleh titik-titik hidup. Pada halaman TK, SD, SMP, kantor swasta, rumah-rumah…, semua membangun tebe. Bumi tak lagi kering oleh air hujan yang hanyut sia-sia. Tanah akan kembali basah, kembali subur, kembali bernyawa. Yang menarik: semua ini dari surat yang dinyinyiri. Lucu, bukan?

Nyinyir tak sanggup menghalangi akar yang tumbuh. Sinisme tak mampu menutupi tanah yang akan hijau kembali. Ajakan menjelma menjadi gerakan, dan gerakan menjelma menjadi kebiasaan.

Lalu, mengapa ajakan baik harus selalu dicurigai? Mungkin karena kita terlalu sering dikhianati janji, hingga lupa cara percaya.

Tapi tebe tak butuh janji. Ia cukup hadir. Diam-diam bekerja. Menyaring yang organik, menyerap air hujan, menumbuhkan kompos, menghidupi tanah. Ia tak menuntut pujian, hanya butuh kesetiaan.

Maka biarlah mereka yang ingin terus nyinyir tetap berkutat di dunia maya. Sebab di dunia nyata, tanah-tanah akan berubah. Lubang-lubang tebe bermunculan, dan dari sanalah lahir harapan.

Karena kadang, yang kita butuhkan bukan orasi, bukan debat, apalagi caci-maki. Tapi satu lubang kecil di tanah—yang menyerap air, menelan sampah, dan diam-diam menyuburkan bumi.

Sugihan Jawa, 10 April 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 363x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 322x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Mengoptimalkan AI dalam Membuat Ilustrasi Buku Cerita Anak

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com