POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Pembelajar yang “Belepotan” di Era Industri 4.0

RedaksiOleh Redaksi
February 8, 2025
Tags: LiterasiPendidikan
Pisau Bermata Dua itu Bernama “AI”
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Muhammad Afnizal, S.Sos, M.Sos

Era revolusi industri 4.0 merupakan istilah yang tidak asing lagi di telinga. Semua negara di dunia berusaha semaksimal mungkin mengadopsi era industri 4.0. Namun, di tengah maraknya era ini “sepertinya” banyak pihak bukan tidak tahu terkait kemunculan era industri 4.0 ini, melainkan lebih mengarah untuk “tidak mau tahu” akan keberadaannya. Sikap yang akan menyebabkan kondisibelepotan dalam menghadapi “new era” ini.

Padahal, ikut berperan aktif berbagai pihak, terkhusus para praktisi keilmuan merupakan langkah baik dalam membawa negeri ini ke arah kemajuan dan kesejahteraan. Sikap acuh tak acuh harusnya diganti dengan keinginan untuk “mau tahu” terhadap kondisi sekarang. Karena mau tidak mau,  kita hidup dan berjalan dalam eranya.

Maka dari itu untuk menjaga proses keterlibatan Bangsa, diperlukan kesadaran secara kolektif,  kemauan yang kuat dalam berpartisipasi dengan jiwa dan raga. Menilik pembelajar sebagai anutan yang harus memberikan teladan kepada masyarakat yang lebih luas.Hal ini dimaksudkan sebagai pembentukan karakter pada pribadi setiap pembelajar, supaya lebih konkret dalam bertindak dan berpikir, supaya fenomena belepotan dalam menghadapi era industri 4.0 tidak terjadi.

Tidak perlu menunggu nanti. Sekarang adalah momentum yang cocok untuk semua, terkhusus insan pendidikan supaya kembali berbenah diri, mewawancarai diri secara “ in-depth interview”. Apakah memilih tetap berusaha bertahan dalam zona nyaman-ketinggalan zaman, ataukah meralat diri bahwa sebagai pembelajar masih sangat “belepotan” dalam berpartispasi di era industry 4.0.

Konkretnya, fenomena “belepotan” yang disebutkan  di sini, acap kali muncul di sekitar kita. Sudah lebih dari satu dekade, sejak pertama kali istilah industry 4.0 muncul. Kesannya proses yang terjadi di sekeliling cenderung masih kian pasif, tidak serius dan “melompat-lompat”.

Belepotan diartikan sebagai kondisi yang berantakan, acak-acakan, carut-marut, tidak teratur. Ungkapan yang penulis anggap pas menggambarkan kondisi yang semrawut dalam menghadapi era industri 4.0 dewasa kini.

Bagi yang mengakui diri sebagai pembelajar dan diakui juga oleh sistem pendidikan secara formal maupun non formal, terdiri dari siswa dan guru serta berbagai subjek relasi belajar lainnya yang dianggap sebagai pembelajar. Termasuk pembelajar yang paling tinggi kastanya yaitu mahasiswa dan dosen, diharapkan menjadi“kiblat” dalam menghadapi era industri 4.0 ini.

Harapan tersebut tidak menjadi kewajiban mutlak tentunya karena tidak ada “dalil Tuhan” yang mengatur secara eskplisit tentang hal ini, tidak ada ancaman neraka yang pasti jika kita masih belepotan dalam menyikapi indsutri 4.0 ini. Tidak bermaksud normatif, namun ada perasaan malu dan bersalah ,setidaknya yang menjadi tolak ukur untuk serius mengadopsi industri 4.0 dalam ruh pembelajaran dan sendi kehidupan.

Semenjak sebelum corona virus disease 2019 (Covid-19) muncul untuk pertama kali di Wuhan, berbagai negara di belahan bumi telah hiruk-pikuk dengan industri 4.0 ini, bahkan ada yang negara yang sudah mendaklarasikan telah memasuki era society 5.0 sejak 2017 yang lalu.

📚 Artikel Terkait

Apakah Kamu Seorang Prokrastinasi?

Berakhirnya Demokrasi Lima Kotak Suara

Kemalasan

RAMADHAN TELAH TIBA

Seolah menjadi jawaban atas harapan sebagian untuk terus maju dan berani, punya nyali untuk bangkit dari malas, karena penyakit sosial rata-rata bukan terletak pada kebodohan, tapi variabel terbesarnya adalah rasa “malas” untuk mengganti ceruk dalam otak yang berisi bagian bodoh dengan bagian pintarnya.

Bagai pungguk merindukan bulan, covid-19 melanda negeri dan semua “mau tidak mau”, siap tidak siap diharapkan pada pilihan harus mau dan siap, nyatanya tersaksikanlah pemandangan belajar daring. Proses pembelajaran jarak jauh menjadi jawaban ketika semua pembelajar harus berdiam diri di rumah  masing-masing. 

Belajar itu penting, namun menyelamatkan nyawa harus lebih penting. Karena belajar perlu fungsi fisik yang sehat dan bergizi, namun siapa yang bisa belajar tanpa memiliki nyawa.

Diakui, sulit untuk menghadapi perubahan sosial yang “mendadak-dangdut” tersebut. Keguncangan terasa amat kuat dalam pranata sosial masyarakat. 

Protes masyarakat mengalir deras dalam penerapan belajar dari rumah. Namun Kemendikbud kekeuh dengan penerapan“belajar dari rumah”, bantuan kuota diberikan, radio, televisi, menjadi media belajar atas jawaban ketimpangan ekonomi yang berlaku.

Namun mengapa terasa begitu cengengesan, seolah tidak serius dalam praktiknya. Pemanfaatan teknologi internet ketika belajar dari rumah hanya sebatas menjadi pilihan sulit, untuk segera ditinggalkan karena sarat akan masalah yang muncul. Alih-alih mencari solusi dan terus berbenah diri, tampaknya cara belajar tradisional lebih diterima.

Di sinilah fokus masalahnya, sampai kapan akan menahan diri untuk tidak bergelut dengan era industri 4.0. “Orang” sudah ke bulan kita masih berdebat bumi bulat apa datar, “orang” sudah menciptakan nuklir kita masih berbangga hati membahas mengusir penjajah dengan bambu runcing. Bukankah “kita” juga “orang seperti orang-orang?”.

Bukankah tingkat intelektual juga dilihat dari mana seseorang mampu menempatkan diri? Miris rasanya melihat “pembelajar” terkhusus di “Bumi Serambi Mekkah”masih “ramai” yang belum ikut ambil bagian dengan serius dalam menghadapi kenyataan, berpartisipasi dengan kecanggihan teknologi, industrialisasi. 

Mereka masih canggung dalam presentasi menggunakan power point, masih bingung dan gugup ketika dimintai untuk “share screen” dalam pengalaman belajar daring. 

Bukankah banyak video literasi, cara belajar otodidak, hampir tutorial belajar apapun ada videonya di internet. Semua konsep yang bernilai positif dan negatif ada linknya. 

Namun kecenderungan yang ditonton bukanlah video yang mendukung studi, melainkan video asusila yang mempertontonkan aksi “belepotan-sensual” yang kononnya juga ada yang diperankan oleh “siswa”bahkan “guru”. 

Tidak bermaksud menjadi penilai etis, namun malu rasanya menyaksikan fenomena ini terjadi. Pembelajar adalah kunci dalam menghadapi era industri 4.0 berikut problematika dan tantangannya. Kesiapan para pembelajar secara fisik, keilmuan dan mental merupakan jalan yang harus ditempuh meski terjal dalam konteks menghadapi segenap problematika dan tantangan di era industri 4.0 ini. 

Kasus belepotan hanyalah menjadi fenomena “habitus” yang dapat dicegah dan tidak terjadi jika terdapat keperdulian secara kolektif, bahu membahu dalam menyonsong arah pembelajaran yang lebih baik, lebih bermartabat.

Dengan tetap menjunjung pada dua nilai kebudayaan yang membaur pada praktik Industrialisasi dan esensi kearifan lokal, sehingga karakter Pribadi bangsa terkhusus pembelajar tetap terakomodasi pada tatanan dan tuntunan dari hakikatnya Bangsa Indonesia.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share5SendShareScanShare
Tags: LiterasiPendidikan
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Harapan Besar Sri Eko Sriyanto Galgendu Kepada Presiden Terpilih Prabowo Subianto Dapat Segera Memulihkan Ekonomi Indonesia Yang Terpuruk

Ekspresi Kemarahan Warga Masyarakat Solo Karena Mentoknya Sikap Sabar dan Unggah-Ungguh Yang Membentur Tembok Kekuasaan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00