• Latest

Diabetes Usia Dini dan Masa Depan Anak Negeri

Februari 6, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Diabetes Usia Dini dan Masa Depan Anak Negeri

Tabrani Yunisby Tabrani Yunis
September 4, 2025
Reading Time: 5 mins read
590
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Tabrani Yunis

Hari ini, hujan turun begitu lebat di kota Banda Aceh. Hujan turun disertai angin kencang sejak pukul 08.00 pagi tadi dan sekarang pun masih belum berhenti. Udara terasa dingin. Angin sepoi-sepoi menusuk pori-pori hingga membuat suasana begitu sejuk. Enaknya dalam situasi seperti ini, bagi kebanyakan orang adalah menuju tempat tidur, tarik selimut dan bermalas-malasan. Cara orang menggunakan suasana secara tidak produktif. 

Padahal, dalam suasana seperti ini, kita bisa manfaatkan secara positif dan produktif. Misalnya dengan membaca buku-buku yang menarik, atau juga membaca buku atau berita lewat gadgets yang sering di tangan kita. Bisa pula dengan cara-cara lain yang bisa menghangatkan badan. Ya, pokoknya, apa saja lah kegiatan yang bisa bermanfaat dan produktif. 

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 30, 2026

Bagi penulis sendiri, pagi ini mencoba memanfaatkan waktu dengan menulis. Walau sebenarnya banyak pekerjaan lain yang bisa dilakukan di POTRET Gallery, di saat hujan, kala tidak banyak orang datang berbelanja. Maka, di sela -sela hujan yang masih terus mengguyur kota Banda Aceh yang sedang berlangsung event PON XXI ini, penulis memainkan gadgets, membuka Notes, lalu memulai tulisan ini dengan membuat judul, Diabetes Usia Dini dan Masa Depan Anak Negeri. Judul yang terinspirasi dari sebuah ulasan di acara RRI beberapa waktu lalu.  

Sudah lama memang, tapi masalah itu muncul kembali di pikiran dan mendorong penulis untuk menuliskannya dan dipublikasikan di media. Siapa tahu ada yang tertarik untuk membaca dan bisa mengambil sarinya untuk sebuah pembelajaran atau sebut saja sebagai reminding message. Ya, sebagai pengingat.

Nah, diabetes itu kita kenal sebagai penyakitnya orang-orang yang sudah berusia lanjut. Artinya, bukan penyakit yang diderita oleh anak-anak apalagi masih sangat muda atawa usia dini. Biasanya orang dewasa yang sudah berumur di atas 40 tahun, banyak yang mengalami atau mengidap diabetes. Buktinya,  prevalensi diabetes di Indonesia telah menjadi penyakit yang tergolong kritis, karena sangat tinggi  jumlahnya.

Ya, Indonesia menempati peringkat ke 5 di dunia, dengan jumlah pengidap diabetes sebanyak 19.5 juta orang pada tahun 2021.  Besar sekali, bukan? Ya, pasti. Lebih mengerikan lagi, jumlah ini akan terus meningkat. Diperkirakan 1 dari 100 orang Indonesia mengidap diabtes. Mengerikan sekali, bukan?

Tentu saja sangat mengerikan. Bahkan kini lebih mengerikan lagi, ternyata diabetes bukan saja penyakit yang diderita oleh orang dewasa, tetapi kini menyasar anak-anak yang masih digolongkan sebagai anak usia dini.

Tidak percaya? Ya, menurut data terbaru dari Dinas Kesehatan DIY menunjukkan adanya peningkatan kasus diabetes pada kelompok usia muda, bahkan di bawah 20 tahun.  

Kemudian, berdasarkan data dari Ikatan dokter anak Indonesia ( IDAI),  prevalensi diabetes type 1 pada anak usia di bawah 18 tahun, meningkat hingga 70 kali lipat dari tahun 2010 hingga 2023. Jumlah penderita diabetes type 1 pada usia muda tersebut di tahun 2023 ada sebanyak 12.311  anak.  Gila, bukan?

Selanjutnya, data Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat peningkatan prevalensi DM pada penduduk berusia di atas 15 tahun dari 10,9 persen pada 2018 menjadi 11,7 persen pada 2023, serta proyeksi jumlah penderita mencapai 28,6 juta orang pada 2045. Wow! Ini sudah parah.

Adapun, sebanyak 46,23 persen penderita diabetes berada pada rentang usia 10-14 tahun, sementara 31,05 persen lainnya berada di rentang 5-9 tahun, 19 persen berusia 0-4 tahun, kemudian 3 persen lainnya berusia lebih dari 14 tahun. Sedangkan, mayoritas penderita diabetes pada anak berjenis kelamin perempuan dengan persentase 59,3 persen dan sisanya laki-laki. Celaka bukan?

Ya pasti celaka dan sangat mengkhawatirkan.  Yang jelas, ini kasus yang akan terus mencelakakan anak-anak negeri ini. Apa yang mengkhawatirkan kita adalah ketika jumlah penderita diabetes pada tingkat usia lanjut belum selesai diurai, ditambah buruk oleh meningkatkan kasus diabetes di usia muda atau di usia dini. Indonesia sehat yang diinginkan, namun bila diabetes menyerang hingga ke usia dini, bukankah itu petaka yang kita tuai?

Kita kita tidak bisa bayangkan seperti apa kondisi anak-anak generasi kini dan di masa datang, masa-masa Indonesia memiliki jumlah penduduk usia produktif yang merupakan bonus demografi pada tahun 2035 yang besar jumlahnya, tetapi banyak menderita diabetes. Bagaimana bisa produktif dan menjadi bonus geografi, bila banyak yang menderita diabetes? Bukankah akan menjadi bonus yang loyo?

Bukan hanya itu, ambisi bangsa ini yang sedang menyiapkan generasi emas di tahun 2045  dapat dipastikan akan menjadi buyar, ketika jumlah pengidap diabetes terus meningkat.  Apalagi saat ini, anak -anak Indonesia yang masih usia dini semakin banyak mengonsumsi makanan-makanan yang membawa mereka ke jurang diabetes.

Pola makan yang terus berubah dan menyantap makanan-makanan yang menyebabkan mereka menderita diabetes. Generasi sekarang  tampak semakin manja dengan makanan dan minuman yang cepat saji dengan kandungan gula dan intensitas konsumsi tinggi menjadi tantangan berat/ Ya, dengan sangat seringnya  mengonsumsi minuman-minuman yang serba manis dengan pemanis buatan itu, akan semakin memperburuk wajah anak-anak negeri di masa depan. 

Kita tentu tidak ingin anak-anak negeri ini kelak menjadi generasi yang sakit -sakitan, loyo dan tak berdaya. Oleh sebab itu,  selayaknya  semua stakeholders, pemerintah dan masyarakat harus dengan sungguh-sungguh mengantisipasi melonjaknya jumlah penderita diabetes di kalangan anak usia muda atau usia dini. 

Untuk itu, semua pihak harus saling bergandengan tangan, bersinergi melakukan upaya preventif pada generasi baru atau muda. Diperlukan upaya- upaya serba ekstra, mengedukasi genrasi muda secara serius dan berkelanjutan oleh semua pihak untuk bisa membangun gaya hidup sehat tanpa diabetes. pemerintah sendiri, khususnya BPOM juga harus lebih tegas melakukan pengawasan terhadap produk makanan yang diedarkan di pasar yang ditemukan atau disinyalir merusak henrasi bangsa.

Pemerintah harus dengan tegas menegakan regulasi mengenai penggunaan zat-zat makanan yang bisa memicu meningkatnya penyakit diabetes tersebut. 

Tentu saja, harus melakukan pengawasan atau kontrol yang intens terhadap makanan dan minuman yang diproduksi dsm beredar di pasar. 

Kita yakin, jumlah penderita diabetes di kalangan generasi muda atau kalangan usia dini bisa terkontrol bila pemerintah memiliki komitmen yang tinggi untuk menyiapkan anak-anak negeri menjadi generasi emas.  

ADVERTISEMENT

Akan semakin yakin, bila setiap orangtua juga setiap saat mengedukasi dan mengontrol serta secara bersama menjaga pola makan sehat. Selain itu, juga harus didorong agar anak-anak usia dini rajin bergerak, berolah raga, jangan mager dan hanya menundukan wajah ke gadgets.

Masih banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko dibates di kalangan usia muda atau usia dini. Misalnya dengan menjaga berat badan dan pola makan sehat, juga dengan mengurangi konsumsi tokok dan alkohol, serta rajin melakukan pemeriksaan ke dokter dan yang paling penting adalah edukasi secara serius dan berkelanjutan.  

Bila semua ini dilakukan, kita bisa berhasil menyiapkan generasi emas di tahun 2045, namun bila semua itu tidak dilakukan, maka kita akan memetik hasil yang mengecewakan. Semoga kita sadar dan mau mengubah pola hidup, pola makan, dan menjaga tubuh tetap sehat. Mari kita bangun dan gunakan gaya hidup sehat sejak sekarang. Semoga 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Ibuku Juga Ayah Bagiku

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com