• Latest
Ujian Ketahanan Hidup di Era Modern

Ujian Ketahanan Hidup di Era Modern

Februari 3, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Ujian Ketahanan Hidup di Era Modern

Rosadi Jamaniby Rosadi Jamani
Februari 3, 2025
Reading Time: 2 mins read
Ujian Ketahanan Hidup di Era Modern
598
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Dulu, hidup lebih sederhana. Gas 3 kg ada di warung depan rumah. Tinggal keluar, bawa tabung, bayar, pulang. Selesai. Tak perlu strategi, tak perlu perjalanan jauh, tak perlu seminar motivasi untuk tetap bertahan dalam antrean.

Tapi kini, semuanya berubah. Entah karena terlalu bahagia, terlalu nyaman, atau terlalu mudah, pemerintah merasa rakyat butuh tantangan baru. Maka lahirlah kebijakan mutakhir, pengecer dilarang menjual gas elpiji 3 kg!

Maka, dimulailah era baru. Sebuah petualangan epik. Jika dulu perjalanan menuju gas hanya selemparan sandal, kini butuh perjuangan. Dari yang semula 100 meter, kini bisa 1 kilometer. Seperti program fitness nasional, tapi tanpa trainer, tanpa motivator, dan tanpa janji tubuh ideal.

Lalu muncullah sang Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, dengan wajah penuh ketulusan. “Saya memahami penderitaan rakyat,” katanya, seolah rakyat hanya butuh dipahami, bukan diberi solusi konkret.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

“Ini hanya sedikit peralihan,” lanjutnya. Tentu saja, ‘sedikit peralihan’ ini hanyalah istilah halus untuk “Coba sabar dulu, siapa tahu terbiasa?”

Namun, jangan khawatir. Ada solusi! Kata Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi, ini bukan larangan, melainkan “perbaikan penyaluran.” Karena, kata beliau, pengecer tidak benar-benar dilarang. Mereka hanya didorong untuk menjadi agen resmi.

Ya, didorong. Persis seperti mendorong mobil mogok di tanjakan. Butuh tenaga, butuh semangat, dan butuh keajaiban agar sampai tujuan.

Caranya? Daftar jadi agen resmi. Daftarnya lewat Online Single Submission (OSS). Sebuah sistem yang, bagi banyak rakyat, masih terdengar seperti mantra dari dunia lain.

Kini, tukang warung yang dulunya menjual gas di samping rak mie instan harus bertransformasi. Dari pengecer kecil menjadi agen resmi.

Persyaratannya? Mendaftarkan Nomor Induk Berusaha (NIB).
Karena tentu saja, setiap warung kecil di gang sempit pasti punya laptop, internet stabil, dan waktu luang untuk memahami sistem pendaftaran birokratis online.

Tapi, semua ini demi “jangkauan LPG 3 kg lebih tepat sasaran.” Begitu kata Hasan.

Tepat sasaran?
Sasarannya siapa?
Kalau dulu gas tinggal angkat dari warung sebelah, sekarang harus jalan berkilo-kilo, apakah itu berarti sasarannya bukan rakyat kecil, tapi atlet lari maraton?

Tapi rakyat Indonesia tidak mudah menyerah. Mereka tetap antre. Tetap berjuang. Tetap membawa tabung hijau kesayangan, meski harus berjalan jauh, meski harus menahan rintik hujan dan terik matahari.

Mereka melangkah, bukan hanya demi gas, tetapi demi hak mereka sebagai warga negara. Demi bisa memasak, demi bisa bertahan hidup.

Di kejauhan, Menteri Bahlil tersenyum. “Mohon kasih kami waktu sedikit saja,” katanya.

Rakyat pun mengangguk pelan. Dalam hati mereka berkata, “Baik, Pak. Kami kasih waktu. Sampai kapan? Sampai kami terbiasa, atau sampai kami menyerah?”

#camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Gagal Memotret  Proses dan Hasil  17 Tahun Dana Otsus Aceh di Bidang Pendidikan 

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com