• Latest
Pembelian Impulsif: Godaan Era Digital

Pembelian Impulsif: Godaan Era Digital

Januari 20, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Pembelian Impulsif: Godaan Era Digital

Azharsyah Ibrahimby Azharsyah Ibrahim
Januari 20, 2025
Reading Time: 3 mins read
Tags: #22 Tahun POTRET#Belanja Impulsif#Budaya Konsumtif#HUT Majalah POTRET
Pembelian Impulsif: Godaan Era Digital
590
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

 

Azharsyah Ibrahim*

Belanja online kini telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern. Kemudahan mengakses e-commerce, beragam promo menarik, hingga potongan harga besar-besaran, membuat siapa pun tergoda untuk membeli barang, bahkan tanpa perencanaan. Namun, di balik kenyamanan ini, ada fenomena yang perlu kita waspadai.

Pembelian Impulsif.

Pembelian impulsif adalah tindakan membeli barang secara spontan, tanpa pertimbangan matang. Fenomena ini semakin marak di era digital, terutama di Indonesia, yang menjadi salah satu negara pengguna e-commerce terbesar di dunia. Sayangnya, perilaku ini sering kali berdampak buruk, seperti pemborosan, penyesalan setelah belanja, hingga masalah keuangan. Lalu, apa yang sebenarnya memicu perilaku ini, dan bagaimana kita bisa mengendalikannya?

Gaya Hidup Konsumtif dan Godaan Diskon

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa salah satu penyebab utama pembelian impulsif adalah gaya hidup konsumtif. Di era media sosial, kita terus-menerus dibombardir oleh iklan, tren, dan ulasan produk yang membuat kita merasa harus memiliki sesuatu agar “tetap relevan”. Belanja tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan, tetapi menjadi cara untuk mencari kesenangan atau bahkan pengakuan sosial.

Selain itu, siapa yang tidak tergoda dengan diskon besar? Promo seperti “flash sale” atau “buy one get one” sering membuat kita merasa harus segera membeli, meskipun barang tersebut sebenarnya tidak kita butuhkan. Diskon menciptakan ilusi bahwa kita sedang “menghemat uang”, padahal kenyataannya, kita justru mengeluarkan uang untuk barang yang tidak esensial.

Pendapatan Tinggi, Belanja Tak Terkendali?

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 30, 2026

Pendapatan juga memainkan peran penting dalam perilaku belanja impulsif. Orang dengan pendapatan lebih tinggi cenderung merasa lebih bebas untuk membeli barang-barang yang diinginkan, tanpa terlalu memikirkan dampaknya. Namun, ini bukan berarti mereka yang berpenghasilan rendah terbebas dari godaan. Bahkan dengan anggaran terbatas, banyak orang tetap terjebak dalam pola belanja impulsif karena tergiur diskon atau tren.

Religiositas: Pengendali di Tengah Godaan

 

Penelitian Endah Munawarrah, mahasiswa Ekonomi Syariah, Pascasarjana UIN Ar-Raniry, menemukan bahwa di tengah godaan belanja impulsif, religiositas dapat menjadi rem yang efektif. Dalam ajaran agama, termasuk Islam, kita diajarkan untuk hidup sederhana, menghindari pemborosan, dan memprioritaskan kebutuhan daripada keinginan. Individu yang memiliki tingkat religiositas tinggi cenderung lebih mampu mengendalikan dorongan belanja impulsif, karena mereka mempertimbangkan nilai-nilai spiritual dan dampak jangka panjang dari setiap keputusan.

Namun, religiositas saja tidak selalu cukup. Dalam beberapa kasus, meskipun seseorang memiliki pemahaman agama yang baik, godaan belanja tetap bisa menguasai, jika tidak diimbangi dengan kesadaran dan disiplin diri. Hasil penelitian Endah setidaknya menemukan bahwa walaupun religiositas bisa mengerem pembelian impulsif pada orang yang punya pendapatan tinggi dan gaya hidup konsumtif, tetapi tidak dengan godaan diskon.

Mengapa Kita Harus Bijak dalam Berbelanja?

Belanja impulsif mungkin terlihat sepele, tetapi dampaknya bisa sangat merugikan. Dari sisi keuangan, pembelian barang yang tidak direncanakan dapat menguras tabungan dan mengganggu anggaran untuk kebutuhan yang lebih penting. Dari sisi psikologis, kebiasaan ini sering kali menimbulkan rasa bersalah atau penyesalan setelah belanja.

Di era digital ini, kita perlu menjadi konsumen yang lebih cerdas dan bertanggung jawab. Salah satu caranya adalah dengan membuat daftar belanja sebelum membeli sesuatu dan mematuhi daftar tersebut. Selain itu, penting untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Jika suatu barang hanya dibeli karena “ingin”, cobalah untuk menunda pembelian selama beberapa hari dan lihat apakah dorongan tersebut masih ada.

Kesimpulan 

Belanja online memang menawarkan kenyamanan, tetapi juga membawa tantangan tersendiri, terutama dalam mengendalikan pembelian impulsif. Gaya hidup konsumtif, godaan diskon, dan pendapatan yang tidak terkontrol menjadi faktor utama yang memicu perilaku ini. Namun, religiositas dan kesadaran diri dapat menjadi alat yang efektif untuk mengendalikan dorongan belanja yang tidak perlu.

Sebagai konsumen, kita perlu lebih bijak dalam mengambil keputusan keuangan. Belanja bukanlah sekadar aktivitas untuk memuaskan keinginan sesaat, tetapi juga harus menjadi alat untuk memenuhi kebutuhan secara rasional. Mari kendalikan kebiasaan belanja kita, agar keuangan tetap sehat dan hidup lebih bermakna.

ADVERTISEMENT

—

 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Lebih Dekat Mengenal JASARODA

Lebih Dekat Mengenal JASARODA

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com