POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

KAMPUS INDONESIA JAGO KANDANG DAN KANIBAL

RedaksiOleh Redaksi
January 13, 2025
Tags: #Perguruan Tinggi#PTS
🔊

Dengarkan Artikel

 

Oleh Satria Dharma

Dalam peringkat dunia, kampus-kampus kita boleh dikata tidak bersuara. Jangankan dunia, dengan kampus di Asia Tenggara saja kita kalah jauh. Pada peringkat Webometric 2023 di Asia Tenggara untuk 10 besar kita hanya masuk peringkat 10 (UI diperingkat 516 dunia). Peringkat 1 dan 2 dari Singapura (NUS peringkat 44 dan NTU peringkat 87), Malaysia di peringkat 3, 5, 7, 8 dan Thailand di peringkat 4, 6, 9.

Mengapa kampus-kampus kita kok bisa tak berdaya bersaing dengan kampus-kampus negara tetangga? Ada banyak faktor yang menyebabkannya, tapi saya akan membahas satu hal, yaitu program internasional. Tentu saja beberapa PTS dan PTN di Indonesia telah memiliki program internasional. Tapi jika dibandingkan dengan apa yang telah dilakukan oleh Perti di Malaysia, maka program internasional yang telah dilakukan dan dicapai oleh PT kita sungguh tidak ada apa-apanya.

Kita ini ibaratnya hanya jago kandang dan begitu keluar langsung keok. Jangankan dengan kampus topnya, bahkan dengan kampus swastanya saja kita jauh tertinggal. Saya pernah berkunjung ke dua kampus swasta Help University dan Lim Kok Wing dan melihat program internasionalnya. Saya kagum dengan betapa agresifnya mereka mencari mahasiswa dari luar Malaysia.

Kedua universitas tersebut bukanlah PTS besar di Malaysia (HELP Uni hanya peringkat 73 di Malaysia dan Lim Kok Wing malah peringkat 155), tapi dua PTS tersebut benar-benar perti internasional dengan kurikulum, dosen, staf, dan mahasiswa yang juga internasional. Mereka mempunyai jaringan kerjasama dengan puluhan perguruan tinggi internasional lainnya dan bahkan mereka punya cabang di hampir semua benua. Tidak seperti biasanya perguruan tinggi Amerika dan Eropa punya cabang di Asia, sebaliknya Lim Kok Wing bahkan punya cabang di Inggris. Dengan memiliki cabang di berbagai negara, termasuk Idonesia, HELP dan Lim Kok Wing uni memiliki ribuan mahasiswa dan 70% dari para mahasiswa tersebut berasal dari 150 negara di seluruh dunia.

(Bandingkan dengan UI. Dari hampir 50 ribu mahasiswanya berapa ratus mahasiswa asingnya?). Bahkan menurut penuturan mereka sekarang ini trendnya mahasiswa dari AS dan Eropa meningkat. Jadi ketika kami mengunjungi kampus mereka yang megah dan kosmopolit tersebut kami menjumpai mahasiswa dan dosen baik dari Amerika Serikat, Jerman, Prancis, Spanyol, dan lain-lain.

Perekonomian AS dan Eropa sedang menurun dan Asia menjadi pusat perekonomian dunia saat ini. Hal ini tentu saja membuat mereka harus mengubah paradigma mereka tentang masa depan perekonomian dan mereka harus belajar dari Asia untuk itu. Malaysia menjadi pilihan yang tepat karena pemerintahnya memang telah mempersiapkan diri untuk menuju ke sana. Mereka benar-benar mempersiapkan sistem pendidikan mereka agar menjadi internasional dan menjadikan pendidikan sebagai salah satu pilar industri yang bisa mendatangkan investasi dan dana bagi pemerintah.

📚 Artikel Terkait

Selembar Mukena di Ujung Malam

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Mengenal Ariyanto Bakri, Dewa Hukum Terperosok di Sel Tikus

Pulang untuk Lebaran

Malaysia saat ini adalah pusat pendidikan internasional dunia. Ketika pemerintah AS harus bekerja keras untuk menggaet mahasiswa asing untuk belajar di negaranya karena trend mahasiswa yang belajar di sana semakin lama semakin menurun, Malaysia justru mengalami peningkatan yang luar biasa. Di Lim Kok Wing saja saat ini ada sekitar seribuan mahasiswa belajar di sana dan merupakan jumlah mahasiswa asing terbesar dibandingkan dengan negara-negara lain. Meski demikian kita tidak akan mudah menengarainya di antara ratusan mahasiswa yang berkerumun karena mahasiswa dari Afrika dan Timur Tengah lebih nampak menonjol. Mungkin karena mahasiswa Indonesia lebih diwakili oleh mereka dari warga keturunan China sehingga tidak mudah dikenali di antara warga keturunan China dari berbagai negara lain.

Alasan lain dari membanjirnya siswa asing ke Malaysia adalah karena mereka memang mempersiapkan diri dan sangat agresif untuk mempromosikannya. Faktor bahasa juga sangat penting. Karena bahasa Inggris adalah bahasa ke dua (sama dengan Singapore), maka sangat mudah bagi mereka untuk mengadopsi kurikulum internasional apa pun untuk menjadi kurikulum mereka. Mereka juga tidak mendapat kesulitan untuk merekrut tenaga ahli dari negara mana pun karena negara mereka punya daya tarik yang lebih daripada negara mana pun.

Mereka mempromosikan diri sebagai ‘truly Asia’ tapi dengan tampilan yang benar-benar kosmopolitan. Hukum benar-benar ditegakkan dan politik mereka stabil. Gaji yang ditawarkan sangat bersaing (dan itu sebabnya sekarang banyak tenaga ahli kita yang loncat bekerja di Malaysia), sedangkan biaya hidup relatif rendah dan bahkan bisa dibilang setengah lebih murah daripada Singapore. Jadi apalagi yang dicari?

Modernitas dan standar hidup yang ada di Singapore sepenuhnya ada di Kuala Lumpur, tapi Singapore hanyalah satu kota kecil dibandingkan negara Malaysia yang eksotis dan jauh lebih terbuka. Peluang untuk bekerja juga sangat terbuka lebar, apalagi jika mau bekerja pada pekerjaan yang dianggap rendah dan pertukangan. Bahkan 90% pegawai kasar di Malaysia sebenarnya adalah para TKI. Jadi jika terjadi penghentian pengiriman TKI ke Malaysia, maka mereka akan sangat menderita.

Kemarin ada wartawan yang bertanya pada saya soal kampus swasta di Indonesia yang bangkrut dan katanya mau jual asset untuk membayar dosennya, seperti kampus di Bandung dan Tangerang. Sebetulnya masalah lembaga pendidikan yang bangkrut dan tidak bisa melanjutkan operasionalnya bukan fenomena baru dan sudah terjadi sejak dulu. Bahkan lebih banyak yang terjadi di sekolah menengah (SMP/SMA/SMK) karena ekspansifnya sekolah-sekolah negeri yang dibangun oleh pemda.

Untuk sekolah menengah BMPS (Badan Musyawarah Perguruan Swasta) sudah sering protes ke Pemda karena semakin ketatnya persaingan untuk mendapatkan siswa. Sekolah-sekolah negeri didorong untuk menerima sebanyak-banyaknya siswa meski fasilitasnya tidak memadai. Akibatnya sekolah swasta kekeringan dan tidak dapat siswa meski fasilitasnya lebih memadai. Sekolah swasta dimakan oleh sekolah negeri. Protes dilakukan di mana-mana, tapi tampaknya tidak terlalu didengar.

Begitu juga yang terjadi di perti. PTS-PTS juga menjerit karena PTN semakin ekspansif dan bahkan buka cabang di mana-mana. Pada tahun perkuliahan 2023 dan 2024, PTN tampak memperbesar daya tampungnya secara signifikan, bahkan ada yang merekrut mahasiswa baru dua hingga tiga kali lipat dari jumlah tahun-tahun sebelumnya. Dengan semakin besarnya daya tampung PTN, jumlah mahasiswa baru yang dapat direkrut oleh PTS menjadi berkurang. Jika tren ini terus berlangsung, kampus-kampus swasta berisiko kehilangan pendapatan akibat berkurangnya jumlah mahasiswa.

Dengan semakin besarnya daya tampung PTN, jumlah mahasiswa baru yang dapat direkrut oleh PTS menjadi berkurang. Jika kanibalisasi ini terus berlangsung, kampus-kampus swasta berisiko kehilangan pendapatan akibat berkurangnya jumlah mahasiswa. Jika total biaya operasional PTS masih di bawah total pendapatan, maka tidak akan ada masalah. Namun, jika biaya operasional lebih besar daripada pendapatan, PTS bisa mengalami kerugian hingga terancam tutup. Itulah yang terjadi di banyak tempat. Jadi sebenarnya alasannya bukan sekadar masalah manajerial. Untuk itu pemerintah perlu membatasi secara ketat jumlah mahasiswa baru yang boleh direkrut oleh PTN, agar PTS tetap dapat tumbuh dan berkembang. Dengan demikian, misi suci pemerintah untuk mencerdaskan bangsa dapat terlaksana dengan baik melalui kolaborasi antara PTN dan PTS tanpa ada yang dirugikan.

Meskipun memiliki peran yang tidak jauh berbeda dengan PTN, namun tampaknya pemerintah tidak turut ikut bertanggung jawab kepada PTS. Seharusnya PTS diberi ruang yang sama serta persaingan sehat untuk maju dan berkembang. Jadi bukannya justru dimatikan dengan ditambahnya kuota PTN yang ugal-ugalan tersebut dengan memakan porsi saudaranya dari swasta.

Surabaya, 13 Januari 2025
Satria Dharma

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Tags: #Perguruan Tinggi#PTS
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Jejak di Tanah dan Jejak di Jiwa

Jejak di Tanah dan Jejak di Jiwa

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00