POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Hasto, Korupsi, dan Drama Nasional

RedaksiOleh Redaksi
January 13, 2025
Tags: #Drama Politik#PDIP
Hasto, Korupsi, dan Drama Nasional
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Lama tak bahas politik. “Salok juak,” kata orang Sambas. Sepertinya ada yang menarik untuk menemani kopi ni. Soal KPK yang sudah berkoar-koar sampai ke planet Mars soal Hasto. Giliran didatangi Hasto, kok biasa saja. Yok kita bahas drama nasional ini.

Hasto Kristiyanto. Nama yang kini menggema di lorong-lorong gedung KPK, bak soundtrack melodrama politik yang tak kunjung usai. Sekjen DPP PDIP ini melenggang masuk ke sarang anti-korupsi untuk diperiksa atas dugaan suap dan obstruction of justice. Setelah 3,5 jam yang mungkin terasa seperti seabad bagi kita rakyat biasa, Hasto keluar dengan wajah semringah. Senyum lebar, seolah baru saja memenangkan penghargaan di Festival Film Politik Nasional.

Kabar angin pun berhembus kencang. Bukan angin yang di Los Angeles ya, wak. Kabar angin ini seperti rumor gosip tetangga yang beredar di arisan RT. Katanya, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri sempat menelepon Prabowo Subianto. Apa isi teleponnya? Siapa yang tahu? Namun, Ketua Harian Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, langsung banting setir membantah dengan gaya seorang tokoh utama sinetron yang dituduh selingkuh. “Tidak ada hubungannya dengan Pak Prabowo atau Gerindra,” tegas Dasco, mungkin sambil melirik kamera, memastikan momen dramatis ini terekam dengan baik.

“Proses hukum adalah urusan aparat penegak hukum,” tambah Dasco, seolah mengingatkan kita bahwa hukum itu suci, murni, dan sama sekali tidak bisa diganggu gugat. Kecuali, mungkin oleh tangan tak terlihat yang sudah terlalu sering kita dengar dalam cerita-cerita seperti ini.

Hasto? Ketika keluar dari gedung KPK, dia seperti aktor utama yang baru saja menyelesaikan adegan klimaks. Mengenakan kemeja hitam, dengan senyum yang tak lekang oleh waktu, dia menyapa para simpatisan yang menyambutnya dengan pekik “Merdeka!”. Merdeka dari apa? Dari tanggung jawab? Dari pertanyaan wartawan yang terus mengejar? Hasto memilih diam, seperti seorang pahlawan misterius yang menunggu waktu untuk mengungkap rahasia besar.

📚 Artikel Terkait

‎Masih Ada Kekerasan Penganiayaan Fisik di Situbondo, Apakah Kita Sudah Melupakan Sastra, Meninggalkan Puisi ?‎

Menyelami Pesan Buya Syafii Maarif (1)

Menyelami Rasa Banda Aceh dan Pesona Sabang

Sumber Belajar di Era Digital

Pengacara Hasto, Maqdir Ismail, lalu mengambil peran sebagai narator. “Pak Hasto diperiksa untuk dua perkara,” katanya dengan nada datar. Seolah dua perkara ini hanyalah menu pembuka dalam pesta besar. Suap dan perintangan penyidikan. Ah, hanya itu? Detailnya? Oh, tentu saja, rahasia. “Kami sudah sepakat dengan penyidik untuk tidak mengungkap materi pemeriksaan ke publik,” tambah Maqdir. Transparansi? Itu barang antik, teman-teman.

Namun, jangan lupa bumbu utama cerita ini, Harun Masiku. Nama yang begitu legendaris hingga sepertinya layak diabadikan dalam mitos modern. Dalam kasus ini, Hasto memainkan peran sutradara film thriller, mengarahkan saksi, memberi perintah untuk merendam ponsel dalam air (plot twist yang jenius, bukan?), dan memastikan semua jejak menghilang seperti ilusi magis.

Lalu, ada uang suap Rp600 juta. Jumlah yang bagi sebagian dari kita cukup untuk membeli rumah atau, setidaknya, melunasi cicilan. Tapi di dunia politik, itu hanyalah uang saku. Tujuannya? Membuka jalan bagi Harun Masiku ke kursi DPR melalui proses PAW. Oh, betapa mahalnya sebuah kursi.

Momen epik pun tiba. Hasto meninggalkan gedung KPK dengan bus berwarna merah putih, lambang nasionalisme sejati. Diiringi simpatisan yang meneriakkan semangat perjuangan dengan lantang, adegan ini nyaris seperti puncak film perang, tanpa perang, tentu saja. Tapi perjuangan untuk apa? Untuk keadilan? Untuk kebebasan? Untuk tetap tersenyum di tengah badai skandal?

Beginilah kisah politik kita. Penuh drama, penuh ironi, penuh kejutan yang, entah bagaimana, selalu berhasil membuat kita tertawa getir. Episode ini mungkin sudah selesai, tapi jangan khawatir, teman-teman. Masih banyak babak lain menanti. Siapkan kopi, karena sinetron ini masih panjang. Selamat menikmati!

#camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 69x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Tags: #Drama Politik#PDIP
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
NEGERI DIAMUK BADAI API

NEGERI DIAMUK BADAI API

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00