POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Janji Adalah Utang Seperti Makna Pesan Ayat-ayat Suci Yang Diturunkan Dari Langit

RedaksiOleh Redaksi
December 26, 2024
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Jacob Ereste

Janji yang kadaluarsa itu, seperti obat yang tak lagi patut dikonsumsi. Biarlah dia diterbangkan angin seperti awan yang lepas bebas di langit. Sebab semua jenis barang yang akan dikonsumsi tidak lagi diperlukan. Apalagi bila sudah kadaluarsa masa berlakunya. Jika pun tetap ingin dikonsumsi, boleh jadi dia akan menjadi racun bagi tubuh yang sudah pulih dari janji yang kecewa akibat angin sorga yang telah  dihembuskan.

Janji itu memang terhembus seperti angin surga dengan segenap fantasi keindahan yang menggiurkan. Bahkan acap membuat mabuk kepayang bagi yang bersangkutan. Layak remaja yang tengah digulung cinta. Lupa akan ada kekecewaan yang banyak menghadang. Maka itu, akibat dari putus cinta bisa jadi bunuh diri.

Pada tahapan inilah, keimanan yang dibekali oleh agama harus bertarung mengalahkan gejolak  egosentrisitas yang tidak terkendali. Maka laku spiritual yang bisa dibangun sejak usia muda sangat diperlukan. Agar keyakinan terhadap kemurahan serta cinta kasih Tuhan itu tidak terbatas. Tentu saja utamanya bagi yang percaya (beriman) sambil memperbanyak do’a dan usaha. Sebab berdo’a saja — tanpa usaha — seperti ide atau gagasan yang tidak pernah diwujudkan. Masalah tak berhasil pun harus dapat dipetik hikmahnya. Minimal kesadaran kita untuk melakukannya telah menjadi pengalaman baru, daripada tidak pernah sama sekali melakukannya.

Janji dan harapan besar, seperti dua sisi dari mata uang (gobang) yang tidak terpisahkan. Karena itu — janji acap dipahami oleh banyak orang semacam utang yang harus dituntaskan, agar tidak mengganjal jalan menuju surga. Kecuali itu, karena janji pula harapan terus bertumbuh dengan optimisme dan pesimisme yang terkadang seperti badai berkecamuk di lautan bebas seperti tidak ada batasnya.

Jenis kelamin dari janji-janji itu pun acap beragam sifat dan tabiatnya. Sehingga sering ditampilan secara terselubung, sehingga sublimasi wujudnya lebih abstrak, hingga lebih sulit terbilang dalam bilangan yang tepat. Artinya, sungguh tidak ada kepastian yang bisa dijadikan patokan, seperti apa dan bagaimana wujud nyatanya, seperti rumitnya penulisan berita yang harus memenuhi syarat 5W + 1H  (Apa, Siapa, kapan dan dimana hingga bagaimana terus ditambah mengapa yang perlu disertai jawabannya.

📚 Artikel Terkait

Keseruan bersepeda dan sejuta manfaatnya

Ringkukan Tumpuk Jerami

Belajar dari Pemilihan Ketua Kongress Amerika

Sunan Pojok: Jejak Pangeran Surobahu dalam Sejarah Awal Blora

Dalam lelenguh penyanyi pun ada syair tentang seribu janji dari lidah yang tidak bertulang. Artinya, dari dalam mulut yang manis itu bisa diumbar seribu janji, meski akhirnya disudahi dengan janji yang cuma janji saja. Tak pernah ada wujud nyatanya.

Begitulah tragika dari obat yang terlambat diberikan. Karena orang yang sakit itu mungkin sudah mati. Sehingga tidak lagi memerlukan pengobatan, kecuali dikafani dan diantar dengan segenap do’a agar arwahnya dapat diterima di disi Tuhan. Dan ternyata dari kisah sepenggal ini sudah cukup mengantar kita untuk memasuki wilayah spiritual yang masih acap dianggap oleh banyak orang cukup rumit, bahkan wingit atau semacam klenik yang masuk dalam katagori sirik dan sejenisnya, termasuk bid’ah.

Janji yang lebih gawat, bila sampai dibawa mati oleh yang bersangkutan, karena utang (janji) kita itu belum juga bisa diselesaikan semasa hidup yang bersangkutan. Sebab bisa jadi masalah utang piutang (janji) itu akan menjadi catatan pertanyaan di akherat oleh malaikat. Agaknya, karena itulah saat penguburan seseorang, dari pihak keluarga sering menyertakan pula pertanyaan saat memberi kata sepatah pada upacara pemakaman, bila utang yang bersangkutan pada  masa hidup, sangat dimohon untuk menghubungi keluarga. Lain cerita untuk siapa saja yang memiliki utang dengan yang bersangkutan, maka dari pihak keluarga telah mengikhlaskan, bila tidak dapat dijadikan bagian dari pahala baginya.

Boleh jadi atas pertimbangan serupa inilah pemahaman terhadap janji yang dimaknai sebagai utang sangat peka untuk dilakukan. Sehingga banyak hal selalu diwakili oleh ungkapan insyaallah. Sehingga janji yang dimaknai sebagai utang, lantaran utang itu sendiri penuh dengan janji-janji yang gampang dan mudah untuk ditepati atau bahkan bisa dengan mudah dikemplang, alias tidak dibayar. Jadi janji dan utang itu sendiri rentan terhadap kejujuran. Apalagi keikhlasan.

Yang istimewa dan spesial adalah janji-janji yang termuat dalam kitab Perjanjian dari langit. Karena janji di dalamnya langsung menghunjam.ke kedalaman jiwa untuk ditaati mulai dari sendiri. Inilah nilai-nilai religiusitas dalam dimensi spiritual karena merupakan dasar yang harus ditaati mulai dari dalam diri sendiri. Baru kemudian dapat melangkah melalukan pengembaraan spiritual yang tiada batas itu. Karena kejujuran, kerendahatian merupakan disiplin utama yang tidak ada tawar-menawar. Bila gagal dan lalai, maka dengan sendirinya semua hajat dari laku spiritual itu menjadi gagal.

Perjanjian terhadap diri sendiri itu adalah komitmen yang mendasari keimanan Terhadap Tuhan Yang Maha Mutlak. Itulah sebabnya berpuasa itu menjadi bagian yang penting dan perlu dilakukan juga dalam setiap tahapan laku spiritual. Karena puasa bukan hanya sekadar untuk menjaga kedisplinan diri, tetapi keikhlasan dalam melakukan puasa adalah kejujuran yang harus dimulai oleh diri sendiri terhadap diri sendiri juga. Kejujuran dan kedisiplinan dalam menunaikan puasa itu — apalagi yang wajib seperti pada bulan Ramadhan itu — akan menjadi fondasi karakter yang kukuh dan kuat, tak hanya secara fisik, tetapi juga dalam urusannya dengan batin yang lega-lila. Pasrah hingga mencapai dimensi yang kaffah. Dan spiritualitas itu untuk membekali diri agar tangguh dan kuat dalam takaran batin yang prima.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 51x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Puisi-Puisi Kenangan Tsunami

ZIARAH LAUT

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00