• Latest
Harapan di Pinggir Jalan: Fenomena Anak Jalanan Banda Aceh

Harapan di Pinggir Jalan: Fenomena Anak Jalanan Banda Aceh

Desember 22, 2024
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Harapan di Pinggir Jalan: Fenomena Anak Jalanan Banda Aceh

Redaksiby Redaksi
Desember 22, 2024
Reading Time: 3 mins read
Tags: #pengemisanak jalanan
Harapan di Pinggir Jalan: Fenomena Anak Jalanan Banda Aceh
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Sabdainin Nashira

Semester V Jurusan : Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

 

Pada malam 7 Oktober 2024, sekitar pukul 19.10 WIB, penulis menyaksikan sebuah pemandangan yang begitu menyentuh di dekat Tugu Gelanggang, Banda Aceh. Di sana, sebuah pemandangan yang kontras antara gemerlap kota dan perjuangan hidup tampak jelas. Seorang anak laki-laki berusia sekitar 12 tahun sedang berdiri di pinggir jalan, ditemani adik perempuannya yang masih balita. Anak laki-laki tersebut tidak terlihat seperti pengemis pada umumnya, namun ada sesuatu dalam perilakunya yang mencerminkan budaya meminta, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Anak laki-laki itu mengenakan pakaian yang sangat sederhana. Meskipun tampak sehat secara fisik, sorot matanya menyiratkan keinginan akan perhatian dan belas kasih. Di pundaknya tergantung sebuah karung besar, tanda bahwa ia membantu ayahnya mengumpulkan botol untuk dijual. Saat diajak berbicara, ia mengaku sering mengikuti sang ayah bersepeda dari Kajhu ke pusat kota Banda Aceh selepas sekolah.

Dalam percakapan singkat, ia mengungkapkan bahwa belum sempat makan malam. Namun, dengan senyum malu-malu, ia tetap menunjukkan keceriaan khas anak-anak. Beberapa mahasiswa yang melintas memberikan makanan dan uang kecil, yang diterimanya dengan penuh rasa syukur. Di sela obrolan, ia bahkan bercanda meminta cincin yang penulis kenakan, sebuah gestur polos yang mengungkap kebiasaan nyamenerima pemberian dari orang-orang yang peduli. Sikap ini, meski tampak polos, mengindikasikan sebuah pola hidup yang terbentuk dari kondisi ekonomi keluarganya.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Di sampingnya, adik perempuannya yang berusia sekitar dua tahun tampak lemah. Tubuhnya kecil, memperlihatkan tanda-tanda kurang gizi. Ia belum bisa berbicara dengan jelas, hanya mengeluarkan suara “aa aa aa” sambil menunjuk ke arah sekitar, sebuah usaha komunikasi sederhana yang menggambarkan keterbatasannya. Kehadirannya menambah dimensi emosional pada pengamatan ini, sebuah potret keluarga yang berjuang melawan kerasnya kehidupan di tengah keterbatasan.

Kondisi keluarga anak-anak ini mencerminkan lingkaran kemiskinan yang sulit diputus. Sang ayah bekerja keras mengumpulkan botol untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,namun penghasilan dari pekerjaan tersebut mungkin hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, belum termasuk gizi yang memadai atau pendidikan yang berkualitas. Peran sang anak yang seharusnya fokus pada pendidikan, malah terbagi untuk membantu mencari nafkah, sebuah kenyataan pahit yang sering dihadapi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Sebuah realitas kehidupan anak- anak yang tidak wajar dan tidak boleh dibiarkan terus hidup di jalanan tanpa ada perlindungan Dan kehilangan atas hak untuk hidup layak. Negara harus turun tangan segera.

Untuk mengatasi realitas ini, diperlukan solusi yang menyentuh akar permasalahan. Salah satu langkah yang dapat diambil adalah mengusut tuntas penyebab mereka harus hidup di jalan, Lalu mungkin diperlukan pula upaya untuk memperluas akses program gizi bagi anak-anak yang menunjukkan tanda-tanda kekurangan nutrisi. Selain itu, beasiswa atau program pendidikan gratis hingga jenjang sekolah menengah dapat membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk mendapatkan pendidikan, tanpa terbebani masalah biaya.

Upaya lain yang dapat dilakukan adalah pemberdayaan ekonomi keluarga melalui pelatihan keterampilan dan bantuan modal usaha, sehingga orang tua seperti ayah dari anak tersebut dapat didorong untuk beralih ke pekerjaan yang lebih stabil dan berpenghasilan lebih baik. Pemerintah juga bisa menyediakan lapangan kerja di sektorivnformal yang ramah bagi masyarakat kurang mampu.

Selain itu, kolaborasi dengan komunitas, seperti mahasiswa atau organisasi sosial di Banda Aceh, dapat menjadi bagian penting dari solusi. Mereka dapat berperan aktif dalam memberikan bantuan langsung, seperti makanan, pakaian, atau bahkan pendidikan informal bagi anak-anak jalanan. Bantuan ini dapat meringankan beban keluarga dan memberikan dampak positif dalam jangka pendek.

Di sisi lain, kampanye kesadaran publik juga perlu dilakukan untuk mengedukasi masyarakat tentang cara memberikan bantuan yang tepat kepada anak-anak seperti ini. Bantuan berupa uang,  meski bermaksud baik, sering kali memperkuat pola hidup yang bergantung pada belas kasih. Sebaliknya, bantuan berupa makanan atau akses pendidikan akan memberikan dampak yang lebih berkelanjutan.

Pemandangan anak-anak di jalanan Banda Aceh ini mengingatkan kita bahwa di balik senyum mereka, ter ldapatp erjuangan yang  tidak mudah.  Namun, dengan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan komunitas loka, harapan untuk masa depan yang lebih baik bukanlah hal yang mustahil.

ADVERTISEMENT

Mari bersama-sama mewujudkan perubahan yang nyata, memberikan kesempatan bagi mereka untuk tumbuh di lingkungan yang lebih baik, bebas dari kekurangan, dan penuh harapan.

 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 363x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 322x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Hanya Avatar

Hanya Avatar

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com