• Latest
Mengubah Mindset Generasi Z  Terhadap Profesi Petani

Mengubah Mindset Generasi Z Terhadap Profesi Petani

Desember 6, 2024
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Mengubah Mindset Generasi Z Terhadap Profesi Petani

Salsabila Alfianti Saljaby Salsabila Alfianti Salja
Januari 1, 2025
Reading Time: 4 mins read
Mengubah Mindset Generasi Z  Terhadap Profesi Petani
652
SHARES
3.6k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

 

Oleh: Salsabilla Alfianti Salja
Mahasiswa Pascasarjana Ekonomi Syariah, Universitas Islam Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh

 

Generasi Z, yang dalam berbagai literatur disebut sebagai generasi yang lahir antara tahun 1997-2012. Saat ini, menurut  data BPS, Generasi Z  di Indonesia jumlahnya  mendominasi, dengan jumlah sekitar 74,93 juta jiwa, atau 27,94% populasi. Sebagai generasi Z, mereka masih berada dalam usia muda hingga remaja awal. Tentu saja dengan jumlah yang besar ini, mereka dipandang sebagai sebuah  potensi beaar untuk kemajuan dan perubahan di masa depan.

Dalam perkembangan zaman, generasi ini, sering disebut sebagai Gen Z, dikenal sebagan generasi yang melek  teknologi dan memiliki pemikiran yang kritis. Mereka  adalah generasi yang lahir di era digital, sehingga pola hidup mereka sangat bergantung pada teknologi dan cenderung menyukai pekerjaan yang fleksibel. Wajar saja , jika tren di kalangan mereka menunjukkan kecenderungan akan pekerjaan yang berbasis teknologi, seperti
menjadi konten kreator atau sejenisnya.

Sejalan dengan hal ini, Generasi Z di Indonesia yang tinggal dan menjalani kehidupan di negara agraris, sebenarnya diharapkan dapat menjadi soko guru tang berkontribusi besar dalam mengembangkan potensi pertanian di Indonesia. Hal ini penting karena dengan jumlah mereka yang besar dan potensi alam yang sangat kaya untuk sektor pertanian, akan bisa membangun pertanian yang dapat mengantarkan Indonesia menjadi negara bangsa yang memiliki ketahanan dalam bidang pangan.

Sayangnya, kemampuan mereka dalam
menggunakan teknologi canggih tidak sejalan dengan motivasi mereka untuk
menjadi petani. Banyak anak muda yang menganggap profesi petani sebagai
pekerjaan yang kurang menarik dan tidak bergengsi, terutama di tengah kemajuan
teknologi dan gaya hidup modern. Padahal, jika dikelola secara modern, bertani
memiliki potensi ekonomi yang besar dan sangat menjanjikan.

Sebagaimana disebutkan di atas, Indonesia sebagai negara agraris, memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah serta kondisi cuaca yang mendukung sektor pertanian. Namun, sayangnya jumlah petani muda terus menurun. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019 menunjukkan bahwa dari total 33,4 juta petani, hanya 8% atau sekitar 2,7 juta orang yang berusia 20-39 tahun. Sementara itu, petani berusia di atas 40 tahun, dengan mayoritas mendekati usia 50-60 tahun. Tanpa regenerasi petani, Indonesia berisiko menghadapi masalah serius, terutama dalam ketahanan pangan.

Masalahnya, banyak dari kalangan  Gen Z yang tidak berniat menjadi petani karena gengsi dan stigma masyarakat yang cenderung mengukur kesuksesan dari pekerjaan di bidang perkantoran atau sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Saat ini, mayoritas Gen Z lebih memilih profesi yang dianggap “keren,” seperti bekerja di perusahaan rintisan (start-up) atau menjadi konten kreator. Mereka beranggapan bahwa
bertani adalah pekerjaan berat dengan penghasilan yang tidak pasti.

Namun, bertani sebenarnya bisa menjadi sumber pendapatan yang besar jika dikelola dengan cara yang modern. Dengan perkembangan teknologi saat ini,
profesi petani memiliki peluang besar untuk meningkatkan kualitas hasil pertanian. Sebagai contoh, petani yang mengelola sayur atau buah organik berkualitas tinggi dapat meraup keuntungan puluhan juta rupiah setiap bulan.

Selain itu, teknologi modern membuat pekerjaan petani menjadi lebih mudah,
efisien, dan terstruktur. Teknologi juga dapat menjadi daya tarik bagi anak muda. Banyak inovasi yang membuat bertani lebih modern, seperti sistem irigasi pintar, drone untuk
memantau lahan, atau sensor yang  memberikan informasi kondisi tanah secara
real-time. Selain itu, platform e-commerce kini memungkinkan petani menjual
hasil panen langsung kepada konsumen tanpa perantara, sehingga pendapatan
mereka bisa meningkat signifikan. Jadi sudah sangat mudah dan praktis. Oleh sebab itu, rendahnya minat atau menurunnya jumlah petani dari generasi Z harus disikapi dengan arif. Harus ada upaya dari semua pihak untuk mendorong para generasi Z turun mengelola potensi pertanian di Indonesia yang melimpah ini.

Tentu saja, pemerintah telah berupaya menarik minat Generasi Z ke sektor pertanian melalui  berbagai program. Satu di antaranya adalag program  Petani Milenial. Program yang menyediakan pelatihan, pendampingan, dan akses permodalan untuk mendorong anak muda terjun ke dunia pertanian. Konsiderannya, dengan pelatihan tersebut, Gen Z diharapkan menyadari bahwa bertani bukanlah pekerjaan kuno. Justru, di era modern ini, bertani dapat menjadi peluang usaha yang menjanjikan, keren, menguntungkan dan membanggakan. Namun, pertanyaan yang muncul adalah, mengapa Gen Z masih enggan terjun ke sektor ini?

Padahal,  ini sudah di jelaskan oleh Allah dalam surah Quraisy ayat 1-4 yakni bagaimana kaum Quraisy berhasil memanfaatkan nikmat Allah untuk perdagangan, mencerminkan nilai keberanian, inovasi, dan tanggung jawab sosial yang relevan dengan prinsip-prinsip kewirausahaan Islam.

Surah Al-Quraisy (106: Ayat 1-4) :
لِاِيْلٰفِ قُرَيْشٍۙ ﴿١﴾
اٖلٰفِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاۤءِ وَالصَّيْفِۚ ﴿٢﴾
فَلْيَعْبُدُوْا رَبَّ هٰذَا الْبَيْتِۙ ﴿٣﴾
الَّذِيْٓ اَطْعَمَهُمْ مِّنْ جُوْعٍ ەۙ وَّاٰمَنَهُمْ مِّنْ خَوْفٍ ࣖ ﴿٤﴾

Artinya :
“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy,”
“(Yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.”
“Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka’bah),”
“Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan.”

Dilihat dari fenomena modern seperti rendahnya minat Gen Z terhadap profesi petani dapat dijelaskan dalam perspektif ayat ini. Meski pertanian terlihat kurang bergengsi, pendekatan modern dengan inovasi teknologi dapat menciptakan keberkahan ekonomi yang besar, sebagaimana kaum Quraisy memanfaatkan perjalanan dagang mereka. Pesan Al-Qur’an mendorong generasi muda untuk memanfaatkan nikmat Allah dengan mengelola sumber daya alam secara kreatif dan inovatif, sehingga menghasilkan manfaat bagi masyarakat luas sambil tetap mematuhi syariat Islam.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Nah, melihat kondisi saat ini, selayaknya dicari atau digali apa sebenarnya akar permasalahan yang membuat mereka
tidak tertarik menjadi petani?  Selayaknya hal ini diidentifikasi secara serius. Melihat dan mengidentifikasi berbagai hal sebagai faktor internal dan eksternal. Misalnya, secara internal terkait dengan gengsi Gen Z terhadap profesi petani, serta preferensi terhadap pekerjaan yang fleksibel. Hal yang menjadi sangat penting adalah rendahnya kemampuan literasi pertanian di kalangan generasi Z teraebut. Mindset yang menganggap  bahwa  pekerjaan di sektor pertanian dianggap berat dan tidak memberikan menjadi salah satu faktor internal yang harus bisa diubah.

Tak dapat dimungkiri pula bahwa secara eksternal, yang memengaruhi adalah
minimnya informasi dan edukasi tentang peluang di bidang pertanian, untuk
menarik minat Gen Z terjun ke sektor pertanian.

Oleh sebab itu, perlu dilakukan berbagai upaya, seperti pelatihan, edukasi, dan sosialisasi yang mengubah pandangan negatif tentang profesi ini. Selain itu, dukungan berupa akses teknologi dan modal yang memadai juga sangat penting
agar mereka dapat melihat bertani sebagai peluang karier yang menjanjikan.

ADVERTISEMENT

Maka, untuk membuktikan bahwa petani bisa menjadi profesi yang menjanjikan bagi Gen Z, kita perlu melibatkan secara aktif  kaum generasi Z serta memanfaatkan teknologi modern seperti pertanian hidroponik, penggunaan drone dalam pertanian, dan program-program pemerintah seperti Petani Milenial.

Ini bisa menjadi salah satu solusi yang dapat diterapkan sengan peningkatan kemampuan literasi pertanian dan teknologi sebagai bagian darri program edukasi dan pelatihan, perubahan mindset Gen Z. Untuk katalisatornya lewat penyediaan akses modal dan teknologi, pembentukan  komunitas petani muda, serta pembangunan infrastruktur pendukung, seperti platform khusus hasil pertanian.

Jadi dengan dukungan pemerintah, komunitas, dan influencer, informasi ini dapat tersebar luas membuat minat Gen Z terhadap profesi petani meningkat. Kiranya belumlah terlambat untuk berbuat, sudah saatnya kita ubah cara pandang para generasi Z tentang pertanian agar sektor ini terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya di Indonesia

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Sajak-Sajak Rosli K. Matari

Sajak-Sajak Rosli K. Matari

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com