Dengarkan Artikel
Oleh TETI OMAIRAH
Mahasiwa Jurusan Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Ar-raniry Banda Aceh
Di balik hiruk pikuk kota Banda Aceh, tersembunyi kisah pilu yang tak terungkap. Tentu bukan tentang keindahan alam atau keramahan penduduknya, melainkan tentang derita manusia yang terlupakan, terjebak dalam jerat kemiskinan dan kesulitan hidup. Mereka adalah para pengemis, wajah-wajah penuh kepedihan yang menjadi cerminan nyata dari permasalahan sosial yang menghantui kota ini.
Bayangkanlah seorang wanita muda, berusia 27 tahun, dengan tubuh yang masih tegap dan raut wajah yang masih segar. Ia berdiri di pinggir jalan, tangannya terulur meminta belas kasih. Ia adalah salah satu dari sekian banyak pengemis yang menghuni kota ini. Ia terpaksa mengemis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membayar kosan, dan menabung untuk membuat kuburan anak keduanya yang telah pergi untuk selamanya.
📚 Artikel Terkait
Kisah pilunya semakin menyayat hati, saat ia menceritakan masa lalunya. Ia pernah membawa anak keduanya untuk mengemis bersamanya, karena penghasilan yang diperoleh lebih besar. Namun, takdir berkata lain, anak keduanya pergi meninggalkannya. Sejak saat itu, penghasilannya menurun drastis, dan ia harus menanggung beban duka yang tak terkira.
“Saya ingin bekerja, tapi suami saya tidak mengizinkan,” katanya dengan suara lirih. “Dia hanya mengizinkan saya mengemis.”
Kisah ini bukanlah cerita tunggal. Di balik setiap pengemis yang kita temui, tersembunyi kisah pilu yang tak terungkap. Mereka adalah korban dari sistem yang tidak adil, yang tidak memberikan kesempatan bagi mereka untuk meraih kehidupan yang layak.
Kita, sebagai warga kota Banda Aceh, harus membuka mata dan hati kita terhadap realitas ini. Kita harus menyadari bahwa mereka bukanlah beban, melainkan manusia yang membutuhkan uluran tangan. Kita harus berjuang bersama untuk menciptakan kota yang lebih adil, yang memberikan kesempatan bagi semua orang untuk meraih kehidupan yang layak. Ada banyak cara yang mungkin bisa diupayakan. Secara internal, pengemis harus diberikan kesadaran agar mau berupaya dengan sungguh-sungguh, keluar dari belenggu semangat atau keinginan untuk mengemis.
Oleh sebab itu, upaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kemiskinan di Banda Aceh adalah langkah penting juga. Untuk itu, kita perlu membuka mata dan hati kita terhadap mereka yang terlupakan, dan membangun empati melalui edukasi dan kampanye. Dengan demikian, kita dapat mendorong tindakan nyata untuk membantu. Selain itu, mendukung program-program pemberdayaan adalah kunci untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Program ini bisa berupa pelatihan keterampilan, bantuan modal usaha, atau akses terhadap pendidikan dan kesehatan. Dengan memberikan kesempatan untuk mandiri, kita dapat membantu mereka keluar dari lingkaran kemiskinan. Semua pihak dibutuhkan ikut berpartisipasi aktif.
Sangat dibutuhkan kerjasama antara pemerintah dan swasta. Ini sangat penting guna membuka peluang usaha yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan mereka yang membutuhkan. Dengan memberikan akses pekerjaan yang layak, kita dapat membantu mereka meraih kehidupan yang lebih baik.
Selain itu, kita perlu mendorong kebijakan yang adil dan merata, yang memberikan kesempatan yang sama bagi semua orang, tanpa memandang latar belakang sosial ekonomi.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






