• Latest
Celengan Kecil dan Alat Musik

Celengan Kecil dan Alat Musik

November 20, 2024
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Celengan Kecil dan Alat Musik

Zainah Rahmiatyby Zainah Rahmiaty
November 22, 2024
Reading Time: 3 mins read
Tags: #pengemis#sedekah
Celengan Kecil dan Alat Musik
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

 

Oleh: Zainah Rahmiaty

Mahasiswi Prodi Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam ( FEBI) UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Di tengah hiruk pikuk kota Banda Aceh, di sekitar SPBU Jeulingke, Banda Aceh, seorang ibu tuna netra tampak duduk di tepi jalan, ditemani alat musik sederhana dan celengan kecil di sisinya. Seakan tak peduli dengan kerasnya dunia di sekitarnya, ia memainkan musik dengan tekun, berharap ada yang tergerak hatinya untuk memberi bantuan. Namun, di balik senyum lembut dan wajah penuh ketegaran itu, seperti pengemis-pengemis lainnya, tersimpan cerita tentang perjuangan hidup yang tak pernah terbayangkan.

Ibu ini tidak mengemis karena ia cacat. Justru, cacat fisik hanya sebagian kecil dari kisahnya. Ia mengemis untuk alasan yang lebih dalam, yakni memenuhi kebutuhan keluarga dan membantu anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang layak.

Sebelumnya, ibu ini bersama suaminya—yang juga tunanetra—mengandalkan pekerjaan sebagai tukang urut untuk menafkahi lima orang anak mereka.

Namun, dengan pendapatan yang tak menentu dan harga yang hanya Rp 70.000 per sesi, pekerjaan ini nyaris tak mencukupi kebutuhan keluarga yang semakin besar.

Keinginan ibu ini sangat sederhana, namun mendalam. Ia ingin melihat anak-anaknya tumbuh dan menempuh pendidikan. Dua anak tertuanya kini sedang berkuliah, satu di Universitas Islam Negeri (UIN) dan satu lagi di Poltekes. Dua lainnya masih berada di bangku SMA dan SMP, sementara si bungsu masih duduk di bangku TK.

Setiap hari, ibu ini menyimpan asa bahwa pendidikan dapat membawa anak-anaknya ke kehidupan yang lebih baik. Namun, kenyataan hidup membawanya ke jalan lain yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 30, 2026

Pada tahun 2022, dengan berat hati, ibu ini akhirnya memilih untuk mengemis, sebuah pilihan yang diperkenalkan oleh seorang teman sesama tuna netra. Lalu kemudian, ia  bergabung dengan organisasi PERTUNI (Persatuan Tuna Netra Indonesia). Ia berharap mendapat dukungan yang lebih kuat dalam menjalani kehidupan sebagai penyandang tunanetra. Berkat PERTUNI, ibu ini mendapat perlindungan dan  komunikasi terarah melalui rapat dan kegiatan yang diadakan rutin.

Kewajiban memiliki HP Android untuk anggota bukanlah sekadar tuntutan, tetapi cara bagi ibu ini untuk merasakan kekeluargaan dan dukungan emosional dari sesama anggota yang saling memahami.

Setiap hari, ia mulai mengemis sejak pukul 07.00 pagi, hingga tengah hari. Diantar oleh becak ke pinggir jalan. Ia menghidupkan musiknya, berharap dapat memperoleh sedikit penghasilan. Meski cukup berat, ia mengaku kegiatan ini lebih bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Dari mengemis, ia rata-rata mendapat Rp 150.000 hingga Rp 200.000 sehari, sebuah angka yang cukup untuk  menyambung hidup dan meringankan beban sehari-hari. Ia tak hanya bergantung pada penghasilan dari mengemis saja. Suaminya juga masih terus bekerja sebagai tukang urut.

Pengamatan ini mengungkap sisi lain dari kehidupan pengemis tuna netra di Banda Aceh. Banyak dari mereka yang mengemis bukan karena kemauan, melainkan karena tekanan ekonomi yang memaksa. Sebagai seorang pengemis, ia memerlukan bantuan pemerintah walau  sudah ada, namun ibu ini dan teman-teman senasibnya memerlukan dukungan lebih dari sekadar bantuan finansial. Mereka butuh pelatihan keterampilan, bimbingan usaha, dan peluang kerja yang lebih mandiri.

Sehingga, dengan pelatihan dan pembinaan yang tepat, ibu ini bisa beralih dari jalanan menuju usaha yang lebih bermartabat dan berkelanjutan. Itu sebuah harapan, namun dalam realitas juga terkadang akan berbeda.

Nah, lewat segala keterbatasan fisik dan ekonomi, ia berjuang dan berharap bisa membangun kehidupan yang lebih baik bagi anak-anaknya. Di balik alat musik dan celengan kecil itu, tersimpan mimpi besar seorang ibu yang berjuang mengangkat anak-anaknya ke masa depan yang lebih baik.

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Tan Malaka Pemuda Luar Biasa Yang Terlupakan Dari Tanah Sumatera Barat

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com