POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Pemain Kibor di SPBU Lamnyong

RedaksiOleh Redaksi
November 20, 2024
Pemain Kibor di SPBU Lamnyong
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh NURUL REZKI S

Mahasiswa  Prodi Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam ( FEBI), UIN Ar-Raniry, Banda Aceh 

Hadirnya banyak  pengemis di perkotaan merupakan masalah sosial yang semakin kompleks dan terus berkembang di berbagai wilayah, terutama di perkotaan di seluruh Indonesia, termasuk di Aceh. Kita bisa amati setiap hari para pengemis di berbagai tempat, di persimpangan jalan, traffic light, di warung-warung, pasar dan lain-lain, dengan berbagai macam ragam orang dan kondisinya.

Kehadiran mereka semakin tak terbendung, meskipun  ada upaya dari pemerintah dan masyarakat untuk mengatasi masalah ini, keberadaan pengemis tetap menjadi pemandangan sehari-hari, yang membuat suasana hati terasa miris melihat mereka. Kehadiran mereka ke kota, seperti halnya di Banda Aceh, seakan menjanjikan kehidupan yang lebih mudah, lebih enak dalam mencari uang-uang sedekah dari masyarakat yang berada di wilayah para pengemis beraktivitas.

Maka, bila kita tanya pada para pengemis alasan, mengapa mereka harus melakukan aktivitas mengemis, hingga ke kota Banda Aceh, kita akanselalu  menemukan alasan yang berbasis pada faktor ekonomi, faktor sosial, dan budayamasyarakat yang memang suka menolong atau membantu orang susah seperti  pengemis.Ini juga alasan yang dikemukakan oleh  seorang pengemis tuna netra yang  penulis jumpa saat ia beroperasi di SPBU Lamnyong, Banda Aceh.

Dengan  sangat antusias, penulis mencoba menggali informasi mengenai pengemis/ hal ini juga katena penulis mendapat tugas melakukan observasi terhadap para pengemis di kota Banda Aceh. Yang penulis lakukan kemudian, setelah melakukan observasi, penulis mencoba mewawancara seorang pengemis di SPBU Lamnyong, Banda Aceh.

Tentu saja agar bisa memahami latar belakang, alasan mengemis, serta kehidupan sosial dan ekonomi seorang pengemis tuna netra. Ada banyak pengemis yang penulis amati, namun hanya satu yang penulis amati serius. Maka, proses pengamatan ini melibatkan observasi langsung dan wawancara dengan seorang pria dewasa yang mengamen di lokasi tersebut.

Pria itu, mengalami tuna netra sejak lahir. Dalam melakukan aktivitas mengemis, Ia membawa alat musik keyboard, payung, dan celengan untuk mengamen.  Ketika ditanya, mengapa harus melakukan aktivitas itu, ia mengaku bahwa alasan utama ia mengemis adalah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri serta kebutuhan anak-anaknya.

📚 Artikel Terkait

10 Sajak Pilihan Terbaik Pulo Lasman Simanjuntak Jelang Akhir Tahun

Rinduku Semakin Menggebu

Bangsa Pecundangkah Kita?

Misteri Kerajaan Api

Menurut ceritanya, sebelumnya ia bekerja sebagai pemain keyboard di Medan, tetapi kembali ke Aceh pada tahun 2013 karena rendahnya minat masyarakat terhadap hiburan musik seperti keyboardist. Kini, ia tinggal di rumah susun di Kedah dan memiliki rekening bank serta ponsel Android. Setiap pagi, ia diantar oleh anaknya menggunakan becak atau sepeda motor untuk mengamen dari pukul 07.00 hingga 12.00 siang. Tergantung kondisi cuaca.

Ia melanjutkan mengamen dari pukul 19.00 hingga SPBU tutup pada pukul 22.00 malam. Pendapatan yang diperolehnya rata-rata mencapai Rp 150.000 hingga Rp 200.000 per hari. Penghasilan yang lebih tinggi dibandingkan pekerja kernet tukang atau pramuniaga di pertokoan.

Sebagai pengemis, ternyata pria ini juga merupakan anggota Pertuni (Persatuan Tuna Netra Indonesia), sebuah organisasi yang memberikan dukungan kepada penyandang disabilitas netra. Pertuni sering mengadakan kegiatan sosial seperti perayaan Maulid Nabi dan buka puasa bersama, serta penggalangan dana untuk membantu anggota yang mengalami kesulitan, termasuk dalam hal pembiayaan pendidikan anak-anak mereka. Meskipun organisasi ini memberikan sedikit harapan dengan menyediakan jaringan sosial bagi anggotanya, dukungan dalam hal pemberdayaan ekonomi masih terbatas.

Eksistensi organisasi ini juga bertanggung jawab untuk menertibkan aktivitas anggota dalam mengamen, termasuk pengaturan tempat dan izin. Hebat juga ya.

Jadi, bila kita  dalami lebih jauh kehidupan dan latar belakang munculnya banyak pengemis di kota Banda Aceh, pasti akan ditemukan banyak faktor yang mendukungnya. Seperti yang sudsh disebutkan di atas bahwa peningkatan jumlah pengemis dapat dikaitkan dengan beberapa faktor, yakni kondisi ekonomi yang tidak merata dan kurangnya lapangan kerja yang memadai menciptakan situasi di mana individu merasa tidak ada pilihan lain selain mengemis. Kedua, kebiasaan masyarakat dalam memberikan sedekah setiap hari dapat menciptakan ketergantungan. Ketika orang-orang memberikan uang atau makanan kepada pengemis secara rutin, hal ini bisa memperkuat keputusan mereka untuk terus mengemis dari pada mencari pekerjaan lain.

Hal lain yang sangat mendukung sebenarnya adalah kebiasaan bersedekah masyarakat yang tergolong tinggi. Masyarakat memang memiliki niat baik untukmembantu mereka yang membutuhkan. Namun, penting untuk mempertimbangkan dampak jangka panjang dari tindakan tersebut. Apakah dengan memberi sedekah setiap hari kita secara tidak langsung memperkuat siklus kemiskinan?

Dengan memberikan bantuan tanpa solusi yang lebih berkelanjutan, kita mungkin tanpa sadar mendorong lebih banyak orang untuk memilih mengemis sebagai cara hidup.Sebagai contoh, pengemis tuna netra yang penulis  amati, mungkin merasa bahwa mereka dapat bergantung pada sedekah dari masyarakat dari pada mencari pekerjaan yang lebih stabil. Ini menunjukkan perlunya pendekatan yang  lebihkomprehensif dalam membantu penyandang disabilitas dan pengemis.

Untuk itu, dukungan ekonomi dan pelatihan keterampilan dapat menjadi alternatif yang lebih efektif daripada sekadar memberikan sedekah.

 

Perlu ada langkah bijak yang inovatif membantu mereka mengatasi masalah ini. Untuk itu diperlukan langkah-langkah konkret seperti pemberdayaan  ekonomi melalui organisasi sosial seperti Pertuni dan intervensi pemerintah setempat. Dengan cara ini, kita tidak hanya membantu mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga memberikan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Sebagai masyarakat, penting bagi kita untuk berpikir kritis tentang dampak dari kebiasaan bersedekah dan mencari solusi yang lebih berkelanjutan bagi mereka yang membutuhkan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Celengan Kecil dan Alat Musik

Celengan Kecil dan Alat Musik

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00