POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Korupsi, Pendidikan, dan Jejak

RedaksiOleh Redaksi
June 24, 2024
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Sobirin Malian

Di India ada seorang seorang pintar bernama Kautilya yang menurut sejarah hidup antara 350-275 SM.  Kautilya adalah seorang filosof dan juga negawaran.

Dalam strata sosial India, Kautilya tergolong pada kasta Bahmana. Dia mendapat pendidikan yang baik di Taxila, sebuah kota kuno sekarang masuk wilayah Pakistan.

Dari pendidikan, dia banyak belajar, sehingga berpengetahuan luas dan menguasai ilmu mulai dari obat-obatan, astronomi, termasuk politik, ekonomi dan hukum.  Atas pengetahuannya yang luas itu__ketika dia pulang ke India__dia diangkat menjadi penasehat pemerintahan dan staf ahli Perdana Menteri Kaisar India Chandragupta, penguasa pertama dari dinasti Maurya. Di antara tugas penting Kautilya adalah, dia membantu Chandragupta mengkudeta penguasa Dinasti Nanda di Pataliputra, wilayah Magadha, pada tahun 322 SM.

Khusus pikiran-pikiran politik Kautilya, telah dibukukan dan diberi judul Arthashatra, “Sains tentang Memperoleh Materi”. Buku ini disusun antara tahun 321-300 SM, terdiri 15 volume, 150 bab, serta 6.000 saloka. Di antara hal menarik dalam buku ini adalah, dia membahas tentang korupsi_yang dalam Bahasa Sansekerta disebut bhrash. Kata bhrash berarti gagal; menyimpang dari; atau terpisah dari; tercerabut dari; busuk; hilang;jahat;ganas dan merusak akhlak (Priti Phohekar: 2014).

Menurut Kautilya, sifat dasar manusia cenderung korupsi. Korupsi itu merupakan hal yang inheren dalam diri manusia. Korupsi adalah tindakan yang bertentangan dengan kemurnian. Dalam perspektif ini, jiwa adalah sesuatu yang murni (suci), sementara tubuh dan semua materi fisik, adalah hal-hal yang korup.

Dalam kaitan dengan kekuasaan (pemerintahan), Kautilya bernarasi: adalah tidak mungkin orang menelan madu, tetapi lidah tidak merasakan manisnya, terkecuali lidah sudah mati rasa. Jadi, mana mungkin madu yang kita telan, tapi lidah tidak merasakan manisnya. Oleh karena itu, sangat mustahil pegawai pemerintah__terutama para pejabatnya; demikian juga lembaga-lembaga pemerintahan, lembaga negara,  lembaga yudikatif, lembaga legislatif__tidak mencicipi meski hanya satu gigitan “roti pemerintah”, kekayaan negara.  Pegawai atau pejabat pemerintahan, ibarat ikan di air. Tidak seorang pun dapat mengatakan, kapan ikan itu minum air atau berapa banyak air telah ia minum?

Itulah sulitnya mendeteksi korupsi. “Seperti ikan yang berenang, tidak mungkin dapat diketahui, apakah ikan itu minum atau tidak. Demikian pula, tidak mudah mengetahui apakah pejabat atau pegawai itu korup atau tidak,” kecuali ada yang bernyanyi karena “tidak kebagian” atau “bagiannya kurang”.

Kalau disimpulkan, Kautilya telah menyatakan bahwa korupsi sejak dahulu kala sudah ada. Dan ternyata korupsi terus berkembang menjadi sebuah fenomena; masuk kemana-mana; ia menulari siapa saja, tidak mengenal musim, tidak mengenal jender, tidak mengenal suku, ras, agama dan golongan. Yang lebih ironis dan tentu menyedihkan, korupsi dianggap sebuah fashion; kalau tidak melakukan dikatakan sebagai ketinggalan zaman. Astaghfirullah !.   

📚 Artikel Terkait

Ketika Allah Tidak Lagi Menegur dengan Suara

Retorika Hidup Beragama

The Universal Man

Entrepreneur Solusi Bosan Hidup

Korupsi dan Agama

Menurut banyak ahli sosial  (Salahuddin Wahid:2016), agama kurang bisa berperan dalam perjuangan melawan korupsi dan melawan fenomena maraknya pelanggaran etika, karena pendidikan agama lebih menekankan pada aspek kognitif (pengajaran), bukan pada aspek afektif yang berdasar pada pembiasaan dan keteladanan (akhlak).Perlu ada langkah nyata untuk mendorong penghayatan, internalisasi nilai dan transformasinya menjadi tindakan nyata.

Proses penanaman anti korupsi umumnya banyak mengalami kendala dalam pelaksanaannya. Seseorang yang dibesarkan dalam lingkungan pengusaha yang sering menyuap pejabat pengambil keputusan, akan terbiasa dengan perilaku itu, walaupun dia diberi pelajaran bahwa praktik itu dilarang agama. Anak muda yang dibesarkan dalam keluarga politisi akan memilih jalur kecurangan, membeli suara, dan mempengaruhi KPU dengan berbagai cara agar mengikuti kebiasaan itu untuk menang.

Bukan cerita baru bahwa, apabila pejabat ingin menduduki posisi tertentu, perlu melakukan praktik setoran atau upeti kepada pejabat yang berwenang__atau paling tidak menggunakan surat sakti (katebelece), apabila mau promosi atau mutasi ke posisi strategis dan dapat posisi basah. Tentu dia harus membayar sejumlah fee__sebagai pelicin. Kesemua kondisi dan kebiasaan seperti itu tidak mudah untuk dilawan.

Mengapa Korupsi Masih Masif ?

Menurut Jakob Sumardjo (2019), berbicara korupsi itu identik dengan membicarakan persoalan jiwa sehat dan jiwa yang sakit.  Orang yang masih berjiwa sehat tentu dia akan tetap menggunakan akal dan nuraninya dalam bertindak. Kalau dia seorang penguasa_dia akan memegang amanah dengan nurani sekuat tenaga agar tidak menyeleweng, terutama tidak ingin menyakiti hati rakyat (konstituennya).

Namun, sebaliknya bagi penguasa sakit. Dia senantiasa akan mempermainkan rakyat; membalik dirinya agar dirinya yang sakit dianggap waras, dan mereka yang waras menjadi sakit. Celakanya, rakyat kurang terlatih dalam pemikiran,sehingga mereka mudah dimanipulasi oleh kekuasaan.

Sejatinya, hanya ada dua niat dalam kekuasaan: mengorbankan diri sendiri untuk rakyat atau mengorbankan rakyat untuk dirinya sendiri. Kekuasaan yang waras mengabaikan kepentingan diri demi rakyat; sebaliknya kekuasaan yang sakit mengacu pada kepentingan diri sendiri tanpa peduli nasib rakyat.

Dunia Orang Sakit

Dalam dunia orang sakit semacam itu, kebohongan, hoax, menggunakan influenzer adalah kebenaran. Pengkhianatan, ingkar janji adalah kesetiaan, meng-kriminalisasi adalah kepahlawanan, hipokrit adalah ketulusan, rasialis adalah patriotis, merampok/korupsi adalah mengambil milik sendiri. Anda akan hidup “enjoy” dalam komunitas semacam itu. Kalau Anda ketangkap KPK atau, polisi Anda akan tetap tenang dengan kebenaran dan kewarasan baru itu. Anda merasa tidak bersalah sama sekali karena di luar Anda, ada komunitas yang membenarkan perbuatan Anda.

Suatu komunitas (yang mendukung Anda), yang selalu membenarkan Anda, yang memandang dan menganggap waras-waras saja, apa yang Anda lakukan !…berhati-hatilah. Semua keburukan itu, seperti kata Socrates, “sejatinya kehinaan bekerja lebih cepat daripada kematian !”. Bagi setiap manusia atau bangsa terhormat, kehinaan memang jauh lebih buruk daripada kematian. Ia sudah membunuh reputasi Anda sebelum ajal. Kematian hanyalah instansi tamatnya hidup, tetapi kehinaan terekam abadi sebagai  jejak hidup__bau busuk yang akan terus menebar kemana-mana sepanjang masa.

Penulis adalah Dosen FH UAD, Yogyakarta

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
ALUMNI KUFLET RAIH GELAR DOKTOR SENI

ALUMNI KUFLET RAIH GELAR DOKTOR SENI

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00