
Oleh Rosli K. Matari
Malaysia
kuterima musim gugur ini
sebagai jiwa, nurani
alam,
walau sehelai daun, senyap, sepi
harus luruh lagi
meski sudah luyut malam
seratus tahun, kuperhati
alam bijak berbahagi
cuaca, warna
sebegitu halus, saksama
cermat sekali
menjaga, walau pada debu
yang harus pergi
meninggalkan pasir, batu
hadapan nanti, musim dingin
aku akan lebih tua
di celah sejuk angin,
dan bayangku diam sahaja
mati itu ada,
tetapi aku telah hidup
dengan berani
segala cuaca,
terang, redup
gelita, kuhadapi
kini,
kutunggu salju
datanglah lagi
walau aku ketar, atau kaku
selagi aku berdiri,
aku akan berkata –
“aku berani”,
dua patah kata.
– Rosli K. Matari
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 343x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 310x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 297x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 265x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 192x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis.
Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.











Discussion about this post