Dengarkan Artikel
Oleh Nendisyah Putra
Seiring laju perkembangan zaman, teknologi sudah menjadi kebutuhan mendasar dalam kehidupan manusia. Ibarat makanan yang selalu dikonsumsi setiap saat. Hampir semua orang tidak terlepas dari bermain peran untuk menenikmati ragam fitur yang ada di berbagai media sosial seperti Wathsap,Instagram,Facebook,Twitter dan fitur lainnya.
Kehadiran media sosial saat ini sangat mempermudah manusia untuk saling berkomunikasi, tanpa harus bertemu satu sama lain. Bisa melihat dan mencari informasi dengan cepat, terlebih untuk menghasilkan uang. Tentunya ini merupakan hal positif yang menyokong kemajuan zaman.
Kemudian media sosial juga mempermudah informasi dan komunikasi, baik berbentuk berita,iklan,konten dan lain sebagainya. Hal ini cepat menyebar secara cepat dan instan di masyarakat. Semua orang bisa mengakses tanpa harus terpaku dengan waktu karena media sosial bersifat fleksibel.
Untuk cara memiliki media sosial pun sangatlah mudah. Hanya perlu bermodalkan smartphone (HP) dan jaringan yang baik, maka semua orang bebas untuk mengakses seluruh apa yang ada di media sosial.
Hampir semua lapisan masyarakat, khususnya generasi Melinial dan Gen Z kini telah beralih ke media sosial. Kalau dahulu bergantung dengan media massa berupa televisi, radio,koran dan lain-lain, maka pada zaman yang serba canggih ini semua telah beralih ke arah digital. Tentunya ini merupakan dampak positif yang dihasilkan dari perkembangan teknologi yang sangat mempermudah kehidupan manusia.
Akan tetapi di balik dampak positif yang melimpah, media sosial juga memiliki dampak negatif yang mempengaruhi dari sisi gaya hidup, kualitas hidup dan moral seseorang Gen Z, Salah satu dampak yang diberikan oleh media sosial yaitu kecanduan yang berlebihan,merubah pola hidup ke arah yang tidak baik, terlebih mengikuti budaya, penampilan dan cara pandang liberal dan sekuler dari konten-konten negatif yang mereka tampilkan, sehingga bisa merusak mental dan jiwa seseorang.
Hal ini bila dibiarkan akan menyebabkan seseorang bergantung, bahkan tidak bisa lepas dari konten media sosial yang dilihat setiap harinya. Apabila seseorang sudah kecanduan, segala cara akan dilakukan untuk memenuhi kepuasannya dalam penggunaan media sosial. Tentunya ini merupakan hal yang berdampak tidak baik bagi generasi Gen Z, karena bisa mempengaruhi mental Health (kesehatan mental) mereka.
Apa itu Mental Health?
Mental Health merupakan suatu kondisi kesehatan mental atau jiwa seseorang yang tentunya mempengaruhi kehidupannya/ Kesehatan mental ini sangatlah penting, karena berkaitan erat dengan psikis,emosi dan kejiwaan seseorang. Semakin tenang dan baik kesehatan mental seseorang, maka semakin baik juga kualitas kehidupannya. Namun apabila kualitas mental seseorang itu tidak baik, atau bahkan bisa dibilang buruk, maka tentunya akan berdampak bagi kehidupan yang menyebabkan emosi menjadi tidak terkontrol, perubahan suasana hati,pikiran yang kacau bahkan parahnya seseorang bisa saja mengakhiri hidupnya apabila kesehatan mentalnya buruk.
Tentunya sangat disayanggkan apabila seseorang sudah berada di tahap menyerah akan kehidupan yang dijalinnya,maka dari itu perlu adanya kepedulian dari orang-orang sekitar dan lingkungan yang tidak toxic agar kesehatan mentalnya tetap terjaga.
📚 Artikel Terkait
Pengaruh Medsos
Seperti yang kita ketahui bahwa hampir semua orang pastinya memiliki media sosial dan populasi di Indonesia banyak didominasi oleh Generasi Z yang kelahiran antara tahun 1997-2012.Data BPS menyatakan bahwa Indonesia memiliki sekitar 74,93 juta jiwa atau 27,94 persen populasi Gen Z yang mendominasi medsos dan berdasarkan hasil survei ini juga menunjukkan hampir lebih dari satu jam Gen Z untuk bermain media sosial.
Berdasarkan data tersebut, sudah sangat jelas bahwa banyak dari Gen Z memiliki akun media sosialnya masing-masing. Banyak dari mereka yang tentunya memanfaatkan sebagai tempat untuk membangun personal branding dengan cara memposting di story’ atau di beranda.
Hal tersebut tentu sangat mempengaruhi kesehatan mental, banyak dari mereka yang merasa kurang puas terhadap diri sendiri atau insecure yang menyebabkan mereka terus-menerus membandingkan dirinya dengan orang lain.Banyak sekali prestasi yang ditampilkan seseorang di Media Sosial. Hal tersebut membuat para follower merasa ketertinggalan atas pencapain orang lain.Sehingga muncullah rasa iri,marah dan kecewa terhadap diri sendiri karena tidak mampu dan ketertinggalan jauh. Padahal setiap orang memiliki kemampuan,progres dan waktunya masing-masing untuk mencapai kesuksesan.
Tidak hanya tentang kesuksesan dan pencapaian prestasi, namun yang lebih sering dibahas di media sosial adalah fisik seseorang. Banyak sekali Gen Z di zaman sekarang yang terus-menerus memamerkan kecantikan ataupun ketampanan di media sosial,hal ini yang menyebabkan teman sebaya selaku fllowersnya merasa insecure dan ingin juga menjadi seseorang dengan standar kecantikan yang mereka buat sendiri.
Padahal cantik itu relatif dan standar yang dibuat sangatlah aneh, banyak sekali yang menyatakan bahwa cantik itu adalah orang yang putih,langsing dan tinggi. Tentunya hal tersebut dinormalisasikan di kalangan Gen Z,sehingga mereka terus-menerus membandingkan dirinya dan membuat konten atau memberikan komentar yang menunjukan serta menyatakan bahwa mereka insecure terhadap orang lain.
Padahal apa yang ditampilkan di media sosial itu belum tentu faktual. Apa orang lain tampaikan itu adalah sesuatu yang paling baik di antara yang ia miliki karena tidak mungkin mereka menampilkan sesuatu yang buruk ke media sosial, karena akan merusak branding mereka.
Selain itu juga mental Gen Z menjadi semakin lemah karena Gen Z terlalu memikirkan tentang percintaan masa muda. Pada hal masa muda itu baiknya diisi dengan hal-hal positif dan pengalaman yang akan menyokong masa depan. Banyak sekali konten galau yang disajikan di media sosial,lagu-lagu yang disajikan pun mendukung seseorang untuk merubah suasana hati anak muda menjadi galau. Banyak dari mereka yang menganggap bahwa percintaan adalah sumber kebahagiaan atas segalanya. Ini semua dampak negatif dari media sosial dan penggunaannya yang tidak tepat.
Gen Z terbiasa dan dibiasakan dengan konten-konten galau. Hal ini lah yang menyebabkan mental mereka menjadi lemah dan mudah menangis. Banyak sekali dari Gen Z yang cepat putus asa dan membawa kata mental health serta mendramatisir kehidupannya. Hal tersebut menunjukkan dampak negatif dan menyalahgunakan media sosial kearah yang tidak tepat.
Cara Mengatasi
Untuk itu perlunya kesadaran diri dari masing-masing individu agar tidak kecanduan bermain media sosial. Media Sosial sebenarnya membawa banyak sekali dampak positif, namun seringkali disalahgunakan oleh pengguna. Oleh karena itu hal tersebut akan mempengaruhi mental health dan membuat seseorang menjadi lemah dan terus menerus menyalahkan dirinya sendiri.
Kemudian perlunya mengurangi penggunaan Media Sosial dan mengakses Media Sosial seperlunya saja untuk hal-hal positif dan tinggalkan apa yang membuat kita sedih serta jangan terbiasa untuk bergantung mencari sumber kebahagiaan di media sosial, karena sesungguhnya media sosial terkadang dipenuhi dengan kebohongan.
Maka dari itu bijaklah dalam penggunaan media sosial untuk kehidupan yang lebih baik. Walaupun terkadang media sosial sebagai wadah yang baik untuk membangun personal branding, untuk membangun citranya dan saling berbagi informasi,namun sayangnya media sosial tersebut tidaklah selalu baik bagi Generasi Z .
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






