• Latest
Ketika Kemampuan Memahami Bacaan Masih Rendah, Mau Raih Emas? - IMG_6391 | Edukasi | Potret Online

Ketika Kemampuan Memahami Bacaan Masih Rendah, Mau Raih Emas?

November 6, 2023
Ketika Kemampuan Memahami Bacaan Masih Rendah, Mau Raih Emas? - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Edukasi | Potret Online

Geopolitik Empati: Bagaimana Kekuasaan Menentukan Siapa yang Boleh Menderita

April 1, 2026
IMG_0573

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Ketika Kemampuan Memahami Bacaan Masih Rendah, Mau Raih Emas? - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Edukasi | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Rabu, April 1, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Ketika Kemampuan Memahami Bacaan Masih Rendah, Mau Raih Emas? - IMG_6391 | Edukasi | Potret Online

Ketika Kemampuan Memahami Bacaan Masih Rendah, Mau Raih Emas?

Redaksi by Redaksi
November 6, 2023
in Edukasi, Literasi, Pendidikan
Reading Time: 4 mins read
0
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Tabrani Yunis

Ada rasa jengah, prihatin dan bahkan malu kita mendengar atau membaca berita di media tentang kemampuan literasi Anak negeri ini yang masih rendah. Betapa tidak? Sudah cukup lama kita membaca berita serupa di dalam berbagai literatur  di tanah air, baik dari buku-buku, laporan-laporan World Bank, UNICEF maupun di media massa, seperti surat kabar, majalah, media elektronik maupun media online hingga kini. Kita paling kurang, bisa menyimak apa yang diberitakan oleh Kompas.id edisi 02 Oktober 2023 yang lalu. Kompas.id edisi terbit membuat judul berita  seperti ini. “Kemampuan Memahami bacaan Masih Rendah”.  Judul yang membuat kita pilu. Dikatakan demikian, karena Indonesia sudah merdeka 78 tahun lamanya, namun cita-cita founding father mencerdaskan Anak Bangsa, masih belum terwujud dengan baik.

Ya, bayangkan lah. Kompas.id kemudian memaparkan bahwa kemampuan literasi anak-anak sekolah di Indonesia berada dalam keadaan darurat.  Di jenjang SD, baru 61.3 persen dari population siswa yang memiliki kompetensi di atas minimum dan SMP sekitar 59 persen. Angka kompetensi terendah juteru di jenjang SMA yang baru mencapai  49,26 persen atau turun dari tahun lalu yang sebesar 53,85 persen.  Angka-angka yang menyesakan dada kita.

Data ini, tentu masih relevan dengan data yang dikeluarkan UNESCO beberapa tahun lalu yang menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca!

Ya, sudah terlalu banyak dan sering kita membaca berita tentang minat baca dan kondisi kemampuan literasi Anak negeri di berbagai media.  Sebagai contoh saja, KOMPAS.com- 03 April 2020 memaparkan bahwa OECD mencatat peringkat nilai PISA Indonesia berdasarkan survei tahun 2018 menempatkan siswa Indonesia dalam peringkat yang kurang memuaskan. Kemampuan Literasi siswa Indonesia berada di peringkat 72 dari 77 negara, Matematika  berada di peringkat 72 dari 78 negara, dan Sains berada di peringkat 70 dari 78 negara. Nilai PISA siswa Indonesia juga cenderung stagnan dalam 10-15 tahun terakhir.

Bila begini kondisinya dan berlangsung sekian lama, hingga berada dalam kondisi darurat, kemajuan apa yang bisa dicapai oleh Bangsa ini? Apa yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia untuk memperbaiki kondisi buruk ini? Mengapa pula persoalan yang sama hingga Indonesia kini sudah hampir seabad, tapi masih berkutat pada persoalan dasar atau akar masalah? Apakah karena Pemerintah Indonesia tidak menemukan akar masalah pendidikan di negeri ini?

Bisa jadi begitu. Padahal di era digital yang banjir bacaan ini, harusnya kompetensi literasi Anak negeri ini meningkat dan semakin tinggi, karena tidak terhambat oleh minimnya bahan bacaan.  Selain itu, proses pencerdasan dan peningkatan minat membaca, sekarang sudah sangat beragam dan sangat accessible dan lebih murah serta mudah. Serta masih banyak kemudahan lain yang bisa digunakan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan literasi anak negeri ini.

Kiranya, Pemerintah Indonesia harus malu lah sedikit dan mau belajar dari kesuksesan negara lain dalam meningkatkan kualitas sumber Daya manusia (SDM) di negara yang sudah lebih dahulu maju. Sebenarnya, bila kita belajar dari keberhasilan Finlandia yang selama ini sering kita gadang-gadangkan itu adalah karena Finlandia sudah berhasil membuat anak-anak Finlandia yang berusia 15 tahun, sangat mahir dan bagus kemampuan literasi, numerasi dan sains. Itulah kunci Sukses mereka. Tidak kah ini ditemukan setiap para ahli dari Indonesia belajar ke Finlandia itu?

Bila tidak, belajarlah lebih banyak.

Baca Juga

cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
Ketika Kemampuan Memahami Bacaan Masih Rendah, Mau Raih Emas? - 09ff0262 2fb8 4c93 9f84 06e6009c9293 | Edukasi | Potret Online

Menanti Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Bersinergi Membangun Literasi Anak Negeri

Maret 31, 2026
Ketika Kemampuan Memahami Bacaan Masih Rendah, Mau Raih Emas? - IMG_0413 | Edukasi | Potret Online

Budaya Kekerasan dalam Masyarakat Modern.

Maret 20, 2026

Rendahnya kemampuan membaca, yang masih banyak pada tataran literal yang masih sulit memahami bacaan, adalah bukti  rendahnya peradaban bangsa ini.  Ketika memahami bacaan saja masih rendah, bagaimana bangsa ini mampu mengidentifikasi dan menganalisis masalah yang dihadapi bangsa ini, hingga mampu melakukan kontemplasi untuk memberikan solusi terhadap persoalan hidup dan untuk mampu bersaing dalam percaturan global. Jadi, harus difahami bahwa masih rendahnya kemampuan memahami bacaan, adalah masalah literasi. Rendahnya kemampuan literasi Anak bangsa adalah akar masalah yang harus segera diatasi oleh Pemerintah dan Bangsa ini.

Masalah  rendahnya kemampuan literasi, numerasi dan sains  bangsa ini, harus segera dituntaskan. Bila tidak, akar masalah ini akan menyebabkan kualitas pendidikan kita terus rendah.  Membangun kemampuan literasi, numerasi dan sains adalah sebuah keniscayaan. Pemerintah Indonesia harus lebih serius membangun kemampuan literasi, numerasi dan sains anak-anak negeri ini. Bila tidak, kita akan terus berhadapan dengan konsekwensi. Bangsa Indonesia menjadi pecundang, bukan pemenang.  Padahal, selama ini kita begitu gembira karena memiliki bonus demografi. Ya, kita adalah bangsa yang sedang menikmati bonus demografi, memiliki generasi usia produktif, bagaimana kita bisa menikmati bonus, kalau kemampuan memahami bacaan saja masih rendah?

Nah, bagaimana pula anak bangsa ini bisa bersaing secara global, bila kemampuan memahami bacaan saja masih rendah?  Bukan hanya itu, Pemerintah Indonesia saat ini juga semakin sering menjual komoditas politik dengan barang dagangan Indonesia emas di tahun 2045 yang semakin di depan mata. Pertanyaannya, bagaimana akan bisa mendulang emas, bila rakyatnya memahami bacaan saja belum lancar? Bukankah ini membahayakan dan mengancam serta mendiskreditkan semua harapan yang sudah dideklarasikan?

Sangat lah rugi bangsa ini bila tidak mampu memanfaatkan bonus demografi yang sedang kita miliki, yang memberikan banyak keuntungan bagi kemaslahatan hidup bangsa Indonesia saat ini, bila terjegal oleh rendahnya kemampuan literasi, numerasi dan sains. Bonus itu akan menjadi buih yang terapung-apung di permukaan air, hanya mengikuti gerak air dan angin.  Ya, Apa artinya bonus demografi melimpah, bila kualitas rendah? Bukankah hanya akan menjadi bangsa yang kalah dalam segala hal?

Ya, bila kemampuan literasi, numerasi dan sains tidak dengan segera ditingkatkan, impian bangsa ini menjadikan tahun 2045, momentum 100 tahun atau satu abad negara Republik Indonesia (NKRI) melahirkan generasi emas, hanya lah sebuah ilusi.  Dikatakan demikian, karena untuk bisa mewujudkan generasi emas,  syarat dasarnya adalah membangun dan meningkatkan Ketiga kemampuan tersebut. Bila Ketiga kemampuan itu sudah tinggi, seperti yang dimiliki oleh anak-anak Finlandia yang berumur 15 tahun itu, Apa pun yang diberikan kepada Anak-anak bangsa ini, Insya Allah akan sangat mudah.

Oleh sebab itu, bangunlah  kemampuan literasi, numerasi dan sains dengan serius seperti yang dilakukan oleh Pemerintah dan masyarakat Finlandia. Sebab, bila kemampuan memahami bacaan saja masih bermasalah, masih rendah bagaimana mewujudkan lahirnya generasi emas? Hmmm, mimpi kali ya?

Tabrani Yunis

ADVERTISEMENT

Pemerhati Pendidikan, Pegiat Literasi dan Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Aceh

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 361x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 355x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 320x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 268x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 214x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Ketika Kemampuan Memahami Bacaan Masih Rendah, Mau Raih Emas? - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Edukasi | Potret Online
Artikel

Geopolitik Empati: Bagaimana Kekuasaan Menentukan Siapa yang Boleh Menderita

April 1, 2026
IMG_0573
Sejarah

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a
#Amerika

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa
Artikel

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Next Post
Ketika Kemampuan Memahami Bacaan Masih Rendah, Mau Raih Emas? - fe5cfd5e 177f 43bc 8cdb d4dceaff5ad4 | Edukasi | Potret Online

Maraknya Pelecehan Seksual Terhadap Anak

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com