POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

1000 Sepeda : Mengayuh Menuju Asa “Kayoh Laju Bek Dile Piyoh”

Tulisan dalam rangka Lomba Menulis Essai Majalah POTRET yang diselenggarakan oleh CCDE, POTRET Gallery, Majalah POTRET dan Majalah Anak Cerdas dengan dukungan Toko Serikat Bike dan Jasaroda. Tulisan ditayangkan Apa adanya dari penulis, tanpa diedit oleh pihak penyelenggara. Silakan baca dan berikan komentar terhadap tulisan dan berikan like di IG Potret.Gallery

RedaksiOleh Redaksi
March 18, 2023
1000 Sepeda : Mengayuh Menuju Asa “Kayoh Laju Bek Dile Piyoh”
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Cici Lestari

“Kayoh laju bek dile piyoh” merupakan sepenggal kalimat dalam dialek bahasa Aceh yang berarti „Teruslah Mengayuh Jangan Dulu Berhenti‟. Kalimat yang sederhana namun sejalan dengan entitas program 1000 sepeda yang mulai dicanangkan sejak beberapa tahun silam. Kata kayoh dalam bahasa Aceh umumnya digunakan untuk menunjukkan aktivitas mengayuh sepeda. Di zaman sekarang dengan kemajuan teknologi yang begitu pesat, penggunaan sepeda sebagai transportasi utama jarang ditemui. Terlebih di kota-kota besar, penggunaan sepeda kini lebih menekankan kepada fungsi bersepeda terhadap kesehatan tubuh atau gaya hidup serta sebagai salah satu mode transportasi ramah lingkungan. Hal tersebut memang benar jika ditinjau dari aspek kelebihan sepeda dibandingkan mode transportasi lainnya. Namun, penggunaan sepeda bagi beberapa individu tidak dilakukan demi mencapai tujuan-tujuan tersebut secara langsung. Khususnya bagi masyarakat pedesaan dengan status ekonomi menengah ke bawah atau yang sering disebut dengan istilah keluarga „kurang mampu‟dimana sepeda digunakan dengan tujuan utama sebagai sarana transportasi untuk memudahkan akses ke berbagai aktivitas harian seperti bersekolah, bekerja, belanja kebutuhan harian dan lain sebagainya.

Program 1000 sepeda yang dicanangkan oleh bapak Tabrani Yunis sebagai Direktur salah satu Lembaga Swadya Masyarakat (LSM) Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh telah dilakukan secara kontinu dengan tujuan memberikan bantuan sepeda dan kursi roda bagi anak-anak dari kaum dhuafa, yatim, piatu dan disabilitas di seluruh wilayah provinsi Aceh. Sejak program ini dirilis hingga sekarang lebih dari 180 anak sudah merasakan manfaat dari program ini. Program yang dilatarbelakangi karena rasa kepedulian yang begitu tinggi dari founder yaitu bapak Tabrani dan tim CCDE telah berkontribusi secara nyata untuk memberikan dukungan kepada mereka. Aktivitas sehari-hari yang tidak dapat dipisahkan dari sarana transportasi menjadikan program ini patut terus di apresiasi. Anak-anak dari keluarga dengan status ekonomi ke bawah, yang harus berjalan kaki dengan jarak yang lumayan jauh atau bergantung kepada transportasi umum, tentunya akan sangat terbantu dengan adanya program ini. Bantuan sepeda akan memotivasi mereka untuk terus bersemangat dalam menuntut ilmu. Sembari mengayuh sepeda mereka dapat menuju sekolah atau balai-balai pengajian untuk mengenyam pendidikan agar kelak dapat mewujudkan 1000 asa dan impian.

Sebagai seorang anak yang juga berasal dari keluarga dengan status ekonomi menengah kebawah, saya dapat membayangkan bagaimana kebahagiaan mereka yang membutuhkan dengan adanya program ini. Saya kembali mengingat momen-momen ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Saat itu, setiap harinya sepulang sekolah kami harus menempuh jarak sekitar 2 km dengan berjalan kaki. Melelahkan tentunya, belum lagi nantinya harus mengikuti pengajian malam dan lain sebagainya. Sehingga ketika mengetahui adanya suatu program yang bergerak untuk memfasilitasi anak-anak yang membutuhkan bantuan berupa sepeda, saya sangat terkesan. Ternyata di zaman dimana semua orang sibuk dengan berbagai urusan pribadi dan terkadang lupa terhadap sesama, kelompok-kelompok seperti CCDE justru sangat bersemangat untuk membantu mereka sesuai porsi yang memungkinkan. Sebagaimana mana kalimat “kayoh laju bek dile piyoh” maka begitulah semangat yang ditularkan oleh CCDE kepada anak-anak penerima bantuan ini.

📚 Artikel Terkait

Politik Waras

Palestina, Gencatan Senjata

Abah dan Becak Tua

Tim Penilai Adipura Lakukan Penyisiran ke Titik Pantau

Ketika membaca dari beberapa artikel yang membahas terkait program 1000 sepeda yang dirilis oleh CCDE, saya sempat bertanya-tanya “Lantas mengapa harus sepeda dan mengapa tidak berupa santunan dalam bentuk uang atau keperluan sekolah lainnya?”. Akhirnya saya menemukan jawaban setelah membaca salah satu artikel yang ditulis oleh bapak Tabrani Yunis, yang menyebutkan bahwa awalnya santunan yang diberikan memang dalam bentuk uang. Namun ternyata santunan tersebut justru tidak dimanfaatkaan untuk kepentingan penunjang pendidikan, tetapi digunakan untuk membeli smartphone dan lain sebagainya. Sehingga akhirnya, santunan yang diberikan diganti menjadi dalam bentuk satu unit sepeda yang dapat digunakan oleh anak-anak untuk bersekolah dan aktivitas lainnya. Sehingga penerima bantuan ini pun dipastikan benar-benar anak-anak dari keluarga kurang mampu, yatim atau piatu yang sesuai dengan spesifikasi kelayakan penerima bantuan.

Sebagaimana tujuan utamanya program ini yaitu pemberian sepeda sebagai sarana transportasi bagi mereka menuju sekolah. Maka jarak lokasi tempat tinggal dan sekolah juga menjadi salah satu indikator kelayakan penerima bantuan. Namun menurut saya pribadi, sedikit disayangkan ketika mencoba mencari artikel atau semacam cerita dari anak-anak penerima bantuan ini, saya tidak dapat menemukannya sama sekali. Padahal sepertinya akan lebih mengesankan jika cerita atau kisah-kisah inspiratif dari mereka diunggah di platform media sosial atau juga ditulis di website potret.com. Sehingga akan lebih banyak orang mengetahui program ini dan mungkin dapat menggerakkan lebih banyak pihak yang tertarik untuk ikut mengambil peran dalam mewujudkan cita-cita 1000 sepeda bagi anak-anak pejuang asa. Kayuh menuju asa, kayoh laju bek dile piyoh. Semoga CCDE dan Program 1000 sepeda dapat terus bergerak membantu sesama kedepannya.

Tentang Penulis

Cici Lestari merupakan perempuan kelahiran Sabang, 11 Maret 2002. Saat ini sedang menempuh pendidikan S1 di program studi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Syiah Kuala. Penulis sangat membuat beragam karangan tulisan, terutama puisi dan esai. Penulis aktif memposting beberapa puisi hasil karangannya di akun instragram pribadi @cicilestari1103.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
JALAN-JALAN KE TAMAN KOTA PIDIE JAYA

JALAN-JALAN KE TAMAN KOTA PIDIE JAYA

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00