POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Pengusaha Taipan, Kasta Ekonomi Yang Tidak Mesti Identik Dengan Kultur Kecinaan

RedaksiOleh Redaksi
March 14, 2023
Pengusaha Taipan, Kasta Ekonomi Yang Tidak Mesti Identik Dengan Kultur Kecinaan
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Hendrajit,

Pengkaji geopolitik dan wartawan senior.

Karena beberapa hari ini saya disibukkan dengan kajian tentang kemungkinan aliansi strategis Yahudi diaspora dan Cina diaspora pasca Covid-19, beberapa buku terkait dua subyek tersebut jadi fokus bacaan saya minggu terakhir ini.

Buku karya Joe Stodwell, Asian Godfathers , terbitan 2007 lalu,  adalah salah satu yang cukup inspiratif dan membuka cakrawala baru mengenai Overseas China alias Cina rantau, dan the Taipan. Serta dimana segi perbedaannya yang paling substansial.

Siapakah yang kerap saya sebut China Diapora?

Pada 1996, sebelum meletus Krisis Moneter atau Krisis Finansial Asia, majalah Forbes mendaftar 8 penguaha Asia Tenggara di antara 25 teratas, dan 13 di antara 50 teratas. Yang mana harta pribadinya saja mencapai lebih dari 4 miliar dolar AS.

Mereka antara lain adalah: Li-Ka shing, Robert Kuok, Dhanin Chearavanot, Liem Soel Liong, Tan Yu dan Kwek Leng Beng. Inilah para pengusaha Taipan yang menguasai ekonomi Asia Tenggara.

Menariknya, meski Asia mengalami krisis moneter 1997-1998, mereka malah makin berjaya, begitu cerita Joe Studwell, dalam bukunya yang menarik Asia Godfathers. Menguak Tabir Perselingkuhan Pengusaha dan Penguasa.  Pertanyaannya bagaimana mereka bisa begitu kuat? Studwell, yang analisisnya saya sepakati pada garis besarnya, berkesimpulan bahwa mereka terwarisi dari peninggalan sistem kolonial era Inggris, Amerika dan Belanda, semasa mereka menjajah negara-negara di Asia Tenggara.

Studwell menulis: “Dalam hubungan ini, elit politik memberikan konsesi-konsesi monopoli kepada elit ekonomi, yang biasanya di dalam industri-industri jasa dalam negeri, sehingga memungkinan kelompok yang disebut belakangan ini bisa meraup kekayaan dalam jumlah besar.”

Ketika di era pasca kolonial, Studwell berkesimpulan bahwa pola ini tidak berubah. Elit politik penguasa baru yang notabene merupakan kaum pribumi, tetap menyuapi para pengusaha Taipan binaannya itu . Sehingga para Taipan tersebut dengan leluasa bisa menyedot celah-celah ekonomi, dengan memberi saham kepada para tuan politik mereka yang baru.

Ironinya di sini. Kelas Taipan ini melayani kepentingan politik, dan menghasilkan kekayaan pribadi yang amat besar. Namun tidak memberi sumbangan apa-apa bagi pertumbuhan ekonomi di Asia Tenggara.

📚 Artikel Terkait

4 Penyair dan 24 Penulis Kompak Terbitkan Buku Duka Pengungsi Rohingnya

Keresahan Tokoh Muda Tentang Black Campaign di Pilkada Aceh Tenggara 2024.

ANIES BASWEDAN DI PUSARAN POLITIK

Standar Pendidikan Indonesia (SPI) Masa Depan

Mereka misterius dan tak tersentuh. Jalinan kontak yang mereka bangun dalam memperkuat dan mempertahankan bisnisnya adalah dengan Dunia Bawah Tanah seperti Triad Cina, atau  Yakuza Jepabg, maupun jaringan kejahatan terorganisir lainnya.

Berarti kita harus jeli betul melihat lanskap Asia Tenggara itu sendiri, agar tidak salah baca tentang ulah para Taipan ini. Asia Tenggara, kalau menelisik ke era kolonial klasik tiga abad yang lalu, Asia Tenggara merupakan sejarah yang terikat erat dengan migrasi -migrasi orang-orang Eropa dan Amerika(seperti para penguasa kolonial dan sebaliknya), Cina, India, Sri Lanka, Yahudi Diaspora dan lain sebagainya. Belum lagi warga pribumi yang beraneka-ragam etnik dan agamanya.

Meski saya masih memakai data beberapa tahun lalu, namun saya berani mengatakan kurang lebihnya sama, mengenai data mentah terkait keunggulan para Taipan ini. Saham Cina dari ekuitas yang sudah listing di pasar-pasar saham ASEAN diperkirakan antara 50 hingga 51 persen, tergantung negaranya.

Ini tentu saja mencolok mengingat etnis Cina di Filipina hanya 2 persen, di Indonesia hanya 4 persen, di Thaland 10 persen, di Malaysia 29 persen, dan di Singapura 70 persen.

Yang mungkin harus diwaspadai dari sudut pandang kultural dalam mengamati sepak-terjang Taipan adalah, kita tidak boleh mencampur-adukkan antara Cina rantau dengan para Taipan.  Sebab beberapa kajian mengenai migrasi Cina ke Asia Tenggara membuktikan, meskipun orang-orang Cina rantau punya pendapatan di atas rata-rata di kota-kota pesisir Jawa dan Sumatra misalnya, atau di kota-kota non-metropolitan di Thailand, banyak keluarga Cina turun-temurun beberapa generasi tetap hidup melarat.

Nampaknya, Cina Diaspora pun, harus kita bedakan dengan fenomena Cina rantau pada umumnya. Sebab Diaspora Cina, yang kelak melahirkan para pengusaha Taipan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, datang ke kawasan ini bersifat sukarela dan atas kehendak sendiri. Dan berdasarkan beberapa kajian mengungkap, diaspora Cina ini punya misi pergerakan untuk menanam pengaruh politik. Bukan melulu bisnis.

Kembali pada Joe Studwell, para taipan atau godfather ini sebenarnya tidak mengidentifikasikan dirinya secara etnis dengan Cina, seperti umumnya Cina Rantau. Menurut penggambaran Studwell, pengusaha Taipan ini merupakan elit yang tidak khas, lebih merupakan aristokrasi ekonomi dari orang-orang luar yang bekerja sama setengah hati dengan kalangan elit lokal.

“Secara kultural, para godfahter (taipan) adalah para bunglon yang cenderung berpendidikan bagus, kosmopolitan, bisa berbahasa asing, dan jauh dari sifat ke-cinaan.”

Dengan demikkian, sejalan dengan pandangan saya selama ini, perilaku mayoritas etnis Cina dari kalangan taipan tidak berbeda secara mendasar dengan para taipan Inggris atau Skotlandia di Hongkong dan Singapura, atau juga para taipan Amerika di Filipina.   Jadi  konteks ketaipanan mendahului watak etnis Cina-nya.

Namun, hanya sampai di sini saya sepakat dalam cara pandang Joe Stodwell. Meskipun saya sepakat dengan Stodwell bahwa selama elit politik saat ini masih mewarisi sistem era kolonial yang memberikan konsesi-konsesi monopoli kepada elit ekonomi yang di Asia Tenggara didominasi pengusaha taipan, namun saya tidak sepakat pada rekomendasi Stodwell, bahwa solusinya adalah membuka pasar bebas dan persaingan bebas, yang diikuti dengan deregulasi dan debirokratisasi atas dasar skema neoliberalisme.

Meskipun cukup lama bermukim di Beijing,Stodwell nampaknya belum menghayati penerapan sosialisme berwatak Cina yang dibangun sejak era Deng Xioping, yang mana negara sebagai subyek ekonomi harus berpihak pada rakyat, dapat berjalan seiring dengan birokrasi yang sehat dan kebijakan yang terencana dan sistematis.

Begitupun, tesis utamanya yang menolak penyamarataan antara Cina rantau dan the Taipan, saya kira merupakan cara pandang yang cukup menarik.

Karena Cina Diaspora, lebih cocok dengan penggambaran Stodwell mengenai adanya karakteristik budaya tersendiri yang melekat pada entitas taipan ini. Bunglon, cenderung berpendidikan bagus, kosmopolitan, bisa berbahasa asing, dan jauh dari sifat ke-cinaan.

Cara pandang Stodwell yang memisahkan taipan dengan Cina rantau pada umumnya, selain menghindarkan untuk dengan gampang jadi sasaran provokasi anti etnik Cina. bukankah penggambaran sub-kultur taipan itu  persis sama dengan karakteristik Yahudi diaspora yang menyebar di Amerika dan beberapa kota besar Eropa Barat?

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
MENYAMBUT   HARI  MAKMEUGANG  1444 TH  DI ACEH

MENYAMBUT HARI MAKMEUGANG 1444 TH DI ACEH

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00