• Latest
Pengusaha Taipan, Kasta Ekonomi Yang Tidak Mesti Identik Dengan Kultur Kecinaan

Pengusaha Taipan, Kasta Ekonomi Yang Tidak Mesti Identik Dengan Kultur Kecinaan

Maret 14, 2023
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
IMG_0532

Minimarket Koperasi Desa, Bukan Minimarket Biasa

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Pengusaha Taipan, Kasta Ekonomi Yang Tidak Mesti Identik Dengan Kultur Kecinaan

Redaksi by Redaksi
Maret 14, 2023
in Analisis, Artikel, ASEAN, CINA, Ekonomi, Taipan
Reading Time: 4 mins read
0
Pengusaha Taipan, Kasta Ekonomi Yang Tidak Mesti Identik Dengan Kultur Kecinaan
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh : Hendrajit,

Pengkaji geopolitik dan wartawan senior.

Karena beberapa hari ini saya disibukkan dengan kajian tentang kemungkinan aliansi strategis Yahudi diaspora dan Cina diaspora pasca Covid-19, beberapa buku terkait dua subyek tersebut jadi fokus bacaan saya minggu terakhir ini.

Buku karya Joe Stodwell, Asian Godfathers , terbitan 2007 lalu,  adalah salah satu yang cukup inspiratif dan membuka cakrawala baru mengenai Overseas China alias Cina rantau, dan the Taipan. Serta dimana segi perbedaannya yang paling substansial.

Siapakah yang kerap saya sebut China Diapora?

Pada 1996, sebelum meletus Krisis Moneter atau Krisis Finansial Asia, majalah Forbes mendaftar 8 penguaha Asia Tenggara di antara 25 teratas, dan 13 di antara 50 teratas. Yang mana harta pribadinya saja mencapai lebih dari 4 miliar dolar AS.

Mereka antara lain adalah: Li-Ka shing, Robert Kuok, Dhanin Chearavanot, Liem Soel Liong, Tan Yu dan Kwek Leng Beng. Inilah para pengusaha Taipan yang menguasai ekonomi Asia Tenggara.

Menariknya, meski Asia mengalami krisis moneter 1997-1998, mereka malah makin berjaya, begitu cerita Joe Studwell, dalam bukunya yang menarik Asia Godfathers. Menguak Tabir Perselingkuhan Pengusaha dan Penguasa.  Pertanyaannya bagaimana mereka bisa begitu kuat? Studwell, yang analisisnya saya sepakati pada garis besarnya, berkesimpulan bahwa mereka terwarisi dari peninggalan sistem kolonial era Inggris, Amerika dan Belanda, semasa mereka menjajah negara-negara di Asia Tenggara.

Studwell menulis: “Dalam hubungan ini, elit politik memberikan konsesi-konsesi monopoli kepada elit ekonomi, yang biasanya di dalam industri-industri jasa dalam negeri, sehingga memungkinan kelompok yang disebut belakangan ini bisa meraup kekayaan dalam jumlah besar.”

Ketika di era pasca kolonial, Studwell berkesimpulan bahwa pola ini tidak berubah. Elit politik penguasa baru yang notabene merupakan kaum pribumi, tetap menyuapi para pengusaha Taipan binaannya itu . Sehingga para Taipan tersebut dengan leluasa bisa menyedot celah-celah ekonomi, dengan memberi saham kepada para tuan politik mereka yang baru.

Ironinya di sini. Kelas Taipan ini melayani kepentingan politik, dan menghasilkan kekayaan pribadi yang amat besar. Namun tidak memberi sumbangan apa-apa bagi pertumbuhan ekonomi di Asia Tenggara.

Mereka misterius dan tak tersentuh. Jalinan kontak yang mereka bangun dalam memperkuat dan mempertahankan bisnisnya adalah dengan Dunia Bawah Tanah seperti Triad Cina, atau  Yakuza Jepabg, maupun jaringan kejahatan terorganisir lainnya.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026

Berarti kita harus jeli betul melihat lanskap Asia Tenggara itu sendiri, agar tidak salah baca tentang ulah para Taipan ini. Asia Tenggara, kalau menelisik ke era kolonial klasik tiga abad yang lalu, Asia Tenggara merupakan sejarah yang terikat erat dengan migrasi -migrasi orang-orang Eropa dan Amerika(seperti para penguasa kolonial dan sebaliknya), Cina, India, Sri Lanka, Yahudi Diaspora dan lain sebagainya. Belum lagi warga pribumi yang beraneka-ragam etnik dan agamanya.

Meski saya masih memakai data beberapa tahun lalu, namun saya berani mengatakan kurang lebihnya sama, mengenai data mentah terkait keunggulan para Taipan ini. Saham Cina dari ekuitas yang sudah listing di pasar-pasar saham ASEAN diperkirakan antara 50 hingga 51 persen, tergantung negaranya.

Ini tentu saja mencolok mengingat etnis Cina di Filipina hanya 2 persen, di Indonesia hanya 4 persen, di Thaland 10 persen, di Malaysia 29 persen, dan di Singapura 70 persen.

Yang mungkin harus diwaspadai dari sudut pandang kultural dalam mengamati sepak-terjang Taipan adalah, kita tidak boleh mencampur-adukkan antara Cina rantau dengan para Taipan.  Sebab beberapa kajian mengenai migrasi Cina ke Asia Tenggara membuktikan, meskipun orang-orang Cina rantau punya pendapatan di atas rata-rata di kota-kota pesisir Jawa dan Sumatra misalnya, atau di kota-kota non-metropolitan di Thailand, banyak keluarga Cina turun-temurun beberapa generasi tetap hidup melarat.

Nampaknya, Cina Diaspora pun, harus kita bedakan dengan fenomena Cina rantau pada umumnya. Sebab Diaspora Cina, yang kelak melahirkan para pengusaha Taipan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, datang ke kawasan ini bersifat sukarela dan atas kehendak sendiri. Dan berdasarkan beberapa kajian mengungkap, diaspora Cina ini punya misi pergerakan untuk menanam pengaruh politik. Bukan melulu bisnis.

Kembali pada Joe Studwell, para taipan atau godfather ini sebenarnya tidak mengidentifikasikan dirinya secara etnis dengan Cina, seperti umumnya Cina Rantau. Menurut penggambaran Studwell, pengusaha Taipan ini merupakan elit yang tidak khas, lebih merupakan aristokrasi ekonomi dari orang-orang luar yang bekerja sama setengah hati dengan kalangan elit lokal.

“Secara kultural, para godfahter (taipan) adalah para bunglon yang cenderung berpendidikan bagus, kosmopolitan, bisa berbahasa asing, dan jauh dari sifat ke-cinaan.”

Dengan demikkian, sejalan dengan pandangan saya selama ini, perilaku mayoritas etnis Cina dari kalangan taipan tidak berbeda secara mendasar dengan para taipan Inggris atau Skotlandia di Hongkong dan Singapura, atau juga para taipan Amerika di Filipina.   Jadi  konteks ketaipanan mendahului watak etnis Cina-nya.

Namun, hanya sampai di sini saya sepakat dalam cara pandang Joe Stodwell. Meskipun saya sepakat dengan Stodwell bahwa selama elit politik saat ini masih mewarisi sistem era kolonial yang memberikan konsesi-konsesi monopoli kepada elit ekonomi yang di Asia Tenggara didominasi pengusaha taipan, namun saya tidak sepakat pada rekomendasi Stodwell, bahwa solusinya adalah membuka pasar bebas dan persaingan bebas, yang diikuti dengan deregulasi dan debirokratisasi atas dasar skema neoliberalisme.

Meskipun cukup lama bermukim di Beijing,Stodwell nampaknya belum menghayati penerapan sosialisme berwatak Cina yang dibangun sejak era Deng Xioping, yang mana negara sebagai subyek ekonomi harus berpihak pada rakyat, dapat berjalan seiring dengan birokrasi yang sehat dan kebijakan yang terencana dan sistematis.

ADVERTISEMENT

Begitupun, tesis utamanya yang menolak penyamarataan antara Cina rantau dan the Taipan, saya kira merupakan cara pandang yang cukup menarik.

Karena Cina Diaspora, lebih cocok dengan penggambaran Stodwell mengenai adanya karakteristik budaya tersendiri yang melekat pada entitas taipan ini. Bunglon, cenderung berpendidikan bagus, kosmopolitan, bisa berbahasa asing, dan jauh dari sifat ke-cinaan.

Cara pandang Stodwell yang memisahkan taipan dengan Cina rantau pada umumnya, selain menghindarkan untuk dengan gampang jadi sasaran provokasi anti etnik Cina. bukankah penggambaran sub-kultur taipan itu  persis sama dengan karakteristik Yahudi diaspora yang menyebar di Amerika dan beberapa kota besar Eropa Barat?

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 309x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 272x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 235x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 222x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 180x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541
#Cerpen

Rina

Maret 29, 2026
Next Post
MENYAMBUT   HARI  MAKMEUGANG  1444 TH  DI ACEH

MENYAMBUT HARI MAKMEUGANG 1444 TH DI ACEH

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Bulan Oktober 2025

Oktober 7, 2025
Kabar Redaksi

Kabar Redaksi

Februari 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com