POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

COT LAMKUWEUH

RedaksiOleh Redaksi
December 26, 2022
COT LAMKUWEUH
🔊

Dengarkan Artikel

Cerita Mini : Saiful Bahri

Kubuka kembali catatan duka itu setelah kupendam 2,5 tahun lebih sedikit. Ada yang kutoreh pada lembar 27 Desember 2004 menjelang siang itu, ketika kuarungi lautan puing kehancuran sebuah peradaban, menyisir lautan mayat yang bertebaran, tumpang tindih, tersangkut-sangkut, terhimpit-himpit di antara sampah dan reruntuhan, untuk menujumu Cot Lamkuweuh.

Berat nian perjuanganku masa itu menujumu Cot Lamkuweuh. Usahlah kukabarkan bagaimana carut-marut wajah dan derita Blang Padang, Punge, Blang Oi dan Lambung hari itu. Karena yang ingin kutahu hanya tentangmu Cot Lamkuweuh, maka merayap-rayap kususur jalan raya bergunung puing sampah dan mayat-mayat itu, setelah kemarin kuyup disiram air hitam dan lumpur asin hangat yang dikirim laut.

Cot Lamkuweuh, hampir sore sampaiku di kaki bak geulumpang penanda sisa petamu. Nanar, pilu, haru, ngilu kutatap ujung ke ujung. Kosong, mati, rata, hampir bersih segalanya. Selingkup alam mengeram ditangkup kabut kelabu. Langit terasa rendah sekali. Uap bau asin laut itu menyegat keras sekali. Kerdil sekali aku berdiri di sini, di tengah sempurnanya kehancuranmu Cot Lamkuweuh.

Tak tahu apa yang harus kuperbuat, apa yang harus kupekik, kusesali, kucaci-maki, kubenarkan dan kusalahkan, kuagungkan dan kulecehkan. Aku gamang, aku bodoh, luluh lantak dalam lautan puingmu, ketika langit semakin rendah yang mendadak mengirimkan hujan penyiram bala sore itu.

Masih kuterpaku di kaki bak geulumpang penanda sisa petamu Cot Lamkuweuh. Kucoba mereka-reka sudut-sudut kenangan kemarin dulu, yang kemarin pagi tersentak koyak, lalu tersapu tergulung-gulung, lalu punah! Lalu, sore ini, di bawah renyai hujan tak dingin ini kucoba memaknai punah atas segalamu Cot Lamkuweuh.

Dalam nanar, pilu, haru, ngilu sore itu kutangkap suara-suara kemarin dulu yang kini ngiangnya senyap menjauh. Tak ada. Tak ada lagi gelak tawa, canda ceria, resah gelisah, duka cita, suka cita dan remeh temeh gebalau kehidupan saudara-saudara kecil mudaku, saudara-saudara besar tuaku, saudara dekat dan jauhku, saudara se-Cot Lamkuweuh-ku. Tak ada lagi harum lorong Lampoh Bungong, hamparan Blang Raya, cericit burung dan ceria tupai berkejaran di dahan Lampouh Sukoun, Lampouh Trung, Lampouh Roumpun dan Lampouh Yee. Pupus segala misteri Jeurat Pouk-Pouk, Jeurat Raya dan Meunasah Pie. Tak ada lagi saksi kenangan masa kecilku di Paya Lhok kala teumaren udang di sela-sela akar bakau yang merangas sepanjang tambak itu. Tak bisa kureka dimana Tumpouk Bineh Paya, arah Meunasah dan lorong ke Lamjabat. Juga tak kulihat lagi rimbun bak mee sepanjang pelataran jalanmu Cot Lamkuweuh. Pupus juga segala wangi bhoi ungkout, haluwa meuseukat dan dodoi, yang bau itu kemarin-kemarin dulu lamat-lamat sering kuraup dari bawah bak geulumpang ini, ketika angin memburainya dari Lambung kampung sebelah.

Di kaki bak geulumpang penanda sisa petamu, luruhlah aku dalam haru memuncak karena remukmu Cot Lamkuweuh!

***

Hampir pagi di Gue Gajah. Di sisa usia luput dijemput bala, di beranda sempit itu beberapa anak kecil dan perempuan paruh baya terlelap lelah dalam tidur buramnya. Di luar, di sepanjang lorong kampung orang-orang hilir-mudik, melangkah bingung tanpa arah. Ramai sekali. Seperti riuh malam lebaran. Ada geliat lapar, ketika bau garing ikan asin dan harum gelegak kuah Indomie menyeruak dari gardu pos jaga tengah kampung, yang mendadak dijadikan dapur umum sore kemarin.

Di beranda sempit itu, kami masih berbagi kenangan tentang Cot Lamkuweuh dua hari yang lalu, sebelum tersobek-sobek, tergulung-gulung, terbanting-banting, diremas-remas hingga luluh oleh amarah laut. Bersama Ibuku, Lukman, Anen, Johan, Neh, Din, dan beberapa kerabat, anak-anak kecil serta perempuan-perempuan paruh baya yang gelisah lelapnya; dalam semesta pilu, haru, ngilu, kami susuri kembali jejakmu Cot Lamkuweuh.

📚 Artikel Terkait

Warga Papua Mulai Berani Menolak Perusahaan Sawit

Penyair Muda dari Pulo Nasi

Menjarah Dalam Musibah

Rubrik Kisah dan Karya

Banda Aceh, 13 Juli 2007

——————————

Catatan :

Cot Lamkuweuh adalah sebuah kampung kecil, ± 300 meter dari pesisir pantai Ulee Lheue – Banda Aceh. Saat tsunami 26 Desember 2004, Cot Lamkuweuh luluh lantak, bersih rata dengan tanah.

Blang Padang : lapangan tempat keramaian, alun-alun di tengah kota Banda Aceh

Bak Geulumpang : Sejenis pohon yang menghasilkan kapas/kapuk. Sering juga disebut Bak Panjo.

Punge, Blang Oi, Lambung : Nama Desa/Kampung di Kecamatan Meuraxa Kota Banda Aceh yang turut disapu tsunami

Lampouh Bungong, Blang Raya, Lampouh Sukoun, Lampouh Trung, Lampouh Roumpun, Lampouh Yee, Jeurat Pouk-Pouk, Jeurat Raya, Meunasah Pie, Paya Lhok, dan Tumpouk Bineh Paya adalah nama-nama tempat yang ada dalam wilayah Kampung Cot Lamkuweuh.

Teumaren : suatu cara menangkap udang dengan menggunakan lidi kelapa yang diujung lidi diikat surai putih benang dari kulit pelepah batang pisang. Surai itu dibuat melingkar lalu diikat diujung lidi. Cara menggunakannya adalah memasukkan lingkar bulatan surai itu ke mata udang, lalu diputar sampai mata udang melekat di ujung lidi.

Meunasah : adalah surau/langgar tempat beribadah umat Islam yang ada di kampong-kampung di Aceh.

Lamjabat : nama kampung yang berdekatan dan bersebelahan dengan Kampung Cot Lamkuweuh.

Bak Mee : Pohon Asam Jawa

Bhoi Ungkout, Haluwa Meuseukat, Dodoi : adalah jenis kue-kue tradisional Aceh. Dodoi dalam bahasa Indonesia adalah dodol.

Gue Gajah : Sebuah kampung tua di kaki gunung Mata Ie, Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar. Ketika Tsunami, Gue Gajah berhiruk pikuk menampung ribuan pengungsi, termasuk dari orang-orang Pulo Aceh (sebuah pulau kecil di ujung Sumatra yang bisa dilihat dari ketinggian Glee (gunung ) Pancu).

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
TAHUN 2023 : PUNCAK KEMATIAN KOPERASI INDONESIA?

TAHUN 2023 : PUNCAK KEMATIAN KOPERASI INDONESIA?

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00