POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Landasan Pijak Revolusi Konstitusi Harus Beranjak dari Kesadaran Etika, Moral dan Akhlak

RedaksiOleh Redaksi
December 20, 2022
REVOLUSI KONSTITUSI
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Jacob Ereste

Wartawan di Jakarta

Gawat juga gagasan Prof. Yudhie Haryono menggagas agar ada revolusi konstitusi. Sebab konstitusi kita adalah buah nir-militer dengan metode legal walfare yang memanfaatkan komprador lokal sebagai sebagai proxy penjajah.

Akibatnya, kedaulatan warga negara tidak lagi di tangan rakyat, karena telah diambil alih secara konstitusional oleh Parpol dan oleh oligarki jahat. Maka itu prinsip rule of law berubah menjadi rule by law yang telah melahirkan negara swasta. Aryinya, Prof. Yudhie Haryono hendak mengatakan, kekuasaan negara dikendalikan sepenuhnya oleh para cukong.

Semua itu ditandai oleh mental Pancasila. pengkhianat utamanya para penyelenggara negara, meski backing vokalnya telah dinarasikan dengan ditampilkannya BPIP (Badan Pembina Ideologi Pancasila) yang semakin tidak jelas juntrungannya itu. Sebab para pembinanya sendiri tidak jelas memiliki jaminan lebih Pancasilais dari warga masyarakat kebanyakan yang lain.

Maka itu, jika tidak ada tindakan revolusioner, semua akan tinggal nama belaka, tandasnya. “Negara Pancasila sudah ditaklukkan dengan mengganti UUD 1945. Sehingga Prof. Yudhie Haryono menyimpulkan, warga bangsa Indonesia menjadi seperti hantu yang bergentayangan tanpa visi untuk membangun pradaban dunia yang lebih baik dan lebih bermutu.

Yang lebih gawat adalah pertanyaan  tentang aksiologi kolonial dalam usaha stabilitas untuk merampok SDA (Sumber Daya Alam) negara Indknesi postkolonial. Maka itu yang terjadi kata Prof. Yudhie Haryono adalah (1) mendesain mental colonial, (2) mendesain nalar — pikiran — kolonial dan (3) memberi tafsir konstitusi ala (model) kolonial.

📚 Artikel Terkait

Nasionalisme yang Disalahpahami

Juleha Hadir Menjawab Kerisauan Penanganan Hewan Qurban Belum Memenuhi Standar Kesrawan

Represi Intelektual

Teguran dari Langit

Padahal, konstitusi ditegakkan untuk membangun tatanan negara yang berlandaskan hukum, keadilan, kesejahteraan dan demi kebahagiaan untuk semua warga bangsa (negara) tanpa kecuali untuk anak turunan penguasa maupun pengusaha yang sudah sedemikian berkuasa di negeri  ini.

Konstitusi yang mengurai sendi-sendi pokok hukum dan aturan yang memiliki sifat fundamental — mengikat — bagi semua warga negara dan terselenggaranya cita-cita bersama dengan jaminan yang pasti dan nyata. Tidak kaleng-kaleng istilah slengekan yang populer di Medan, Sumatra Utara.

Jadi konstitusi itu,  adalah hukum, cita-cita, target atau tujuan serta roadmap untuk tatanan suatu negara yang berdasarkan hukum. Jadi bukan klam-klaim belaka, sehingga realitasnya tidak sesuai dengan apa yang dilakukan di lapangan atau kejadian nyata dalam masyarakat.

Konstitusi — sebagaimana seharusnya UUD 1945 — adalah keseluruhan peraturan yang tertulis maupun tidak tertulis untuk mengatur dengan cara yang mengikat suatu pemerintahan agar dapat diselenggarakan secara baik dan benar. Tanpa penyelewengan, apalagi pengkhianatan seperti yang telah berulang kali terjadi di Indonesia.

Dalam konteks amandemen UUD 1945 — yang sudah berkali-kali dan masih ingin dilakukan lagi dalam guna memuluskan jabatan presiden agar bisa lebih dari dua periode — maka kerusakan konstitusi itu jadi merusak banyak unsur negara lainnya serta hancurnya kehidupan bangsa. Dan menurut Prof. Yudhie Haryono, dari tesis inilah lahirnya diktum ; jika ingin melanggengkan tanah jajahan, tak usah nengirim semilyar pasukan dan berjuta bom nuklir. Cukup kirim draft perubahan konstitusi, maka negera tersebut akan akan bertekuk lutut seperti keinginan kaum penjajah tersebut.

Kini sudah hampir seperempat abad proses penjajahan Indonesia dalam bentuk yang baru oleh para penjahat dan pengkhianat bangsa dan negara ini. Karena itu pertarungan legalisasi sebagai kelanjutan dari revolusi mental — dan mestinya etika, moral dan akhlak serta nalar yang waras — fukos perjuangan harus terhadap revolusi konstitusi. Atau, reclaim the constitution. Hanya dengan begitu, cita-cita negara dan janji konstitusi yang sesuai dengan ruh dan jiwa proklamasi untuk menjamin keadilan dan kebahagiaan bagi segenap warga bangsa tanpa kecuali.

Tapi juga untuk menerima dan mendukung adanya revolusi konstitusi seperti yang diidealkan oleh Prof. Yudhie Haryono, toh tetap diperlukan landasan etika, moral dan akhlak yang harus menjadi dasar pijak para pelaku yang kompeten dan merasa serta menyadari adanya keharusan untuk melakukan semua itu.

Banten, 18 Desember 2022

*Paparan ini sepenuhnya mengacu pada gagasan Prof. Yudhie Haryono yang ingin adanya  “Revolusi Konstitusi” di negeri ini.*

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Ketika Parpol Merampok Hak Demokrasi

Ketika Parpol Merampok Hak Demokrasi

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00