• Latest
SMAN 3 Banda Aceh Prakarsai Diklat OSIS se-Kota Banda Aceh

Merevolusi Kurikulum Pendidikan Kita

Desember 18, 2022
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Merevolusi Kurikulum Pendidikan Kita

Redaksiby Redaksi
Desember 18, 2022
Reading Time: 2 mins read
SMAN 3 Banda Aceh Prakarsai Diklat OSIS se-Kota Banda Aceh
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

 

Oleh : Yudhie Haryono

 

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Saya ingin mulai dengan pepatah latin, “Mens sana in corpore sano (dalam jiwa yang sehat terdapat tubuh yang kuat).” Jika maknanya diperluas, kita bisa menulis, “di dalam kurikulum yang sehat, terdapat pendidikan yang kuat.” Tetapi bagaimana itu terjadi?

Begini. Per definisi, kurikulum adalah semua hal yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran, termasuk metode mengajar, cara mengevaluasi, program studi, bimbingan dan penyuluhan, supervisi dan administrasi, serta hal-hal struktural-kultural terkait dengan waktu, jumlah ruangan serta kemungkinan memilih mata ajar.

Dengan definisi tersebut, kurikulum menjadi ontologi pendidikan, poros utama dan tulang punggungnya pendidikan. Ia laksana kaki statis: menghasilkan gerak sentripetal (ke dalam) dan sentrifugal (ke luar) sekaligus.

Dalam sejarahnya, kurikulum sering kali diperhadapkan dalam dua kutub biner: sebagai inti dari puritanisme dan sebagai inti dari sekularisme. Sebagai puritanis, artinya situasi sosial (zaman) harus ditundukkan di bawah kendali kurikulum. Sebaliknya, sebagai sekularis, artinya kurikulum berubah-ubah sesuai tuntutan zaman.

Jika pendekatannya via pendidikan Pancasila, maka kurikulum itu laksana meja statis. Apa meja statis kurikulum pendidikan kita? Trimatra: 1) Pendidikan mental-etika; 2) Pendidikan kegeniusan-logika; 3) Pendidikan kebangsaan-nasionalisme. Dus, trimatra menjadi dasar kurikulum yang bersifat statis-substantif. Ketiganya bisa dikatakan sebagai nilai final utama. Lalu, apa kurikulum meja dinamisnya? Tentu saja, meja dinamis merupakan mata pelajaran dalam kurikulum tambahan yang pada intinya merupakan nilai instrumental untuk menggapai nilai final dalam trimatra.

Nah, meja statis ini berfungsi untuk mencetak agensi atau warganegara unggul yang mampu menemukan kebesaran masa lalu demi kehidupan masa kini dan “terjaganya” peradaban masa depan Indonesia Raya. Sedang meja dinamisnya berfungsi untuk mencetak agensi atau warganegara unggul yang mampu mengkreasi hari ini dan hari depan yang lebih baik.

Semua itu adalah ontologi dari kurikulum kita agar cara kita mencetak kerangka warganegara unggul adalah memastikan lahirnya benih insan atlantik, manusia nusantara dan patriot Pancasila.

Dus, jika ontologi pendidikan kewarganegaraan adalah kurikulum, maka epistemnya adalah komunitas dan jaringan-jaringan pendidikan pembebasan. Lalu, aksinya adalah kepastian hadirnya negara Pancasila.

Tapi ingat, menegakkan negara Pancasila itu kerja raksasa. Di dalamnya kita akan menemukan medan pertempuran yang sangat luas mencakup tiga ranah yaitu, 1) Tanah air fisik (penguasaan teritorial); 2) Tanah air formal (undang-undang dan hukum formal); 3) Tanah air mental (nalar dan pola pikir). Di tiga ranah itu kini kita babak belur dan porak-poranda.(*)

ADVERTISEMENT

* Prof Yudhie Haryono, Guru besar Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Direktur Eksekutif Nusantara Center_

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 363x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 322x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
World Cup, Qatar dan Dakwah Ketauldanan

World Cup, Qatar dan Dakwah Ketauldanan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com