• Latest
Menelusuri Pembuatan Garam Tradisional di Kabupaten Pidie

Menelusuri Pembuatan Garam Tradisional di Kabupaten Pidie

November 15, 2022
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Menelusuri Pembuatan Garam Tradisional di Kabupaten Pidie

Redaksiby Redaksi
November 15, 2022
Reading Time: 2 mins read
Menelusuri Pembuatan Garam Tradisional di Kabupaten Pidie
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Renita Zuhra

 

Gampong Cebreik, kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie, dikenal sebagai desa yang mengolah garam dengan cara tradisional. Masyarakat di gampong ini pun hidup dari penghasilan menjual garam.Sekiranya hampir 500-an masyarakat Pidie berprofesi sebagai petani garam yang tersebar di beberapa kecamatan, namun yang terbanyak terdapat di Gampong Blang Paseh, Kecamatan Kota Sigli, dan Peukan Sot, Cebrek, Sukon, Kecamatan Simpang Tiga.  

Petani garam di desa ini hidup dengan penghasilan dari mengolah garam secara tradisional. M. Nazar, salah seorang petani garam di Gampong Cebreik, sudah menjalani profesinya ini selama 5 tahun lebih. M. Nazar menjelaskan ada dua sistem membuat garam secara tradisional, yaitu “Sira adee” atau garam jemur dan “Sira tagun” atau garam masak. Proses pembuatan garam jemur dengan mengambil air laut, kemudian air laut tersebut dicampur dengan pasir laut.

Selanjutnya airnya dijemur di bawah terik matahari sampai mengeras. Namun, proses pembuatan garam jemur ini tidak bisa dibuat saat musim hujan. Garam jemur hanya dibuat pada saat musim kemarau saja.

“Banyak petani garam yang tidak membuat garam saat musim hujan seperti ini, karena tidak bisa menjemur air asin, sehingga garam sangat langka dan harganya melonjak naik” ujar M. Nazar, petani garam.

Pada saat musim penghujan, M. Nazar hanya membuat garam masak. Proses pembuatan garam masak ini dengan cara air laut dimasak dengan bibit yang dikirim langsung dari luar negeri. M. Nazar menyebutnya bibit Australia. “ Proses memasaknya hanya membutuhkan waktu selama 6 jam sampai airnya habis dan garamnya mengeras selanjutnya ditiriskan selama dua hari dan garam siap dikirimkan ke luar daerah” ungkap M. Nazar Senin (14/11/22).

Garam masak ini biasa dikirimkan ke Matang, Aceh Utara, Banda Aceh, dan Sabang. Garam masak dijual dengan harga Rp 6000/kg harga ini mengalami kenaikan karena musim hujan, dari harga sebelumnya Rp 4000/kg. Dalam sehari M. Nazar mampu memproduksi garam masak 50 kg dengan dua kali produksi.

Baca Juga

IMG_0532

Minimarket Koperasi Desa, Bukan Minimarket Biasa

Maret 29, 2026
Transisi energi dan kendaraan listrik di Indonesia

Transisi Energi Kendaraan Listrik

Maret 27, 2026

Iran dan Aceh: Pelajaran Kemandirian dan Visi Kolektif Masa Depan

Maret 16, 2026

Namun, proses pembuatan garam masak ini lebih banyak mengeluarkan modal karena harus membeli kayu bakar dan bibit yang mahal dan sulit diperoleh. Oleh karena itu, banyak petani garam yang tidak membuat garam pada saat musim penghujan. Petani garam pun merasa kesulitan masalah keuangan rumah tangga pada saat musim penghujan seperti ini. 

M. Nazar berharap agar pemerintah tidak lagi memasok garam dari luar seperti garam dari Medan. Agar petani garam di desa ini sejahtera. Karena pembuatan garam tradisional ini termasuk salah satu potensi desa yang harus dijaga

 

Renita Zuhra, saat ini tercatat sebagai mahasiswi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Tulisan diatas untuk memenuhi tugas akhir penulisan featureprodi Komunikasi dan Penyiaran Islam.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Penyandang Disabilitas di Banda Aceh Terima Alat Bantu Jalan

Penyandang Disabilitas di Banda Aceh Terima Alat Bantu Jalan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com