POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Penerapan Disiplin Positif Melalui Segitiga Restitusi di Sekolah

RedaksiOleh Redaksi
October 26, 2022
Penerapan Disiplin Positif Melalui Segitiga Restitusi di Sekolah
🔊

Dengarkan Artikel

 

Oleh : Harmon Tanjung SPd
Guru di SMA Negeri 1 Simpang Kanan, Kabupaten Aceh Singkil

DiSIPLIN adalah perilaku dan tata tertib yang sesuai dengan peraturan dan ketetapan, atau perilaku yang diperoleh dari pelatihan yang dilakukan secara terus menerus (Thomas Gordon, 1996:3).

Kita ketahui selama ini disiplin identik dengan kepatuhan. Dalam lingkungan sekolah, siswa dikatakan disiplin jika patuh terhadap aturan sekolah, patuh terhadap aturan kelas.

Nah, apa yang terjadi jika kepatuhan ini dilanggar? Hukuman adalah solusi ampuh. Apakah benar demikian?

Pernyataan William Glasser dalam teorinya, kiranya perlu kita cermati mendalam. Satu-satunya orang yang memiliki kontrol penuh terhadap dirinya adalah individu itu sendiri.

Hukuman merupakan kontrol eksternal yang hanya akan membuat si pelanggar suatu aturan merasa bersalah bahkan malu kembali bergabung dengan komunitasnya.

Siswa yang dihukum berdiri di depan kelas dengan mengangkat satu kaki, tangan dalam posisi silang memegang telinga adalah salah satu contoh hukuman, misalnya bagi siswa yang melanggar aturan kelas.

Dalam hal ini siswa tersebut mungkin saja akan takut mengulangi kesalahan serupa, tetapi Ia malu kepada kawan-kawannya dan bukan tidak mungkin akan menjadi bahan olokan sesama yang membuat si pelaku menjadi semakin malu. Dampak terburuk adalah Ia menaruh rasa dendam kepada sang Guru.

Di sini diperlukan suatu kesadaran dari dalam diri siswa itu sendiri, yang sering kita dengar sebagai motivasi internal. Ini adalah cikal bakal dalam penerapan disiplin positif di sekolah.

Motivasi internal dari dalam diri siswa mampu membuatnya menggali kekuatan dan potensinya dalam meraih tujuan yang bermakna.

Guru sebagai pemimpin pembelajaran sangat dituntut perannya dalam mewujudkan disiplin positif.

Dr. William Glasser dalam bukunya, Restitution-Restructuring School Discipline (1998) berkesimpulan ada 5 posisi kontrol yang diterapkan seorang guru, orang tua ataupun atasan dalam melakukan kontrol.

Kelima posisi kontrol tersebut adalah penghukum, pembuat rasa bersalah, teman, pemantau dan manajer.

📚 Artikel Terkait

Catatan Perjalanan Relawan ke Beutong Ateuh

Bilik-Bilik Suara Kita Bicara

Mengabdi Sepenuh Hati di Dunia Literasi

FEB USK Kirim Dua Dosen dan Lima Mahasiswa Ikut ICDC APDMI di UNAND Padang

1) Penghukum, seorang penghukum bisa menggunakan hukuman fisik maupun verbal. Orang-orang yang menjalankan posisi penghukum, senantiasa mengatakan bahwa sekolah memerlukan sistem atau alat yang dapat lebih menekan murid-murid lebih dalam lagi.

2) Pembuat merasa bersalah, pada posisi ini biasanya guru akan bersuara lebih lembut. Pembuat rasa bersalah akan menggunakan keheningan yang membuat orang lain merasa tidak nyaman, bersalah, atau rendah diri.

3) Teman, guru pada posisi ini tidak akan menyakiti murid, namun akan tetap berupaya mengontrol murid melalui persuasi.

4) Pemantau, memantau berarti mengawasi. Pada saat kita mengawasi, kita bertanggung jawab atas perilaku orang-orang yang kita awasi. Posisi pemantau berdasarkan pada peraturan-peraturan dan konsekuensi. Dengan menggunakan sanksi/konsekuensi, kita dapat memisahkan hubungan pribadi kita dengan murid, sebagai seseorang yang menjalankan posisi pemantau.

5) Posisi terakhir, manajer, adalah posisi di mana guru berbuat sesuatu bersama dengan murid, mempersilakan murid mempertanggungjawabkan perilakunya, mendukung murid agar dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri.
Kemudian apa indikator disiplin positif itu telah terjadi? Keyakinan kelas adalah kuncinya.

Kesepakatan terhadap nilai kebaikan di dalam kelas inilah yang membentuk keyakinan kelas. Seluruh warga kelas menyepakati hal ini, siswa merasa dilibatkan dalam pembentukan keyakinan.

Namun apakah dijamin tidak akan ada pelanggaran lagi? Segitiga restitusi adalah jawabannya.

Segitiga restitusi merupakan sebuah strategi yang dapat dilakukan sebagai proses menciptakan kondisi menuntun murid untuk memperbaiki kesalan-kesalahan yang mereka lakukan. Dengan penerapan segitiga restitusi murid diharapkan bisa kembali ke kelompok mereka dan telah memiliki karakter yang kuat dan memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan.

Penerapan segitiga restitusi ini diharapkan mampu meningkatkan motivasi internal siswa untuk hidup lebih baik tanpa ada rasa takut akan hukuman ataupun bukan karena iming imbalan.

Siswa yang bersalah tidak terkucilkan, tidak membuat mereka takut kembali pada kelompoknya, tidak menaruh dendam pribadi kepada teman ataupun bahkan Guru mereka.

Ada tiga langkah dalam penerapan segitiga restitusi yaitu menstabilkan identitas, memvalidasi tindakan yang salah dan menanyakan keyakinan.

Langkah pertama, menstabilkan identitas. Dalam hal ini, jika siswa berbuat salah tentunya ada kebutuhan dasar mereka yang belum terpenuhi.

Pada langkah ini beberapa kalimat penstabilan identitas itu seperti, tidak ada manusia yang sempurna.

“Sayapun pernah melakukan hal yang sama.” Kamu berhak merasakan itu dan lain sebagainya.

Langkah kedua, yaitu memvalidasi tindakan yang salah. Para guru yang telah menerapkan strategi ini mengatakan bahwa anak-anak yang tadinya tidak terjangkau, menjadi lebih terbuka pada mereka.

Pada langkah ini kalimat yang bisa diungkapkan adalah, kamu pasti punya alasan kenapa melakukan ini. Kamu patut bangga pada dirimu sendiri karena kamu telah melindungi sesuatu yang penting buatmu. Kamu boleh mempertahankan sikap itu, tapi kamu harus menambahkan sikap yang baru.

Langkah ketiga, menanyakan keyakinan. Teori kontrol menyatakan bahwa kita pada dasarnya termotivasi secara internal. Oleh karena itu Guru harus menggali kembali keyakinan yang telah disepakati bersama sebagai bahan refleksi.

Biasanya kalimat yang dapat dipakai adalah, apakah menurutmu ini sesuai dengan apa yang telah kita sepakati? harusnya bagaimana? bayanganmu tindakan yang baik seperti apa.(*)

harmon.tjg@gmail.com

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 69x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Siswa SMAN 3 Banda Aceh Raih Juara Satu Lomba Duta Pelajar Sadar Hukum,

Siswa SMAN 3 Banda Aceh Raih Juara Satu Lomba Duta Pelajar Sadar Hukum,

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00