POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

RONA POLITIK DAN DEMOKRASI KITA

RedaksiOleh Redaksi
July 8, 2022
🔊

Dengarkan Artikel

 

Oleh Zulkifly Abdy

Dalam kehidupan yang serba gamang akan nilai-nilai, setiap upaya penempatan diri untuk menemukan posisi yang ideal menjadi dilematis. Manakala orang bicara tentang politik, sementara politik itu sendiri tanpa kita sadari sedang terbelah.

Sehingga ketika politik diperbincangkan, maka para pihak yang terlibat dalam percakapan cenderung terjebak dalam nuansa keterbelahan itu.

Demikian pula ketika seseorang bicara tentang agama, selalu saja ada sekat yang akhirnya membatasi. Setidaknya tentang rujukan sebagai dasar dalam menjalani keyakinan, hal mana bisa saja berpuncah dari referensi yang digunakan atau bahkan mazhab yang dijadikan sebagai pilihan.

Padahal dalam pemahaman universal, semuanya mengajarkan kita tentang kebenaran, kebajikan bahkan nilai-nilai transedental sebagai anutan dan tujuan hidup atau way of life. Tinggal lagi bagaimana setiap orang mengasah ketajaman nalurinya untuk dapat dengan cerdas dan arif menemukan sendiri tempat yang ideal bagi dirinya sebagai pijakan, tanpa kehilangan sentuhan dan kepekaan akan nilai-nilai kebenaran yang hakiki.

Melalui tulisan ini penulis hanya ingin mencairkan kekakuan kita akan prinsip-prinsip dasar ketika kita hendak meleburkan diri dalam kehidupan bermasyarakat yang agamis dan serba politis yang menggejala akhir-akhir ini, termasuk di dalamnya ketika kita hendak mengekspresikan kebenaran itu sendiri.

Di ranah politik, kita sehari-hari menyaksikan secara masif atraksi-atraksi yang terkadang justru menjauhkan kita dari nilai-nilai demokrasi yang sepatutnya menjadi rujukan dan landasan bertindak.

Tak jarang di dalam dinamika politik kita menyaksikan, manakala ada seseorang atau kelompok yang konsisten menggaungkan kebenaran atau setidaknya menyuarakan pesan-pesan moral, akan selalu menghadapi tantangan.

Ironinya penyampai kebenaran itu kian hari semakin sedikit, dan yang sedikit itupun kerap-kali dalam posisi yang terjepit.

Dalam kondisi seperti itu tidak mengherankan jika pesan-pesan kebenaran akan tenggelam ketika berhadapan dengan hiruk-pikuk orang-orang yang masih gamang untuk menerima kebenaran sebagai jalan hidup, termasuk jalan kehidupan berpolitik.

Hal mana lebih disebabkan karena masih adanya anggapan bahwa kebenaran akan menjadi penghalang untuk melanggengkan kepentingan-kepentingan jangka pendek.

Sehingga tak hayal pesan-pesan kebenaran yang hendak dihadirkan di ruang publik cenderung menjadi sia-sia.

📚 Artikel Terkait

Bridging Civilizations: My Academic Journey from Aceh to IIUM

Pemko Banda Aceh Imbau Masyarakat untuk Jaga Keindahan Kota

Peroleh TTE Izin Kesehatan DPM-PTSP Kota Banda Aceh Tanpa Harus ke Kantor

Hujan

Laksana meneteskan segenggam gula ke dalam air di cawan yang besar, tidak memberi efek sama sekali, selain hanya sekedar untuk menghambarkan belaka.

Tak dapat dipungkiri, akibatnya ketika kita menjalankan demokrasi, yang berdaulat justru kekuasaan dengan segala kepentingannya, bukannya rakyat sebagaimana yang kita pahami dan pelajari melalui “kitab-kitab” klasik tentang demokrasi.

Kita seakan-akan berpura-pura saja berdemokrasi, sesungguhnya muatan yang ada di dalamnya jauh dari harapan demokrasi itu sendiri, bahkan kian hari semakin jauh, dan jauh sekali.

Suatu ketika dalam obrolan ringan, seorang sahabat saya mengatakan; “seseorang kalau ada kepentingan bisa hilang cerdasnya”.

Saya jadi teringat kembali ungkapan spontan dari seorang sahabat itu, mungkin ada benarnya apa yang dia katakan.

Bahkan dalam kenyataannya kepentingan bukan hanya sekedar menggerus kecerdasan seseorang, bahkan lebih jauh lagi dapat mengaburkan rasionalitas dan cenderung membutakan hati akan nilai-nilai kebenaran.

Era reformasi cenderung telah membawa kita pada iklim demokrasi yang lebih bebas dan terbuka.

Namun ironinya waham politik yang kita miliki agaknya belum sanggup menerima perubahan-perubahan fundamental yang datang tiba-tiba.

Sehingga setelah lebih dari dua dasawarsa reformasi bergulir, tidak ada perubahan signifikan yang terjadi, kecuali hanya iklim yang lebih bebas dan terbuka itu, yang akhirnya justru membawa kita pada ketidak-teraturan dalam menjalankan demokrasi. Dan itulah agaknya yang sedang terjadi saat ini.

Inikah yang kita harapkan dari reformasi yang kita sambut dengan gegap-gempita itu, tentu tidak.

Bukankah gagasan tentang reformasi itu lahir dan terdorong oleh keinginan tokoh-tokoh yang memiliki concern untuk membebaskan bangsa ini dari kebuntuan-kebuntuan demokrasi dimasa lampau.

Hal mana dipandang sebagai salah-satu penghambat dari setiap ikhtiar dalam upaya kita untuk memajuan kehidupan berbangsa di dalam segala aspek.

Mungkin untuk sementara kita lupakan dulu semua itu, agaknya yang jauh lebih penting saat ini adalah bagaimana upaya kita untuk mengembalikan demokrasi kita kepada jalur yang benar.

Dan dengan demikian kita dapat menggantungkan secercah harapan bahwa bangsa ini benar-benar akan membawa kita rakyatnya pada terwujudnya cita-cita luhur, yaitu masyarakat yang adil, makmur, sejahtera dan bermartabat.

Jika kita benar-benar ingin maju, kita mesti berani dan ikhlas meninggalkan pola-pola lama yang telah terbukti tidak mampu membawa kita keluar dari dilema sebagai bangsa yang tertinggal.

Agaknya sekaranglah momen yang tepat untuk memastikan bahwa kita benar-benar telah berada pada jalan yang benar untuk memastikan pula kebangkitan dan kemajuan bangsa Indonesia yang memiliki sumberdaya yang sangat kaya ini.

Ini bukan hanya sekadar tentang bait-bait dari senandung lagu “it’s now or never”, tetapi kita mesti meniscayakan setiap momen-momen dari kehidupan berbangsa kita untuk berubah, atau kita akan tertinggal untuk selamanya.

Satu teka-teki yang mesti segera kita jawab adalah, mengapa bangsa yang kaya-raya ini tak jua menemukan momen untuk maju?, sementara kita memiliki segalanya untuk itu.

Wallahu a’lamu bisshawab.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Senerai Puisi Religi Mohd Adid Ab Rahman

OH…BETAPA MAHALNYA PENGORBANANMU

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00