POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

RANGKING KELAS ITU PRESTISE BUKAN PRESTASI

Prestasi bagi kita bisa berbeda-beda, tidak mesti anak harus juara lalu disebut berprestasi

RedaksiOleh Redaksi
February 13, 2022
RANGKING KELAS ITU PRESTISE BUKAN PRESTASI
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Khairuddin Budiman

Kepala SMA Negeri 1 Nurusalam, Aceh Timur

Persoalan perangkingan siswa di sekolah ternyata isu yang sangat melekat dan nyaris tidak habis. Bukan sekali dua kali saya menulis betapa dampak negatif perangkingan bagi psikologi anak-anak di suatu lembaga pendidikan. Berkali-kali juga saya sisipkan diskusi ini saat saya mengisi kegiatan di beberapa sekolah. Sengaja memang saya angkat masalah ini ,meski saya sebenarnya mengisi kegiatan tentang evaluasi digital atau materi IT lainnya di luar konteks kurikulum. Dua hal yang masih menjadi kebiasaan buruk dalam pembelajaran di sekolah, meski sebenarnya tidak diperkenankan lagi oleh kurikulum, yaitu perangkingan siswa setiap semester dan remedial setelah ujian semester. Bukan hanya di SD, banyak sekolah SMP sampai SMA masih memaksa kedua hal tersebut.

Tidak akan lelah saya sampaikan ini, termasuk saat saya diundang rapat sekolah sekalipun. Meski K13 jelang berakhir dalam masa transisi menuju Kurikulum Merdeka, persoalan perangkingan tetap harus kita luruskan terlebih di saat menuju kurikulum baru. Beberapa sekolah beralasan rangking harus dilabeli karena orangtua menanyakan anaknya rangking berapa. Loh kenapa sekolah harus mengabaikan spirit kurikulum untuk mengakomodasi kemauan orangtua?  Ini beneran tidak merdeka. Sekolah harusnya menjadi lembaga edukasi yang mencerdaskan masyarakat, tidak perlu membenarkan kebiasaan, justru harus membiasakan yang benar.

Jika saja kita mau jeli, tidak ada kolom perangkingan dalam raport K13, namun tidak kurang banyak guru memaksa kehendak, kolom keterangan diisi perangkingan. Itu pun diisi dengan rangking 10 besar. Lalu apakah sekolah sudah menggeser fungsinya, sebagai lembaga yang mengadakan kompetisi bukan lembaga yang mengakomodasi edukasi minat dan bakat bagi seluruh anak. Jika sekolah berbangga dengan prestasi anak 10 besar, lalu bagaimana anak-anak yang tersisa tanpa label, dianggap apa ? Bukankah mereka juga produk pendidikan sekolah tersebut?

Dalam sebuah kesempatan di hadapan wali murid, saya pernah sampaikan tentang prestasi anak. Seorang wali murid meminta sekolah merayakan pembagian raport agar anak-anak berprestasi atau yang mendapat rangking terapresiasi. Pernah tidak kita berpikir bahwa jika itu dilaksanakan hanya menyenangkan sebagian kecil anak-anak dan orangtua, namun melukai banyak anak lain yang tidak memperoleh rangking? Sungguh eforia yang jahat. Saya menentang rangking pada raport anak saya, bukan hal yang baik bahkan jika dia memperoleh rangking.

📚 Artikel Terkait

SPGN Tapaktuan Gelar Temu Alumni di Blangpidie

Hari Kehadiran

WALHI: BPMA dan DLHK Aceh Jangan Jadi Humas Medco

Puisi-Puisi S. Sigit Prasojo

Kurikulum kita sekarang K13 itu sangat baik menjaga minat dan bakat siswa serta menjaga kualitas psikologi anak-anak. Anak-anak tidak dilombakan dengan anak-anak lain. Sekolah bukanlah lembaga kompetisi, namun lembaga yang memberi penghargaan atas setiap bakat dan minat siswa, lembaga yg punya kewajiban yang sama mengedukasi setiap anak.

Bayangkan dengan sistem perangkingan, banyak orang tua yang bertanya anaknya rangking berapa, lalu dibandingkan dengan anak lain, tanpa membandingkan dengan pencapaian anaknya sendiri. Orangtua relatif tidak peduli perkembangan anaknya, justru kerap membandingkan kenapa anaknya lebih rendah dari temannya, atau bagaimana anaknya tersebut bisa mempertahankan rangkingnya. Bukankah ketika mempertahankan rangking, konsideran orangtua juga anak yang lain, bukan perkembangan atau peningkatan anaknya sendiri.

Anak yang dapat rangking saja begitu. Bayangkan betapa jatuh dan mindernya anak dan orangtua yang tidak dapat rangking. Saat anak minder, anak seolah tidak mendapat ruang, sudah orangtuanya tidak mampu, sekolah membuatnya tidak nyaman. Di rumah dia berkonflik dengan orangtua, di sekolah dia menghadapi teman-teman yang pintar, namun tidak mampu membuat dia cerdas.

Suatu kali saya seperti berkampanye di hadapan para orangtua siswa. Sy sampaikan “jangan pernah memaksakan anak anda rangking satu”. Setiap anak punya masa perkembangan. Tugas orangtua mengembangkan minat dan bakat dilakukan melalui sekolah. Itulah sebabnya kita percaya pada sekolah. Sementara tugas kita sebagai orangtua berdoa saja dan memberi ruang anak kita berkembang dengan pengetahuannya di rumah. Fasilitasi anak-anak kita untuk terus belajar. Rangking tidak perlu, karenanya pemerintah melalui Mendikbud tidak lagi memperkenankan sekolah menerapkan perangkingan di sekolah.

Prestasi bagi kita bisa berbeda-beda, tidak mesti anak harus juara lalu disebut berprestasi. Anak mau bangun tidur lebih pagi, bersiap dengan semangat untuk ke sekolah, itu juga prestasi.

Semoga tulisan ini menggerakkan kita sebagai pengelola pendidikan agar tidak menghancurkan semangat sekolah anak-anak karena perangkingan. Hapus perangkingan di sekolah, karena kurikulum pun tidak mengakomodir itu. Titik.

Matangkuli, 13 Feb 2022

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
GILA BAYANGAN

GILA BAYANGAN

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00