• Latest

Seni, Muda, Budaya dan Nasionalisme

November 28, 2021
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Seni, Muda, Budaya dan Nasionalisme

Redaksiby Redaksi
November 28, 2021
Reading Time: 7 mins read
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

 

Oleh Hafidh Mulyansyah Putra

Berdomisili di Bandung, Jawa Barat

 

 

Nasionalisme itu apa sih? Saya bertanya pada diri sendiri ini. Saya paham betul bahwa nasionalisme dibentuk dari 2 gabungan kata, nasional dan isme. Nasional berarti bangsa sendiri dan isme menunjukkan sifat atau karakter, jadi nasionalisme berarti sifat kebangsaan. Definisi simpel itu selalu menjadi isu hangat di bawah langit-langit Indonesia hingga sekarang. Namun apakah kita sadar bahwa apresiasi terhadap penganut sifat kebangsaan ini masih saja kurang dihargai? Terutama pada pelaku seni, lebih spesifik lagi pada pelaku seni muda tradisional, yang saya sebut the real hero saat ini. Oke, sebaiknya kita awali dengan menerawang tentang seni tradisional itu sendiri. Siapa itu pelaku seni muda tradisional? Apa sih peran pentingnya? Seberapa pentingnya dalam menumbuhkan sifat kebangsaan ini? 

 

Seni dan budaya, dua kata yang berbeda arti, saling berkaitan, sehingga terkadang disamaartikan. Menurut saya, seni itu variabel x, dan budaya menjadi variabel y. Seni berpengaruh terhadap budaya, seni merupakan bagian integral dari budaya, dan seni menghasilkan suatu budaya. Lihatlah kesenian Aceh dengan tari samannya. Penari yang hanya terdiri dari perempuan berhijab, namun gerakannya tegas. Ini memunculkan suatu nilai budaya yang dapat dipahami bahwa perempuan Aceh itu tegas, bukan kulas, namun tetap menjaga kehormatannya sebagai perempuan. Dengarlah suara merdu sinden jawa. Sinden yang menyanyi dengan lembut tidak terkira mengartikan bahwa perempuan Jawa itu halus tutur katanya dan lembut tindak lakunya. Mari kita lihat contoh lainnya, reog ponorogo. Singa besar itu berwajah garang dan mengibas-ngibas sayap muka bulu meraknya dengan gagah, yang memunculkan nilai tuntunan melalui empat makna simbolis, amarah, muthma’inah, alwamah dan sufiyah. Simpul nyata dari tiga contoh di atas adalah bahwa seni memunculkan nilai-nilai kearifan lokal yang biasa kita sebut budaya. Namun jika kita berpikir lebih jauh lagi, ternyata seni tradisional tidak sekedar menggambarkan budaya kedaerahan, namun juga semangat nasionalisme. Lihat saja ketika salah satu kesenian Indonesia dicuri negara lain, kemarahan bukan saja muncul dari masyarakat lokal yang dicuri keseniannya, tapi justru dari seluruh masyarakat di penjuru Indonesia yang terdiri dari ratusan masyarakat lokal dengan budaya khasnya masing-masing. Bukan pencurian yang memunculkan semangat nasionalisme, namun lebih dari itu, kesenian daerah menjadi penyatu masyarakat Indonesia. 

 

Oke, faktanya adalah anak muda Indonesia saat ini sudah tergerus nilai nasionalismenya. Nilai-nilai kearifan lokal mulai tidak tampak lagi. Mereka buta akan budaya, bahkan tidak mengenal kesenian daerah mereka sendiri lagi. Mungkin ada beberapa yang tahu, tapi belum paham. Ada beberapa yang paham, tapi belum melaksanakan nilai yang terkandung didalamnya. Ketika budaya di satu generasi hilang tanpa ada generasi berikutnya yang melanjutkan, maka jati diri tidak lagi menjadi hal yang berharga. Indonesia bisa saja kehilangan jati dirinya, budayanya, tapi saya tahu ini bukanlah sesuatu yang kita inginkan. 

 

Pepatah mengatakan, “jika kamu ingin merubah seseorang, ubahlah dari yang terdekat dengannya”. Ketika ingin menanamkan kembali nilai-nilai kearifan lokal melalui seni tradisional kepada anak muda Indonesia, maka gunakanlah anak muda Indonesia lain sebagai agent of change, yaitu pelaku seni muda tradisional. Mereka memiliki usia yang sama, semangat yang sama, namun pola pikir yang sedikit berbeda. Yang perlu dilakukan adalah pencerdasan dari dan untuk mereka. Pelaku seni muda tradisional ini ada di sekitar kita, mahasiswa, terutama yang tergabung dalam unit-unit kesenian tradisional di kampus masing-masing. Tidak hanya itu, mereka pun ada di jalanan, berperan sebagai pengamen seni. Atau yang tergabung dalam komunitas-komunitas seni budaya anak muda, seperti rumah angklung, kuaetnika, dan komunitas lainnya. 

 

Baca Juga

76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
5de97004-0731-46d3-b7a2-38575dadc077

Serangkai Puisi Putri Nanda Roswati

Maret 28, 2026
WhatsApp Image 2026-03-27 at 8.47.12 AM

Puisi-Puisi Nusantara Novita Sari Yahya

Maret 27, 2026

Dengan peran pelaku seni muda tradisional, saya yakin lambat laun trend cinta budaya sendiri akan berkembang lagi di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Fenomena ini sudah saya rasakan sendiri. Unit kesenian yang saya ikuti semakin banyak saja anggotanya. Banyak event-event kampus yang menawarkan penampilan untuk unit seni. Evaluasi akan perkembangan seni terus dilakukan. Bayangkan jika setiap kampus di Indonesia memiliki unit seni yang secara serius mempertahankan eksistensi budayanya, tentu nasionalisme bukan sebuah kata yang langka lagi, karena peran anak muda yang dominan. 

 

Meskipun demikian, tak bisa dipungkiri bahwa menjadi pelaku seni muda tradisional bukanlah hal mudah. Mereka yang ingin melestarikan tari tradisional masih saja dibayangi stigma mendayu-dayu oleh anak muda lain. Mereka yang ingin melestarikan sinden jawa masih saja dibayangi cap kekolotan oleh muda lainnya lagi. Pencerdasan yang dilakukan masih belum cukup mencabut pandangan-pandangan picik tersebut. Masih ada yang memandang sebelah mata, hingga akhirnya apresiasi yang dihasilkan sungguh rendah. Bahkan beberapa orang menilai bahwa pelaku seni muda tradisional di kampus itu tidak lebih dari sekumpulan orang-orang yang anti sosial alias ansos. 

ADVERTISEMENT

 

Bukankah untuk berdiri di puncak gunung, kita harus mendakinya terlebih dulu? Bukankah untuk menemukan karang yang indah, kita harus menyelam dan menahan napas sejenak? Dan untuk menumbuhkan nasionalisme melalui kesenian tradisional, bukankah pelaku seni muda tradisional harus mendaki tapak semangat dan menyelami arus konsistensi hingga akhirnya apresiasi datang sejalan dengan semangat nasionalisme yang muncul. Pelaku seni muda tradisional merupakan salah satu dari sekian anak muda yang menebang gulma oportunisme, menumbuhkan pucuk nasionalisme, melalui pelestarian kesenian trasional. Dari paham di atas, saya memutuskan untuk memilih pelaku seni muda tradisional sebagai the real hero Indonesia saat ini.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

PGRI Pulau Banyak Barat Gelar Baksos di Sekolah Terpencil

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com